Wabah COVID-19 atau yang lebih eksis di kalangan masyarakat dengan virus corona sudah ditetapkan oleh WHO (World Health Organization) sebagai pandemi global. Virus yang awalnya hanya mewabah di Wuhan, China ini kini sudah menyebar hampir ke seluruh antero dunia. Mewabahnya virus ini pun menuntut seluruh manusia yang berada di daerah terdampak untuk melakukan isolasi atau karantina diri dan mengurangi bahkan menjauhi kegiatan-kegiatan yang bersifat berkumpul atau berinteraksi dengan orang banyak. Hal ini diberlakukan sebagai upaya pencegahan rantai penularan virus COVID-19 yang dimana penularannya sangatlah cepat, hanya dengan berinteraksi langsung dengan orang lain.

Tidak hanya mengganggu kegiatan atau aktifitas harian manusia, namun pandemi COVID-19 ini juga berdampak pada hal-hal yang bersifat keagamaan atau peribadahan. Salah satu peribadahan yang kemungkinan akan terganggu dengan adanya pandemi COVID-19 ini adalah ibadah Haji yang mana apabila pandemi ini belum berakhir sampai musim Haji tiba, maka bisa jadi bahwa ibadah Haji akan ditiadakan pada tahun ini. Hal ini pun sudah disampaikan oleh Menteri Urusan Haji dan Umrah Kerajaan Arab Saudi, Muhammad Saleh bin Taher Benten yang meminta beberapa negara untuk menunda terlebih dahulu kontrak ibadah haji pada tahun ini.

Walaupun belum ada keputusan final yang dikeluarkan oleh Kerajaan Arab Saudi mengenai rencana pelaksanaan ibadah Haji ditengah pandemi ini sendiri, namun jika melihat kondisi saat ini sepertinya masih sangat tidak mungkin untuk dilaksanakannya ibadah Haji. Dimana masih banyak negara yang masih berjuang melawan pandemi ini, angka kematian yang masih tinggi dan masih belum adanya tanda-tanda bahwa pandemi ini akan berakhir dalam waktu dekat, maka apabila tetap memaksakan pelaksanaan ibadah Haji akan membawa dampak buruk bagi negara pengirim jamaah begitupun dengan negara Arab Saudi sebagai negara tujuan jamaah.

Dengan adanya isu ini, sudah pasti Indonesia sangat berkepentingan terhadap isu ini. Bagaimana tidak, setiap tahunnya Indonesia adalah negara dengan pengirim jamaah Haji terbesar di dunia. Apapun keputusan dari pihak Arab Saudi nantinya, akan menjadi dilema besar bagi pemerintah Indonesia. Pemerintah harus memikirkan keselamatan jamaah yang banyak, tenaga kesehatan yang nantinya bertugas juga dipertaruhkan keselamatannya, juga apabila ditiadakan maka antrian jamaah Haji di Indonesia sudah pasti akan semakin mengulur dan akan mengecewakan banyak jamaah yang sudah menunggu bertahun-tahun, terutama calon jamaah yang sudah lanjut usia.

Baca juga:  Resensi Film: 3 Alif-Lam-Mim

Namun apabila nantinya tetap dilakasanakan ditengah pandemi, maka persiapan pun juga harus dilakukan seperti manasik, pengumpulan berkas-berkas jamaah yang pastinya akan mengumpulkan banyak orang dalam satu tempat tertentu yang tentunya akan menjadi potensi penyebaran virus yang masiv. Hal ini sudah bertentangan dengan kebijakan pemerintah yang sedang meminta masyarakat untuk melakukan social distancing/physical distancing. Oleh sebab itu kegiatan ataupun persiapan-persiapan seperti ini pastinya akan kontra produktif dengan  kebijakan pemerintah tentang penanganan pandemi COVID-19 ini.

Kekhawatiran itu saja baru mencapai skala nasional, lalu bagaimana apabila akhirnya nanti keputusannya adalah ibadah Haji tetap dilaksanakan ditengah pandemi? Akan menjadi pertaruhan besar bagi Kerajaan Saudi apabila akhirnya memutuskan untuk tetap melangsungkan ibadah Haji apabila pandemi ini belum berakhir. Akan ada sekitar 1,5 juta lebih orang yang akan berkumpul jadi satu di satu tempat, yang berasal dari berbagai negara, yang juga belum pasti juga orang-orang ini steril dari virus.

Hal ini akan menjadi momen yang sangat kondusif bagi si virus untuk bisa menjalar ke tubuh manusia akibat bersinggungannya para jamaah ini di satu tempat dengan jumlah massa yang sangat banyak. Karena hampir tidak mungkin apabila pemberlakuan physical distancing dikerahkan pada pelaksanaan ibadah Haji. Sangat susah apabila memberlakukan social distancing pada saat melakukan thawaf ataupun pada saat wukuf di padang Arafah.

Sebenarnya pun, penundaan atau peniadaan ibadah Haji itu sendiri juga sudah pernah beberapa kali terjadi mulai dari akibat adanya wabah sampai karena adanya peperangan. Tercatat dalam data dari The Saudi King Abdul Aziz Foundation for Research and Archives bahwa penundaan atau peniadaan ibadah Haji sudah terjadi 40 kali. Diantaranya adalah karena wabah Thaun pada 1814, wabah India pada 1831, wabah kolera direntan 1846-1892 yang membuat penduduk Arab mengungsi ke Mesir dan membuat karantina disana. Terakhir kali ditiadakan adalah pada tahun 1987 pada saat mewabahnya virus meningitis yang terjadi menjelang pelaksanaan ibadah Haji yang melanda Arab Saudi. Cepatnya penyebaran virus membuat 10 ribu calon jamaah yang sudah tiba terinfeksi.

Baca juga:  Hidup Mungkin Membosankan Tapi Yasudahlah

Mengaca dari beberapa pembatalan pelaksanaan ibadah Haji karena wabah penyakit, maka bukan barang yang mustahil bagi Kerajaan Arab Saudi untuk mengambil kebijakan untuk meniadakan ibadah Haji pada tahun ini melihat kondisi darurat akibat COVID-19 yang tengah mewabah di sebagian besar negara di dunia ini. Penularan virus yang cepat apabila ada kerumunan massa dalam skala yang sangat besar bisa menjadi acuan kuat untuk meniadakan ibadah Haji tahun ini.

Kebijakan serta kebijaksanaan Raja Salman sebagai pimpinan tertinggi kerajaan Arab Saudi dan sekaligus sebagai penjaga dua kota suci umat Islam yakni Makkah dan Madinah yang sangat dihormati seluruh umat Islam di antero dunia ini tengah sangat dinantikan dan akan menentukan. Harapannya sudah pasti mengambil kebijakan yang akan menyelamatkan nyawa orang banyak dari berbagai negara ketimbang pertimbangan-pertimbangan yang lain. Keselamatan orang banyak harus lebih ditinggikan dibanding apapun.

Memang akan menjadi keputusan yang sulit bagi Kerajaan Arab Saudi mengingat devisa dari penyelenggaraan ibadah Haji ini tidak sedikit. Ada kurang lebih 8,5 miliar dolar atau sekitar 100 triliun pendapatan yang didapat Arab Saudi dari pelaksanaan ibadah Haji itu sendiri. Maka apabila Haji pada tahun ini ditiadakan, sudah barang pasti Arab Saudi akan kehilangan salah satu devisa terbesarnya. Namun sekali lagi, kemanusiaan harus lebih ditinggikan daripada segalanya, termasuk masalah pendapatan negara.

Maka dari itu, dengan berbagai faktra yang ada dan juga dari berbagai pengalaman peniadaan ibadah Haji akibat kasus-kasus dunia yang mengancam keselamatan orang banyak, maka besar harapan kepada pimpinan tertinggi Kerajaan Arab Saudi untuk meniadakan ibadah Haji tahun ini terlebih dahulu dan menunggu sampai pandemi global ini benar-benar berakhir. Tidak ada yang menginginkan ibadah yang harusnya menjadi momen yang sakral malah menjadi bencana karena bisa menjadi akses penularan virus yang masiv. 

Akhir kata, apapun nanti hasil dari keputusan dari pemerintahan Arab Saudi kita harus berlapang dada menerimanya, sembari kita terus mengusahakan untuk memutus rantai persebaran virus ini dan berharap supaya pandemi ini bisa segera berakhir dan kehidupan berjalan normal kembali seperti sedia kala.

Komentar