Al-Azhar Asy-Syarif merupakan salah satu lembaga pendidikan tetua didunia yang sangat diuntungkan dengan letak geografisnya. Perjalanan haji ke Baitullah al-Haram dari sejumlah wilayah Afrika, seperti dari Maroko, Libya, Tunisia, Sudan, Nigeria, Chad, Senegal, dan sebagainya, tidak bisa tidak akan melewati negeri Mesir. Singgah di al-Azhar tentu saja sayang untuk dilewatkan begitu saja. Sekitar beberapa pekan bahkan sampai berbilang bulan, mereka akan singgak menyauk ilmu dan mengambil makrifat kepada para guru yang ada di Mesjid al-Azhar al-Syarif. 

Mengapa mereka menyempatkan diri untuk singgah? Apa yang menjadi daya tarik Al-Azhar seolah menjadi magnet yang menarik perhatian?

Syeikh Usamah Al-Azhary menjelaskan bahwa alas an di balik ketertarikan para peziarah haji untuk singgah di masjid al-Azhar adalah sosok-sosok ulama kharismatik yang bisa mereka temui di sana. Karena adanya tokoh-tokoh yang masyhur di antara lisan dan pendengaran orang banyak, mereka ingin mampir dan menimba ilmu kepada para ulama tersebut.

Contohnya adalah Syeikh Murtadho Az-Zabidy, pensyarah kitab Ihya Ulumuddin dan musnid dunia di zamannya. Ia adalah seorang ulama kelahiran India. Ia belajar di Zabid, Yaman dan meneruskan pencarian ilmunya di Al-Azhar, hingga menjadi guru besar di Al-Azhar sampai wafatnya. Setiap musim haji, majlis beliau akan penuh bahkan sampai kerumah beliau menjadi sesak padat.

Kembali saya teringat dengan Minangkabau. Bukankah Minangkabau tempo dulu juga didatangi oleh anak siak dari segala penjuru, tidak hanya karena nama besar madrasahnya, akan tetapi karena adanya ulama serta tokoh yang mengasuh madrasah tersebut.

Baca juga:  Mengenal Literatur Qur'an Klasik di Indonesia (Abad 16-19)

Diceritakan antar lisan, dikhabarkan dari kampung ke kampung lainnya, nama-nama besar di negeri ini didengar di penjuru wilayah. Ketika ditanya “mau kemana pergi belajar?” maka jawabannya adalah “pergi kesana, di sana ada Syekh Fulan. Di sana ada Inyiak Fulan. Di sana ada Tuanku Fulan.”

Secara tak langsung, Buya Hamka mengisyaratkan hal ini ketika menceritakan niat hati Zainuddin untuk mengunjungi kampung bakonya. Selain untuk melihat tanah lahir mendiang ayahnya, ia berkeinginan untuk belajar ke Ranah Minang, karena masyhur di pendengaran orang Makassar, tanah Minang adalah tanah ulama. Padang panjang pusatnya waktu itu. Sederet nama ulama dan tokoh, dicari cari oleh orang banyak.

Bukan bermaksud mancabiak baju didado atau uweh uweh mancari gatah, akan tetapi nampak oleh penulis, banyak lembaga pendidikan di Minangkabau tidak lah berfokus pada hal ini lagi. Lebih cenderung menonjolkan nama besar yang sudah ada dan kemudian ditopang dengan sistem manajemen yang ada. Benar, bila sistem ketokohan atau bersandar pada kharismatik ulama memiliki kelemahan. Yakni bila tokoh tersebut wafat maka susah dicari ganti kemudian tempat mengaji itu mulai lengang bahkan mati.

Baca juga:  Dinamika Warna Kiswah Ka'bah

Namun, tidak serta merta pula ditinggalkan begitu saja. Tokoh disebuah madrasah ibarat icon dan ciri khas yang representative terhadap tempat ngaji tersebut. Beliau akan menjadi patokan yang nyata bagi para anak siak. Beliau juga menjadi rujukan bagi masyarakat yang ada. 

Alangkah indahnya bila ditonjolkan kembali ketokohan tersebut disemua tempat mengaji di Minangkabau ini lagi. Sehingga tatkala bertanya orang pada anak anak siak kita “kenapa kamu belajar disana?”  maka si anak menjawab “saya belajar disana karena ingin menimba ilmu dari guru ini, dari syeikh itu” atau dengan ungkapan serupa. 

Mungkin ada yang bertanya, kenapa bisa tak banyak lagi yang memakai sistem ketokohan tersebut?. Menurut kami ada beberapa faktor, diantaranya:

  1. Memang tidak ada tokoh yang mumpuni agar bisa dimunculkan
  2. Memang tidak adanya upaya dari lembaga tersebut untuk memunculkannya. Bukankah ada pepatah yang diajarkan orang-orang tua kita sedari dahulu “nan diamba gadang dianjuang tinggi Gadang karano dianjuang, tinggi karano dilambuak, tumbuah karano ditanam”
  3. ketidak pedulian terhadap persoalan ini.

Menurut hemat kami, nama besar yang ditopang dengan sistem manajemen yang baik kemudian hadir pula berbagai tokoh, ulama ulama besar di tempat mengaji tersebut. Itu semua merupakan perpaduan yang sangat apik dan komplit. Moga moga bisa terwujud kembali diminangkabau ini lagi. Aaamiin. Wallahu A’lam

Komentar