Terkadang, dalam bersosial media, kita menemukan konten yang menganjurkan membunuh cicak. Disebutkan bahwa membunuh cicak adalah sunnah dan yang membunuhnya akan mendapatkan pahala.

Berbagai pertanyaan muncul: bagaimana mungkin Rasulullah SAW memerintahkan untuk membunuh cicak, hewan kecil yang tidak bersalah? Bukankah Islam adalah agama yang membawa kedamaian termasuk kepada hewan.

Cicak juga punya hak hidup sama seperti manusia, bahkan keberadaan cicak di rumah akan memberi manfaat bagi penghuni rumah yaitu selamat dari gigitan nyamuk. Lantas, dari mana munculnya ajakan berburu cicak ini datang?

Ternyata memang benar. Ada satu hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah mengenai hal ini.

وَحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، أَخْبَرَنَا خَالِدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ، عَنْ سُهَيْلٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ قَتَلَ وَزَغَةً فِي أَوَّلِ ضَرْبَةٍ فَلَهُ كَذَا وَكَذَا حَسَنَةً، وَمَنْ قَتَلَهَا فِي الضَّرْبَةِ الثَّانِيَةِ فَلَهُ كَذَا وَكَذَا حَسَنَةً، لِدُونِ الْأُولَى، وَإِنْ قَتَلَهَا فِي الضَّرْبَةِ الثَّالِثَةِ فَلَهُ كَذَا وَكَذَا حَسَنَةً، لِدُونِ الثَّانِيَةِ»

Dan telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya, Telah mengabarkan kepada kami Khalid bin ‘Abdullah dari Suhai dari Bapaknya dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “barang siapa yang membunuh satu cicak satu kali pukul, maka dituliskan baginya pahala kebaikan sebanyak begini dan begini. Dan barang siapa yang membunuh dua kali pukul, maka dituliskan baginya pahala kebaikan sebanyak begini dan begini berkurang dari pukulan pertama. Dan siapa yang membunuhnya tiga kali pukul, maka pahalanya kurang lagi dari itu. 

Hadis ini termaktub di dalam kitab Shahih Muslim yang ditulis oleh Imam Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa kitab Shahih Muslim merupakan kitab yang disepakati keshahihan hadisnya oleh ulama ahli hadis ( تلقته الأمة بالقبول).

Namun, untuk memahami suatu hadis tidak cukup melihat status keshahihan hadis saja. Kita harus memperhatikan teks hadis tersebut lebih dalam.

Pertama, mengenai teks hadis. Apakah benar وزغة yang tercantum di dalam matan hadis ini bermakna cicak? Jika iya, kita perlu lebih spesifik: apakah yang dimaksud di dalam hadis ini termasuk cicak yang ada di rumah-rumah kita? Dalam memahami dan mengamalkan sebuah hadis, kita memang perlu sampai pada penjelasan yang detail seperti ini, terutama jika menyangkut hidup matinya salah satu makhluk Allah.

Baca juga:  Apakah Dhalal itu selalu Sesat?

Jangan sampai kita keliru. Yang dimaksud oleh Nabi Muhammad saw. lain, sementara yang kita hakimi lain lagi. Ingin hati berbuat sunnah, tapi ternyata terjerumus pada perbuatan salah.

Ini lah yang ditegaskan oleh Imam al-Syatibi dalam kitabnya al-Muwāfaqāt. Ia menyebut bahwa untuk memahami al-Quran harus dengan bahasa arab yang digunakan pada abad ke-7. Begitu juga untuk memahami hadis yang merupakan teks masa lampau kita harus kembalikan ke makna aslinya. Artinya, kita perlu menelisik lebih jauh apakah makna popular atas sebuah kata yang kita kenali saat ini juga demikian adanya di abad ke-7, ketika hadis tersebut diucap oleh Nabi Muhammad.

Dalam teori pemahaman teks yang kontemporer, teori dari Imam al-Syatibi juga masih sangat relevan, disampaikan pula oleh Schleiermacher, yang mengatakan everything in given utterance which requires a more precise determination may only be determined from the language area which is common to the author and his original audience (semua ucapan yang mengharuskan pemaknaan tepat hanya dapat ditentukan melalui bahasa yang dikenal oleh penulis dan audiens lainnya)

Ada kalanya makna suatu kata berubah, menyesuaikan dengan konteks tempat dan waktu, sehingga ketika kita ingin memahami teks masa lampau harus dikembalikan ke makna aslinya.

Untuk melihat makna asli dari teks hadis ini, mari kita merujuk ke Lisan al-‘Arab yang dikarang oleh Ibnu Manzur. Beliau mengatakan bahwa الوزغ بمعنى سوام أبرص , yaitu hewan pembawa racun kusta. Penyakit kusta adalah penyakit infeksi bakteri kronis yang menyerang jaringan kulit, saraf tepi, serta saluran pernapasan. Kusta dapat ditandai dengan rasa lemah atau mati rasa di tungkai dan kaki, kemudian diikuti timbulnya lesi pada kulit.

Baca juga:  Pengantar: Para Nabi dan Rasul Adalah Manusia Biasa

Penyakit kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Leprae atau disebut juga Basillus Hansen. Bakteri ini dapat menular dari satu orang ke orang lainnya melalui percikan cairan dari saluran pernapasan. Selain itu, penyakit kusta bisa disebabkan karena bersentuhan dengan hewan penyebar bakteri kusta seperti armadillo atau simpanse.

Dari penjelasan ini, dapat diambil kesimpulan bahwa kata wazag di dalam matan hadis ini tidak benar diartikan sebagai cicak yang ada di rumah-rumah kita . Karena, sepanjang sejarah, kita tidak pernah melihat atau mendengar seseorang terkena penyakit kusta disebabkan oleh cicak

Kedua, kita juga perlu menimbang ‘illat mengapa Rasulullah SAW memerintahkan untuk membunuh cicak. Imam Nawawi di dalam kitabnya al-Minhaj Syarah Shahih Muslim mengatakan bahwa Nabi SAW memerintahkan dan menganjurkan untuk membunuh wazag karena ia merupakan salah satu hewan yang bisa membuat sakit.

Ada satu hadis yang menyebut bahwa wazag dibunuh karena ia adalah musuh Nabi Ibrahim.

عن أم شريك أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أمر بقتل الوزغ، وقال: كان ينفخ على إبراهيم عليه السلام

“Rasulullah SAW memerintahkan untuk membunuh cicak. Beliau bersabda, ‘Dahulu cicak ikut membantu meniup api Ibrahim AS (HR Bukhari)

Namun, hadis ini tidak bisa kita jadikan argumen atas kesunnahan membunuh cicak. Alasannya adalah satu cicak yang membahayakan Nabi Ibrahim tidak lantas membuat semua cicak berstatus criminal. Lantas apakah kita harus membunuh cicak yang ada di rumah-rumah kita,  disebabkan kesalahan nenek moyang mereka? Kejam sekali bukan.

Dari paparan di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk membunuh wazag, karena ia merupakan hewan yang membahayakan manusia. Maka, selama cicak-cicak yang ada di rumah-rumah kita mereka hidup damai, dan tidak membahayakan kita. Biarkanlah mereka di dinding diam-diam merayap menunggu dating seekor nyamuk dan hap lalu ditangkap.

Komentar