Di Sumatera Thawalib Parabek, ada doa yang dibaca rutin setiap selesai wirid shalat jama’ah. Ketika menempuh masa mengaji di sana, saya mendengar doa ini dari Inyiak Imam Muzakkir, Imam Masjid Jami’ Parabek. Doa ini juga diajarkan kepada para santri dan pernah menjadi salah satu setoran wajib sebelum menempuh ujian semester.

Inyiak Imam Mudzakir, yang lebih akrab dipanggil dengan gelar lampaunya, Inyiak Katik, merupakan salah satu ulama Sumatera Barat yang kini namanya hanya bisa dikenang. Beliau lahir pada tanggal 5 Juli 1942 dan meninggal pada tanggal 22 September 2015 pada usia 74 tahun. Beliau termasuk salah satu guru yang masih sempat belajar langsung kepada Syaikh Ibrahim Musa pendiri Madrasah Sumatera Thawalib Parabek. Inyiak Katik merupakan seorang ulama yang cinta akan ilmu. Semasa hidup, beliau mengerahkan seluruh waktunya untuk abdi di pondok tercinta Madrasah Sumatera Thawalib Parabek. 

Inyiak termasuk seorang guru yang aktif dan inovatif hal ini dibuktikan dengan lamanya Inyiak mengajar di Parabek. Selama mengajar di Parabek selain di sekolah, Inyiak juga selalu senang menerima murid untuk belajar tambahan pada malam hari. Inyiak juga berkiprah di dalam kehidupan masyarakat di kampungnya, Beliau merupakan sosok tempat bertanya oleh masyarakat, menjadi imam di masjid, dan mengajar masyarakat tentang ilmu-ilmu agama. 

Semasa beliau mengajar di Parabek, beliau selalu menjadi imam bagi para guru, santri, dan santriwati di setiap sholat. Kami selalu mendengar beliau membaca doa yang sama setiap selepas wirid Bersama setelah shalat, seolah-olah doa tersebut adalah ‘doa andalan’ beliau. Bisa jadi, beliau mendapatkan doa tersebut dari guru pendahulunya. Jika benar demikian, maka doa ini adalah doa yang telah dilestarikan di Sumatera Thawalib Parabek semenjak lama.

Potongan pertama doa tersebut adalah: 

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تحُولُ به بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ اليَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مصاعب الدُّنْيَا، وَمَتِّعْنَا اللهم بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بذنوبنا مَنْ لَا يخافك و لا يَرْحَمُنَا. 

Baca juga:  Garin dan Ceritanya

Inilah doa yang selalu Inyiak baca setiap selesai sholat dan dilestarikan oleh murid-murid beliau sampai sekarang. Doa yang Inyiak baca ini merupakan doa yang sangat sering dibaca oleh Rasulullah Saw. Untuk para sahabatnya. Hal ini dapat kita lihat dalam beberapa riwayat yang berasal dari Ibn ʿUmar, seperti sebuah hadis dalam Sunan at-Tirmidzi bab doa-doa Rasulullah Saw. nomor hadis 3502 dengan status hadis Hasan:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالَ: أَخْبَرَنَا ابْنُ المُبَارَكِ قَالَ:  أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ زَحْرٍ، عَنْ خَالِدِ بْنِ أَبِي عِمْرَانَ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ، قَالَ: قَلَّمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُومُ مِنْ مَجْلِسٍ حَتَّى يَدْعُوَ بِهَؤُلَاءِ الدَّعَوَاتِ لِأَصْحَابِهِ: «اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ اليَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا»

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr telah mengabarkan kepada kami Ibnu Al Mubarak telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Ayyub dari ‘Ubaidullah bin Zahr dari Khalid bin Abu Imran bahwa Ibnu Umar berkata Jarang Rasulullah Saw. Berdiri dari majelis kecuali  beliau berdoa dengan doa-doa ini untuk para sahabatnya. Ya Allah, curahkanlah kepada kami rasa takut kepada-Mu yang menghalangi kami dari bermasiat kepada-Mu, dan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami kepada surga-Mu, dan curahkanlah keyakinan yang meringankan musibah di dunia ini. Berilah kenikmatan  kami dengan pendengaran kami, penglihatan kami, serta kekuatan kami selama kami hidup, dan jadikan itu sebagai warisan dari kami, dan jadikan pembalasan atas orang yang menzalimi kami, dan tolonglah kami melawan orang-orang yang memusuhi kami, dan janganlah engkau jadikan dunia sebagai impian terbesar kami, serta pengetahuan kami yang tertinggi, serta jangan engkau kuasakan atas kami orang orang yang tidak menyayangi kami. 

Selain dari jalur ini, riwayat serupa juga didapatkan dari jalur ʿAlī ibn Ḥujr, dari Ibnu Al Mubarak dari Yahya bin Ayyub dari ‘Ubaidullah bin Zahr dari Khalid bin Abu Imran dan berakhir di Ibnu Umar. Abu Isa berkata hadis ini adalah hadis hasan gharib. Dan sebagian ahli hadis meriwayatkan hadis ini dari Khalid bin Abu Imran dari Nafi’ dari Ibnu Umar.

Baca juga:  Mubes Alumni Sumatera Thawalib Parabek: Untuk Bersama dan Pribadi

Jika dibandingkan, lafaz doa yang dibaca oleh Inyiak Katik mirip dengan riwayat yang dikutip dari kitab Sunan Turmudzi di atas. Namun begitu ada beberapa perbedaan. Hadis di atas menggunakan kata yaḥūlu sementara dalam doa, kata ini dibaca dalam bentuk muʾannaṡ, taḥūlu. Persis setelah kata ini ada penambahan bihī. Kata muṣībāt al-dunyā dalam hadis dibaca maṣāʿib al-dunyā. Satu lagi, di penghujung doa ada penambahan kata man lā yakhāfuka. Hal ini mengindikasikan kemungkinan adanya versi lain dari riwayat yang dirujuk dalam doa ini. 

Kandungan makna doa ini sangatlah dalam, setidaknya ada 5 point penting yang terdapat di dalam kandungan doa ini.

  1. Doa seorang hamba kepada Allah agar diberi rezki berupa rasa takut, karena ketika sudah ada rasa takut terhadap Allah di hati seorang muslim, pastilah ia akan menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Sebaliknya, seorang muslim yang tidak memiliki rasa takut terhadap Allah di hatinya, niscaya ia tidak akan segan dan malu untuk berbuat maksiat kepada Allah. 
  2. Doa seorang hamba kepada Allah agar diberi nikmat ketaatan, dikokohkan langkah untuk selalu berbuat ketaatan yang akan mengantarkan menuju surga. 
  3. Doa seorang hamba kepada Allah agar selalu diberi keyakinan bahwa segala musibah yang menimpa seorang hamba merupakan takdir yang sudah Allah tetapkan untuk dirinya, serta yakin bahwa ada hikmah dibalik musibah tersebut, yakin bahwa musibah akan mengangkat derajat seorang hamba jika benar benar ikhlas dan ridho atas ketentuan Allah. 
  4. Doa seorang hamba kepada Allah agar selalu dijaga nikmat penglihatan, pendengaran, kekuatan selama hidup agar dengan nikmat tersebut, seorang hamba bisa senantiasa melakukan kebaikan selama hidupnya.
  5. Doa seorang hamba kepada Allah agar tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama, namun menjadikan dunia sebagai wadah untuk beribadah, berbuat baik, mencari ridho Allah agar sampai kepada tujuan utama yaitu akhirat. 

Komentar