Islam menjadikan adanya tempat dan waktu sakral untuk para pemeluknya. Beberapa tempat -meskipun secara hukum fikih setiap tempat dapat dijadikan “sajadah”-, dipercaya sebagai “tanah-tanah suci” yang diberkati, seperti tiga masjid agung, yakni Masjidil Haram, Masjid an-Nabawi, dan Masjidil Aqsha. Demikian pula, beberapa waktu juga diyakini sebagai waktu-waktu yang mulia. Hal ini, tentu saja secara psikologi menciptakan kerinduan bagi orang beriman untuk dapat meraih peluang-peluang unik ini agar semakin dekat dengan Tuhannya.

Pada era globalisasi saat ini, seringkali ibadah diperas menjadi momen-momen singkat dalam rutinitas harian manusia. Akibatnya, ibadah yang dilakukan dengan metode seperti itu tidak memberikan dampak spiritual yang komprehensif kepada seseorang. Oleh karenanya, Islam menawarkan kesempatan untuk mendapatkan pengalaman spiritual yang lebih intens. Suatu pengalaman yang lebih mengutamakan akhirat dan mengesampingkan hiruk pikuk dunia. Salah satu kesempatan itu adalah malam-malam Ramadhan yang diberkahi, sebagaimana yang tertuang dalam sabda baginda Nabi “Siapa saja yang melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah berlalu” (H.R. al-Bukhari). Dan puncak dari keberkahan ini adalah sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan. Aisyah menceritakan “Ketika memasuki sepuluh akhir Ramadan, Nabi fokus beribadah, mengisi malamnya dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk ikut ibadah,”(H.R al-Bukhari).

Dilihat dari segi dalil, dalam riwayat-riwayat yang ada mengenai sepuluh malam terakhir Ramadhan, tidak ada malam yang lebih difokuskan kecuali suatu malam yang dinamai dengan lailatul qadar. Bahkan, satu surat diturunkan secara eksklusif untuk menjelaskan malam ini. Allah berfirman:

إنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1)وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2)لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3)تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

Artinya: “(1) Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur`an) pada malam kemuliaan. (2) Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (3) Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (4) Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. (5) Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadar : 1-5)

Para ulamaberbeda falsafah mengenai makna di balik nama lailatul qadar, karena kata Qadarmemiliki beragam makna, dan masing-masing memiliki makna teologis sendiri.Beberapa ulama mendefinisikan Qadardalam konteks malam suci ini sebagai “takdir/suratan”. Pendapat ini dikuatkan oleh penganutnya dengan firman Allah pada surat ad-Dukhan ayat 3 dan 4.  Menurut mereka, pada malam inilah dimana nasib setiap orang diputuskan, begitu juga dengan rezeki seseorang, umur, garis hidup dan hal-hal penting lainnya (tidak terkecuali jodoh) akan ditentukan oleh Sang Maha Kuasa.

Sementara ulama lainnya, mendefinisikan arti “Qadar” sebagai “keistimewaan”  yang menunjukkan superior, dahsyat, kebesaran, kehormatan dan kekuatan malam itu.Malam ini digambarkan sebagai titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih. Kata qadar yang berarti mulia ditemukan dalam ayat ke-91, dalam surat al-An’am yang berbicara tentang kaum musyrik. Allah berfirman, “MaqadaruAllaha haqqa qadrihiidz qalu ma anzala Allahu ‘ala basyarin min syay’i”(mereka itu tidak memuliakan Allah sebagaimana kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia).

Arti lain dari “Qadar” dalam konteks lailatul qadar, melibatkan makna “pembatasan”. Makna ini digunakan oleh al-Quran antara lain dalam ayat ke-26, surat ar-Ra’du: “Allah yabsuthu al-rizqa liman yasya’ wa yaqdiru(Allah melapangkan rezeki bagi yang dikehendaki dan mempersempitnya bagi yang dikehendakinya). Ini dipahami untuk menunjukkan bahwa bumi menjadi terbatas ketika malaikat turun ke bumi pada malam tersebut. Hal ini merupakan simbol pengakuan betapa agungnya lailatul qadar. Bagaimana bumi tidak akan “sesak”, narasi hadis menyebutkan bahwa para malaikat pada saat lailatul qadar di bumi jumlahnya lebih banyak dari pada jumlah kerikil/pasir.” (H.R. Ibnu Khuzaimah).

Baca juga:  Melatih Kesabaran Diri melalui Media Sosial

Lailatul qadarmerupakan hadiah untuk umat Nabi Muhammad ﷺ. Dalam kitab al-Muwatta Imam Malik, yang menyatakan satu riwayat oleh Abu Mus’ab az-Zuhri, ia mengatakan:

حدثنا مالك أنه بلغه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أري أعمار الناس قبله أو ما شاء الله من ذلك، فكأنه تقاصر أعمار أمته أن لا يبلغوا من العمل الذي بلغ غيرهم في طول العمر، فأعطاه الله ليلة القدر خيراً من ألف شهر

Imam Malik menyampaikan kepada kami, ia mendapat berita bahwa tatkala Rasulullah ﷺmelihat usia umat terdahulu yang panjang-panjang sesuai yang Allah kehendaki, beliau ﷺmerasa usia umatnya sangat pendek, sehingga amal mereka tidak sebanyak amal umat yang lainnya, karena panjangnya usia. Maka Allah memberikan lailatul qadaryang lebih baik dari pada 1000 bulan.

Secara hitungan matematika, lailatul qadaradalah satu malam yang keutamaannya lebih baik dari pada 1000 bulan atau kurang lebih setara dengan 83 tahun, 4 bulan. Orang yang telah melewatkan malam itu dengan berbagai amalan yang diridhai Allah. Maka, ia telah memperoleh kemuliaan 1000 bulan atau 83 tahun 4 bulan. Seandainya dua kali atau selama 2 tahun pasca Ramadhan, maka sudah 160 tahun lebih. Kalau misalkan 20 tahun seseorang melalui malam lailatul qadar, dengan ibadah di dalamnya, maka seolah-olah sama dengan beribadah selama 1.660 tahun atau bahkan lebih. Artinya, seolah-olah sejatinya usia umat Muhammad ﷺsudah melebihi 1000 tahun.

Selain hal di atas, terdapat hubungan antara lailatul qadardengan al-Quran, sebagaimana ayat dalam surat al-Qadar, disebutkan bahwa al-Quran diturunkan pada malam ini. Ada riwayat dari Ibnu ‘Abbas yang menjelaskan mengenai nuzul al-Quran, yaitu waktu diturunkannya permulaan al-Quran. Ibnu ‘Abbas berkata,

أنزل الله القرآن جملة واحدة من اللوح المحفوظ إلى بيت العِزّة من السماء الدنيا، ثم نزل مفصلا بحسب الوقائع في ثلاث وعشرين سنة على رسول الله صلى الله عليه وسلم

Al-Qur’an secara keseluruhan diturunkan dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Lalu diturunkan berangsur-angsur kepada Rasul sesuai dengan peristiwa-peristiwa dalam jangka waktu 23 tahun.” (H.R. an-Nasai).

Mempertegas pernyataan di atas, pakar tafsir, Syaikh as-Sa’di berkata dalam Tafsir al-Karim ar-Rahman, “Allah menjadikan permulaan turunnya al-Quran adalah di bulan Ramadhan di malam lailatul qadar.”

Waktu Malam Lailatul Qadar

Kapan tepatnya malam lailatul qadar  terjadi? Tidak ditemukan dalil mengenai hal tersebut. Hanya saja terdapat isyarat dari Nabi bahwa malam lailatul qadarberlangsung pada malam-malam ganjil dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan. Riwayat al-Bukhari menyebutkan sabda Nabi tentang ini’ “Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” Lebih spesifik, dalam kitab al-Muhalla bi al-Atsar, Ibnu Hazm al-Andalusi menjelaskan:

ليلة القدر واحدة في العام في كل عام، في شهر رمضان خاصة، في العشر الاواخر خاصة، في ليلة واحدة بعينها لا تنتقل أبدا إلا انه لا يدرى أحد من الناس أي ليلة هي من العشر المذكور؟ إلا انها في وتر منه ولا بد،

Lailatul Qadar itu ada hanya sekali dalam setahun, dan hanya khusus terdapat di bulan Ramadhan  serta hanya ada di sepuluh malam terakhirnya, tepatnya hanya satu hari saja dan tidak akan pernah berpindah harinya. Namun, tidak ada satu orang manusia pun yang tahu lailatul qadar jatuh di malam yang mana dari sepuluh malam tersebut. Yang diketahui hanyalah bahwa ia jatuh di malam ganjil.

فان كان الشهر تسعا وعشرين فأول العشر الاواخر بلا شك ليلة عشرين منه، فهى إما ليلة عشرين، وإما ليلة اثنين وعشرين، وإما ليلة أربع وعشرين، واما ليلة ست وعشرين، واما ليلة ثمان وعشرين، لان هذه هي الاوتار من العشر الاواخر

Andaikata Ramadhan itu 29 hari, maka dapat dipastikan bahwa awal dari sepuluh malam terakhir adalah malam ke-20. Sehingga, lailatul qadar dimungkinkan jatuh pada malam ke-20, atau ke-22, atau ke-24, atau ke-26, atau ke-28. Karena inilah malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir.

وان كان الشهر ثلاثين فأول الشعر الاواخر بلا شك ليلة احدى وعشرين، فهى إما ليلة احدى وعشرين، واما ليلة ثلاث وعشرين، واما ليلة خمس وعشرين، واما ليلة سبع وعشرين، واما ليلة تسع وعشرين، لان هذه هي أوتار العشر بلاشك

Andaikata Ramadhan itu 30 hari, maka dapat dipastikan bahwa awal dari sepuluh malam terakhir adalah malam ke-21. Sehingga, lailatul qadar dimungkinkan jatuh pada malam ke-21, atau ke-23, atau ke-25, atau ke-27, atau ke-29. Karena inilah malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir.

Tidak dijelaskan tanggal pasti dari lailatul qadarmengandung hikmah agar orang-orang bersemangat untuk mencarinya, atau agar ia tidak berputus asa jika merasa telah melewatkan malam mulia tersebut. Hal ini berbeda jika lailatul qadarsudah ditentukan tanggal pastinya, maka tentulah orang-orang yang mempunyai kebiasaan buruk akan meninggalkan ibadah pada malam-malam yang lain, sebelum atau sesudahnya.

Baca juga:  Tuhan dan Setan

Tanda-Tanda Lailatul Qadar

Dalam kitabShahih Fiqih Sunnahdisebutkan beberapa hal yang menjadi tanda-tanda malam lailatul qadar, yaitu;

  1. Udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء

Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan.” (H.R. at-Thayalisi)

  1. Malaikat menurunkan ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah, yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.
  2. Manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.
  3. Matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tidak ada sinar. Dari Abi bin Ka’ab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda yang artinya,”Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.” (H.R. Muslim)

Sebagian orang awam memiliki beragam khurafat dan keyakinan batil seputar tanda-tanda lailatul qadar, diantaranya: pohon sujud, bangunan-bangunan tidur, air tawar berubah asin, anjing-anjing tidak menyalak, dan beberapa tanda yang jelas invalid. Maka dalam masalah ini keyakinan tersebut tidak boleh diyakini kecuali berdasarkan atas dalil, sedangkan tanda-tanda yang disebutkan sudah jelas kebatilannya karena tidak adanya dalil baik dari al-Quran maupun hadis Nabi ﷺ.

Do’a di Malam Lailatul Qadar

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi, Aisyah bertanya kepada Rasulullah  ﷺtentang apa yang harus dibacanya jika dia bertemu malam lailatul qadar. Lalu beliau menjawab bacalah doa ini

اللَّهُمّ إنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فاعْفُ عَنِّي

(Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku).” (H.R. Tirmidzi)

Laylatulqadar tentu saja merupakan malam yang paling diberkati (ramadhan ini hingga hari kiamat nanti), seseorang yang melewatinya tentu sajatelahmelewatkan banyak hal yang luar biasa.Ulamamenyebutkan bahwa apa yang harus dihindari -selain dosa-adalah membuang-buang waktu di malam yang berharga tersebut, seperti berdebat, bergunjing, menyibukkan diri dengan belanja, atau kesibukan dunia lainnya. Seorang muslim harus ingat bahwa malam itu secara teknis dimulai pada Maghrib (matahari terbenam), dan berhati-hatilah bagaimana waktu dihabiskan sejak saat itu dan seterusnya. Jika seseorang yang beriman ingin menaati Tuhannya dan meningkatkan perbuatan baik dalam catatannya, ia harus berusaha untuk menghabiskan malam ini dalam ibadah dan kepatuhan. Jika ia memfasilitasi semua itu untuk dirinya, maka seluruh dosanya, sesuai janji Rasulullah ﷺ, akan diampuni.

Ya Allah, Lailatul Qadar-Mu, anugerahkanlah kepada kami, aamiin.

Komentar