“Surau Parabek meluncurkan buku pertamanya. Bertepatan dengan agenda peringatan HUT Surau Parabek pertama, Surau Parabek mempublikasikan 50 tulisan pilihan. Buku ini berisi pergumulan pengalaman dan dinamika intelektual alumni Sumatera Thawalib Parabek; antara realitas dan refleksi historis atas perjalanan Sumatera Thawalib Parabek sejauh ini.

Di dalam buku ini, pembaca dapat menyelami pengalaman-pengalaman empirik alumni Sumatera Thawalib Parabek bersama para guru senior.”

Dalam tahun pertama ini, Surauparabek banyak memberikan perhatiannya pada kesejarahan dan kontinuitas. Beberapa artikel menghimbau keseriusan keluarga besar Sumatera Thawalib Parabek supaya tidak lupa dengan sejarahnya. Beberapa lainnya menggambarkan beban berat untuk menjaga dan mengawal kontinuitas intelektual yang diwarisi dari Syekh Ibrahim Musa.

Baca juga:  Lentera dari Santri, Ahmad Suwistyo (ed.), 2018

Catatan-catatan tentang Inyiak Parabek sudah cukup banyak tapi belum cukup. Tak kalah dari itu, sangat disayangkan rekaman-rekaman tentang figur-figur lainnya sama sekali luput. Kita tidak mendapati satu rekaman pun tentang Inyiak Mukhtar Said, Inyiak Muncak, Inyiak Agus, Buya H. Abd Rahman, Buya Shahruddin, atau bahkan nama-nama yang terlupa lainnya. Bahkan, Inyiak Imam Suar yang terbilang belum terlalu lama meninggalkan kita juga tidakditemukan.

Oleh sebab itulah, ketika Inyiak Khatib Muzakkir kembali keharibaan Allah, Surau Parabek mengajak semua pihak untuk menuliskan memori-memori tentang beliau. Tulisan itulah yang nantinya akan menjaga tonggak historisitas dan acuan kontinuitas itu.

Secara utuh, buku ini terdiri dari beberapa bagian. Bagian pertama merupakan pengenalan tentang Surau Parabek.

Baca juga:  Aroma Pertama Saat Seseorang Merindukan Rumah, Matahari, 2019

Bagian Kedua dan ketiga memuat sejarah Syekh Ibrahim Musa dan Sumatera Thawalib Parabek serta catatan-catatan kritis Surau Parabek terkait kesejarahan dan kontinuitas yang  tadi kita bicarakan. Bagian keempat, masih tentang kesejarahan, merupakan rekaman memori-memori tentang guru-guru.

Adapun bagian kelima berisi dinamika intelektual alumni Sumatera Thawalib Parabek. Jika bagian satu hingga keempat adalah tentang sejarah masa lampau dan tentang keresahan atas problem yang ada padanya, bagian terakhir ini berisi sejarah kontemporer. Bagian ini memperlihatkan bahwa sejarah kontemporer alumni Sumatera Thawalib Parabek diisi dengan dinamika intelektualitas yang hidup.

Komentar

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.