Bulan ramadhan adalah bulan yang agung, jika seseorang mendengar kata bulan ramadhan maka makna yang langsung hadir dalam akal seseorang adalah bulan penuh ampunan, bulan yang allah gandakan setiap amal dan bulan penuh rahmat dan berkah.  Dan rasulullah shallallahu alaihi wassalam juga menjelaskan di sabdanya, :

يروى عن عكرمة عن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه و سلم أنه قال : شهر رجب شهر الله, و شهر شعبان شهري و شهر رمضان شهر أمتي

diriwayatkan dari ‘ikrimah dari ibnu abbas semoga allah meridhai keduanya dari nabi shallalahu alaihi wasaallam, bahwasanya nabi bersabda : bulan rajab adalah bulan allah dan bulan sya’ban adalah bulan ku dan bulan ramadhan adalah bulan umat ku.

Artinya adalah sesungguhnya allah SWT mengkhususkan bulan Rajab dengan bulan ampunan dan bulan Sya’ban dengan bulan syafaat dan bulan Ramadhan dengan bulan digandakannya semua amal baik yang dilakukan oleh hamba.

Juga dikatakan bahwa Ramadhan adalah( شهر القربة), yaitu bulan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ulama ulama sufi mengajarkan kepada kita salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, yaitu bertaubat.

Kenapa ulama sufi mempunyai cara berbeda beda untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT? Karena di dalam ilmu tasawuf ada istilah maqam dan ahwal. Jika seseorang bertanya bagaimana cara untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka jawabannya sesuai dengan dengan penanya dan keadaan disekitarnya.

Cara pertama adalah taubat. Imam Qusyari mengatakan di dalam kitabnya yaitu Ar-Risalatul Qusyairyah, maqam pertama untuk orang yang ingin dekat pada Allah SWT adalah taubat. Dengan itu mestilah bagi seseorang bertaubat kepada allah SWT. Allah SWT telah memerintahkan kepada kita untuk bertaubat, kata Allah di surat an-Nur ayat 31 :

وتوبوا إلى الله جميعا أيها المؤمنون لعلكم تفلحون

dan bertobalah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.

Rasulullah juga bersabda:

ما من شيئ أحب إلى الله من شاب تائب

Tidak ada dari sesuatupun yang lebih dicintai oleh Allah dari seorang pemuda yang bertaubat.

Allah sangat menyukai orang yang selalu bertaubat kepada-Nya. Sebab, manusia adalah makhluk lemah. Artinya kita sangat sulit untuk menjaga diri kita dari maksiat, dan karenanya kita mesti selalu meminta ampun, hidayah, dan taufiq kepada Allah SWT.

Baca juga:  Hal yang Perlu diketahui sekitar Qadha dan Fidiah bagi Wanita Hamil dan Menyusui

Suatu ketika, Buya Deswandi memberikan nasihat, “urang lain diagiah dek Allah SWT hidayah jo taufik mako mintak lo lah ka Allah hidayah jo taufiq.” Dengan demikian, melalui hidayah dan taufiqlah kita akan bisa menjalani semua perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya.

Kalau bicara tentang taubat, selalu ada orang bertanya, contohnya, ‘ketika saya sudah bertaubat lalu saya bermaksiat lagi, apakah taubat saya sah?’ Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita perhatikan kedua kisah berikut ini:

Diceritakan dari Abi Sulaiman ad-Darany, bahwasanya dia berkata:

“aku hadir di suatu majlis seorang pendongeng, lalu perkataannya membuat hati saya ingin berubah. Kemudian, tatkala saya berdiri dan pergi dari majlis tersebut tidak ada perkataan dari si pendongeng yang saya ingat. Saya kembali lagi untuk kedua kalinya ke majlis itu, maka kembali cerita-cerita pendongeng itu sampai ke dalam hati hingga saya sampai kembali ke rumah. Kemudian, saya meninggalkan keburukan-keburukan dan selalu istiqomah dalam kebaikan.”

Cerita ini mengajarkan bahwa kita tidak boleh putus asa kepada rahmat Allah. Sudah selayaknya kita untuk selalu berharap akan ampunan Allah SWT. Jika taubat pertama tidak mampu membendung kita dari maksiat maka taubat lagi dan lagi sampai taubat itu memiliki pengaruh terhadap hati dan hidup kita.

Cerita kedua dinukil dari Imam Qusyairi, yang ia dengar dari Syekh Abu Ali ad-Aaqqaq. Ada sebahagian dari murid bertaubat dan di suatu waktu kembali kepada keadaan sebelum taubatnya. Ia kemudian berpikir, “jikalau saya kembali kepada taubat saya bagaimana hukumnya?” Ia kemudian mendengar bisikan, “Wahai Fulan, jikalau kamu patuh pada kami, kami berterima kasih kepada mu, jika kamu meninggalkan kami maka kami akan memberi kamu waktu, dan jika kamu kembali kepada kami maka kami menerima kamu dengan kasih sayang.”

Baca juga:  Tanya Jawab Seputar Idul Fitri

Dari kisah ini kita juga dapat ambil pelajaran bahwasanya Allah SWT selalu menerima kita. Allah juga telah menyampaikan hal serupa dalam sebuah hadis qudsi: “Kalau kamu menghadap kepada ku dengan dosa dan kesalahan sebesar bumi maka aku akan hadapkan pula kepada mu ampunan sebesar itu juga lalu aku akan mengampuni mu.”

Dari dua kisah itu menunjukkan bahwa seorang hamba haruslah berusaha untuk selalu meminta ampun kepada Allah SWT sehingga istighfar yang ia ucapkan membekas didalam hatinya. Seseorang tidak layak untuk merasa hilang harapan akan ampunan Allah SWT. Selalu yakinlah bahwa Allah SWT selalu menerima ampunan hambanya.

Salah satu sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad Shallalllahu ‘alaihi wasallam: “Ya Rasulullah, saya telah berbuat dosa dan saya khawatir Allah tidak akan mengampunkannya.” Lalu Nabi bertanya: “Apakah dosa mu lebih besar dari bumi ini?” Ia menjawab, iya, ya rasul, lalu nabi bertanya lagi : apakah dosa mu lebih besar dari langit ? lalu ia menjawab : “Iya, ya Rasul.” Nabi bertanya lagi: “Apakah dosamu sebesar langit dan bumi?” Ia menjawab: “Iya, ya Rasul. Nabi bertanya lagi: “Apakah dosamu lebih besar dari ‘Arasy?” Ia menjawab, “Iya, ya Rasul.” kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا يغفر الذنب العظيم إلا العظيم

Tidak ada yang mengampuni dosa yang besar atau agung kecuali yang maha besar atau yang maha agung.

Dengan itu, mari kita meningkatkan amal ibadah kita dan selalu taubat kepada Allah SWT, dengan melakuakan semua amal baik di bulan Ramadhan ini semoga sesudah Ramadhan kita mendapatkan pengaruhnya dan mampu bersikap istiqamah.

و الله أعلى و أعلم

Komentar