Pada tahun 2013, saat akan dibangunnya Mega proyek Lippo Group Super Block milik James Riady (Misionaris UIung Internasional), ada misi pemurtadan di Ranah Minangkabau yang sangat kental dengan agama Islamnya di Indonesia. Dalih di balik rencana pembangunan gila-gilaan senilai tujuh triliun tersebut ialah untuk membantu percepatan ekonomi dan memberikan lapangan pekerjaan untuk masyarakat di Sumatera Barat. Di antara mega proyek yang akan direncanakan pada waktu itu ialah pembangunan sekolah, rumah sakit, mall dan hotel. Hal yang membuat miris pada saat itu ialah karena ada embel “Minangkabau” nya. Padahal, yang mempunyai proyek ini adalah James Riady.

Alhamdulillah dengan izin dan kuasa Allah SWT, di tahun yang sama, 20 orang delegasi Presidium Mahasiswa Sumatera Barat melakukan aksi “Tolak Siloam” bersama puluhan ribu rakyat Sumatera Barat yang dikomandoi oleh Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Barat, Buya Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa sebagai Panglima terdepan. Aksi ini berhasil menggagalkan rencana pembangunan mega proyek misionaris dan kristenisasi milik James Riady tersebut di Ranah Minangkabau tercinta.

Dalam forum Presidium Mahasiswa Sumatera Barat Tolak Siloam, saya (Muslim; penulis) beserta 19 orang anggota presidium lainnya yang mewakili berbagai ormas mahasiswa Islam pada waktu itu, bersepakat mengatakan bahwa ada salah satu Provinsi di Indonesia yang menjadi target utama dan target besar bagi misionaris. Provinsi ini sangat kental dengan budaya keislamannya sehingga sulit untuk dikristenisasi, yaitu Provinsi Sumatera Barat.

Mengapa Provinsi Sumatera Barat dengan etnis Minangkabau nya yang menjadi target utama misionaris kristenisasi di Indonesia?

Sebab di tanah inilah yang masih kental dengan agama Islam dan budaya keislamannya. Di tanah inilah lahirnya para Ulama dan para Tokoh terkemuka di kancah Nasional maupun Internasional. Di tanah ini pula lahir para pejuang Tanah Air Indonesia yang dibesarkan di surau-surau, yang ditanamkan ke dalam hati dan fikirannya nilai-nilai Al-Qur’an. Di tanah inilah lahirnya beberapa Pondok pesantren tertua di Indonesia yang telah mencetak ratusan bahkan ribuan ulama, seperti Sumatera Thawalib Parabek (1910),  Perguruan Thawalib Padang Panjang (1911), Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang (1923), dan Madrasah Tarbiyah Islamiyyah Canduang (1928).

Baca juga:  Sejarah Minang yang Islami?

Sekarang di tahun 2020 ini, muncul lagi sosok “tikus got” yang kotor, sosok yang ingin mengotori dan merusak nilai-nilai keislaman di Tanah “Adat Basandi Syara’, Syara’ basandi Kitabullah”. Sosok ini ingin membuat sensasi baru untuk mempengaruhi dan menggoyahkan aqidah umat Islam di Ranah Minangkabau dengan cara membuat aplikasi Kitab Injil Berbahasa Minangkabau di Google Play store. Siapa lagi yang membuat aplikasi tersebut jikalau bukan orang yang ada penyakit dalam hatinya terhadap kentalnya agama Islam di Minangkabau. Siapa lagi yang berupaya untuk menghancurkan aqidah umat Islam jikalau tidak orang-orang kafir ataupun pesuruh atau antek orang-orang kafir (alias munafiq).

Mari kita renungkan firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 120 berikut:

وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ ٱلْيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ ٱتَّبَعْتَ أَهْوَآءَهُم بَعْدَ ٱلَّذِى جَآءَكَ مِنَ ٱلْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِىٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah ridho (senang) kepada kamu hingga kamu mengikuti mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah yang benar. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka  setelah pengetahuan dating kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi Pelindung dan Penolong bagimu.” (Al-Baqarah: 120).

Berbagai cara dilakukan oleh kaum Yahudi dan Nasrani serta antek-anteknya untuk mengelabui dan menyesatkan aqidah umat Islam. Mengenai aplikasi yang ada embel-embel “islami” nya di Google Play Store Android ini kita musti waspadai, apalagi aplikasi Al-Qur’an. Suatu ketika, saya (penulis) pernah komplen secara tegas kepada salah seorang penceramah yang berulang kali keliru dalam membaca ayat Al-Qur’an. Namun si penceramah bersikeras dengan bacaan ayatnya yang keliru saat diluruskan dan dibetulkan. Untung saja hamba yang lemah ini hafal ayat yang dibacakan tersebut. Ternyata sang penceramah yang “hits dengan gaya kekinian” ini hanya berpatokan kepada aplikasi Al-Qur’an dari Android, tanpa merujuk dan menggunakan mushaf Al-Qur’an secara langsung dalam menyampaikan risalah Islam di tengah-tengah umat. Tak terbayangkan betapa bahayanya jika banyak penceramah dan da’i menyampaikan risalah agama Islam di tengah-tengah umat hanya berpatokan dan merujuk pada media kekinian yang dikuasai oleh Yahudi dan Nasrani.

Baca juga:  Ekonomika Qurban

Andaipun ada orang Minang yang murtad dari agama Islam, otomatis hilanglah nilai-nilai Minangkabau dari dirinya, dia tidak diakui lagi sebagai orang Minangkabau. Yang tinggal dalam dirinya hanyalah darah keturunan orang Minangkabau secara biologis saja. Casing luarnya saja yang mungkin masih Minangkabau, tapi isi dalam batinnya bukanlah Minangkabau lagi.

Mari kita petik ‘ibrah, Allah SWT telah mengisahkan dalam Al-Qur’an perihal Nabi Nuh a.s. dan anaknya Kan’an. Kan’an dengan angkuhnya tidak mau beriman dengan ajaran Tauhid yang dibawa oleh ayahnya. Tatkala Nabi Nuh a.s. mengetahui bahwa anak kandungnya yang kafir dan durhaka itu juga termasuk orang-orang yang diazab, ditenggelamkan dalam banjir yang amat dahsyat oleh Allah SWT ketika itu, seraya Nabi Nuh a.s. berkata:

وَنَادَىٰ نُوحٌ رَّبَّهُۥ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ٱبْنِى مِنْ أَهْلِى وَإِنَّ وَعْدَكَ ٱلْحَقُّ وَأَنتَ أَحْكَمُ ٱلْحَٰكِمِينَ

“Dan Nuh menyeru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya”. (QS. Huud : 45)

Kemudian Allah SWT menjawab seruan Nabi Nuh a.s. tersebut pada ayat selanjutnya:

قَالَ يَٰنُوحُ إِنَّهُۥ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ إِنَّهُۥ عَمَلٌ غَيْرُ صَٰلِحٍ ۖ فَلَا تَسْئَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۖ إِنِّىٓ أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ ٱلْجَٰهِلِينَ

“Dia (Allah) berfirman, “Wahai Nuh! Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, karena perbuatannya sungguh tidak baik, sebab itu jangan engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Aku menasihatimu agar (engkau) tidak termasuk orang yang bodoh.” (QS. Huud: 46)

Dalam ayat tersebut sangat jelas bahwa orang yang kafir sama sekali tak dianggap dan tak dipandang oleh Allah SWT. Allah SWT juga melarang Nabi Nuh a.s. mendoakan keselamatan bagi anak kandungnya sendiri karena lari dari petunjuk Allah SWT.

Sebagai salah satu daerah yang masih kental dengan budaya keislamannya di Tanah Air, salah satu daerah yang menjadi target utama kristenisasi oleh misionaris beserta antek-anteknya, Anak Nagari Minangkabau mesti selalu waspada dari bahaya “tikus got” yang selalu berupaya mengotori dan merusak nilai aqidah Islam, selalu berupaya menggoyahkan keimanan dan merusak pola pikir serta paradigma Anak Nagari di Ranah Minangkabau tercinta ini.

Wallahu A’lam bi al-shawab

Komentar