Suatu ketika, Syeikh Usamah Al-Azhary berkisah. Dahulu, dimasanya, masa belajar setiap tahun di Al-Azhar berlangsung hanya selama sepuluh bulan. Di pertengahan bulan Sya’ban hingga pertengahan Syawwal, para pelajar diberikan waktu untuk pulang ke kampung masing-masing. Sebagian majlis ilmu diliburkan. Tujuannya adalah agar para pelajar bisa fokus untuk beribadah selama bulan Ramadhan, sekaligus mengambil masa rehat. 

Tapi tidak semua pelajar pulang kampung. Sebagiannya tidak, terutama yang kampung halamannya jauh—jumlahnya sekitar empat sampai lima ribu orang. Namun demikian, sebagian guru masih membuka jadwal pengajian, seperti Syeikh Syamsuddin Muhammad ibn Ahmad ‘Ilaisy Al-Maliki dan murid beliau Syeikh Muhammad Ibrahim As-Samanuthy.

Sejak awal Sya’ban, keluarga besar para pelajar telah bersiap menyambut kedatangan mereka. Mereka sudah memersiapkan makanan, roti, dan minuman yang lezat. Sesuai waktu yang dijanjikan, mereka menunggu kedatangan anak/kemenakan mereka di stasiun kereta atau terminal. Sesampainya di stasiun/terminal, mereka dinaikkan ke atas kuda. Dengan kuda mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai ke rumah. 

“Seolah-olah Nabi yang datang ke kampung kita!” begitu kata orang Mesir. Lebih kurang, hal ini juga telah diceritakan oleh cendikiawan mesir, Thaha Husein, dalam kitabnya Al-Ayyaam.

Mengapa bisa begitu? Mengapa begitu spesial kedatangan pelajar ke kampung halaman mereka? Alasannya adalah mereka yang di kampung menanti ilmu dari sang pelajar—ilmu yang telah didapat di Al-Azhar selama sepuluh bulan sebelumnya.  

Baca juga:  Madrasah dalam Pondok Pesantren

Selama dua bulan di kampung, mereka kemudian bertanggung jawab membagi ilmunya sesuai kadar yang dimilikinya. Pelajar yang lebih senior, biasanya telah mendapatkan gelar Syeikh, akan didatangi oleh orang-orang kampung untuk meminta fatwa dalam berbagai persoalan. Tidak jarang pula, mereka bertanya tentang perkara yang lebih umum, seperti keadaan Kairo, perkembangan politik, hingga keadaan bermasyarakat kekinian orang orang Kairo. Kedatangan yang benar-benar ditunggu oleh orang kampung. Di situlah masyarakat merasakan buah dari manisnya ilmu Al-Azhar.

Hal ini lantas mengingatkan saya pada Ranah Minang tempo doeloe yang menjadi pusat pendidikan di tanah sumatera, atau bahkan jauh lebih luas dari itu. Berbagai anak siak datang untuk mengkaji ilmu-ilmu agama diberbagai surau dan madrasah yang tersebar di berbagai tempat. Tentu mereka pun demikian—tatkala pulang akan dinanti nanti oleh orang kampung.

Baca juga:  Antara Pesantren atau Sekolah?

Bagaimana saat ini? Apakah anak-anak siak atau istilah kininya santriwan dan santriwati yang belajar di berbagai pondok dan madrasah masih ditunggu-tunggu oleh orang kampung? Apakah kedatangannya dicari, ilmunya diminati dan perkataannya akan dihargai. Bila masih ada demikian, syukur wal hamdulillah.

Jika tidak, mengapa bisa? Apakah budaya masyarakat yang tidak lagi serupa itu? Atau mungkin memang kualitas anak siak atau santri yang pulang memang tidak kredibel sama sekali? Hal ini sangat menarik perhatian dan krusial sebenarnya. Apalagi untuk berbagai lembaga pendidikan yang ada. 

Disaat masa social distancing ini mungkin bisa menjadi kesempatan untuk mencari tau akan hal ini. Jika yang berkaitan dengan masyarakat memang tidak bisa dikarenakan kondisi maka dilingkungan keluarga nya saja dahulu. Apakah kehadirannya benar-benar dinanti? Apakah keilmuannya bisa terwujud lewat bakti? Hingga tatkala musibah ini hilang dan dileyapkan oleh Allah yang Maha Kuasa dan aktifitas kembali seperti sediakala bisa dilaksanakan berbagai langkah agar menjadi solusi terhadap hal ini serta manisnya ilmu yang diteguk selama belajar, terasa jua oleh orang kampung sekalian. Wallahu A’lam! 

Komentar