• Judul: Pers Islam Minangkabau: 1 Abad majalah Al Bajan Sumatera Thawalib Parabek 1919-2019
  • Penulis: Khairul Ashdiq
  • ISBN: 978-602-61250-4-0
  • Penerbit: Surau Parabek
  • Tahun Terbit: 2019
  • Jumlah halaman: 197
  • Ukuran Buku: 21 x 14 cm

Ibarat mendapatkan satu gelas air putih di panas terik siang, begitulah Surau Parabek mendengar rencana penulisan ulang majalah Al Bayan dengan transliterasi aksara Latin ini semakin kongkrit. Perannya tidak bisa dipungkiri lagi; majalah ini menyimpan rekaman aktifitas dan ide intelektual Sumatera Thawalib Parabek di bawah asuhan Syaikh Ibrahim Musa Parabek bersama para murid-muridnya.

Sumatera Thawalib Parabek telah berkembang begitu rupa. Cita-cita pendidikan Syaikh Ibrahim Musa masih terus dilanjutkan oleh generasi penerus beliau, tentu saja dengan dinamikanya sendiri. Namun demikian, penjagaan ide-ide intelektual beliau masih terlihat minim. Sejauh pengamatan kami, belum ada kajian serius terhadap karya-karya Syaikh Ibrahim Musa. Biografi tentang beliau saat ini lebih banyak menyoroti peran dakwah dan pendidikan beliau. Adapun terkait biografi intelektual, masih menjadi angan-angan. Kedua karangan beliau yang masih ditemui ini pun tidak masuk ke dalam kurikulum di Sumatera Thawalib Parabek!

Baca juga:  Hidayat al-Shibyan: Seberapa Banyak Kita Mengenal Syaikh Ibrahim Musa?

Penulisan ulang majalah Al Bayan dengan deskripsi yang memadai dari kakanda Khairul Ashdiq merupakan angin segar menuju biografi intelektual Syaikh Ibrahim Musa. Meskipun sayangnya dari tujuh edisi yang ditransliterasi ini tidak ada tulisan langsung dari Beliau, karya ini masih bisa menjadi pintu masuk untuk melihat dinamika intelektual di Sumatera Thawalib Parabek ketika itu. Better late than never.

Baca juga:  Sehari Bersama Shalat Sunnah, Miftahul Ghani, 2018

Dalam rangka peringatan satu abad kemunculan karya ini, kakanda Khairul Ashdiq mengajak kita semua menyelami samudra intelektual Syaikh Ibrahim Musa; sebuah usaha yang sangat dinanti-nanti dan layak mendapatkan apresiasi tinggi. Surau Parabek berharap upaya kakanda Khairul Ashdiq menjadi rintisan yang akan dilanjutkan, baik oleh beliau maupun oleh para penggiat studi sejarah intelektual Islam di Minangkabau khususnya, tanah Melayu-Indonesia umumnya.

Untuk pemesanan, klik link berikut ini: https://forms.gle/srR7iCZDmY9UgQUQ8

Komentar