Tuntutan untuk aware terhadap berita di media sosial saat ini semakin tinggi. Hoax menjelma menjadi kebenaran karena nafsu dan fanatisme. Atribut akademis, agamis, dan semua yang berhubungan dengan “is-is”-lainnya hanya sekedar modal simbolis tanpa arti. Kalau ideologi sesuai dengan berita, di waktu yang sama ia bertrasnformasi menjadi ayat suci yang bersifat ta’abbudi, modal simbolis sarjana atau mahasiswa seketika menjadi tulisan tak berarti.

Dilansir dari laman tirto.id, hoax paling banyak disebar selalu berkaitan dengan politik, persentasenya mencapai 91.8%. Ramadhan dan pengumuman hasil pemilihan presiden yang bersamaan ternyata tidak menjadi titik tolak surutnya hoax di media sosial. Hal ini semakin ramai dengan adanya pihak yang tidak sudi dengan hasil pemilu dan memilih untuk unjuk rasa di kantor Bawaslu. Itu sah-sah saja, asal tidak bertindak anarkis dan menutut kebenaran dengan demokratis.

Sepertinya kalau berbicara politik tidak akan ada habisnya. Kembali ke Kontekstualisasi Hadis “berkata baik atau diam”. Dalam kajian hadis ada dua aspek penting untuk mengukur kebenaran hadis. Aspek Sanad dan Matan. Penilaian secara sanad yaitu melakukan validasi hadis dilihat dari mata rantai setiap perawi, hal ini didasarkan pada ungkapan orang alim “kalaulah tanpa sanad, semua orang bisa saja berbicara sesukanya (dan mengklaimnya sebagai hadis)”. Sedangkan matan yaitu, melihat kemungkinan apakah konten hadis menggambarkan pribadi Nabi atau tidak, jika bertentangan tentu akan diindahkan.

Artikel ini akan berfokus pada hadis “berkata baik atau diam” dengan cara pandang yang berbeda. Artikel ini tidak akan mengutip ayat tentang tabayun, sudah banyak pembahasan serupa dan bertebaran di laman google. Namun, andaikata ada santri atau bahkan akademisi masih sebar berita yang tidak jelas, dan di waktu yang sama juga memahami ayat ini, mengutip kalimat legendaris dari raja dangdut “sungguh, ter-la-lu!”.

Baca juga:  Cerita Lama Qur’an dan Kampanye Politik Indonesia

Hadis ini diambil dari aplikasi software Lidwa Pustaka 9 Imam Hadis. Hadis yang masyhur di kalangan awam dan alim. Hadis yang begitu masyhur ini acap kali dijadikan dalil ajakan untuk berhenti menebar hoax. Hadis dari Abi Hurairah itu berbunyi:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau memilih diam” (HR. Bukhari – No. 5559)

Mengartikan hadis ini secara terkstual ataupun dikontekstualkan tidak akan menjadi masalah. Memang seperti itu seharusnya sifat hadis, fleksibel di setiap ruang dan waktu.

Namun, sangat disayangkan jika menggunakan hadis ini sebagai dalil dan berhenti pada pemahaman teksnya saja. Mengkaitkan penanganan hoax dengan hadis ini tanpa penyesuaian konteks kekinian juga belum tepat.

Ada dua pilihan yang diberikan dalam hadis ini, memilih ‘berkata baik’ atau memilih ‘diam saja’. Dalam konteks ke-media sosial-an, tentunya akan menjadi, ‘buat status sesuai syariat’ atau ‘diam saja meliha update status ustaz’, ‘nge-tweet quote orang-orang shalih’ atau ‘diam saja melihat tweet orang faqih’, dan memilih untuk ‘membuat konten dakwah’ atau ‘diam saja scroling feed di instagram’.

Baca juga:  Ulama, Kekerasan, dan Ekonomi

Hal itu tidak akan bisa merubah keadaan, bahkan akan mendegradasi kualitas media sosial. Memilih ‘diam saja’ sejatinya akan memperbanyak view konten belum jelas di faceook dan instagram, serta mem-blow up tweet di twitter. Pilihan ini bukannya menggambarkan amalan hadis Nabi, malah seolah menolaknya dan membiarkan konten-konten negatif bertebaran di media sosial.

Hadis ‘berkata baik atau memilih untuk diam’ ini terlalu historis untuk diaplikasikan pada era kekinian. Penafsiran yang terlalu sempit akan mematikan flesksibilitas hadis ini. Hadis ini akan lebih sesuai dengan tren kekininan jika redaksinya sedikit dimodifikasi, yaitu menjadi:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيراً أَوْ لِيَنْشُرْ حُسْناً

 “Man kana yukminu billahi falyaqul khairan aw liyansyur husnan” – “Siapa saja yang beriman kepada Allah, hendaklah berkata baik atau menyebarkan kebaikan”.

Bisa jadi seseorang di luar sana mengatakan hal ini bid’ah, namun seorang kiyai alim dari Yogyakarta pernah berkata, “melakukan “bid’ah hasanah itu wajib hukumnya”, selama mengandung unsur maslahah dan tidak melanggar syariah. Merubah redaksi hadis di atas merupakan bid’ah hasanah yang wajibah, karena mengandung mashlahah, tentunya tanpa harus mengklaim redaksi ini dari Nabi, yang jelas pilihan ‘menyebar kebaikan’ lebih baik dari pada memilih ‘diam’ membiarkan hal negatif terjadi.

Sebagai santri, sudah seyogyanya untuk selalau berkata baik. Jika tidak bisa berkata baik, toh banyak sekali konten di media sosial yang sejuk dan positif untuk dishare, bukan malah memilih diam dan melihat orang berbondong-bondong menjadi tabi’in berita yang tidak benar. Itulah guna tombol share di facebook, aplikasi repost for instagram dan tombol retweet di twitter. Mari gunakan tombol itu dengan bijak, dengan share konten sehat, tanpa harus melangkahi nalar kritis berita hoax. p

Komentar