Rokok merupakan salah satu komoditas yang sangat berbahaya bagi kesehatan, namun sayangnya barang ini dijual bebas dan bisa didapatkan dengan cara yang sangat mudah. Sejatinya,(sebelum datang dari orang lain), bahaya rokok telah “diingatkan” oleh “rokok itu sendiri”, terbukti saat seseorang membeli rokok dan membaca tulisan yang ada pada bungkusnya, akan ditemukan kata-kata yang mengarah pada betapa bahayanya rokok bagi kesehatan. Di antara peringatan itu tertulis, “MEROKOK MEMBUNUHMU”. Sayangnya, ungkapan “merokok mati, tidak merokok juga nanti akan mati” seringkali digunakan perokok sebagai dalih ketika diingatkan tentang bahaya merokok. Padahal pernyataan tersebut tidak dapat dibenarkan sama sekali.

Menurut catatan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia atau IAKMI, 51,1 persen masyarakat Indonesia adalah perokok aktif. Angka ini adalah yang paling tinggi untuk kawasan Asia Tenggara. Jika hal ini dihubungkan dengan fakta bahwa Indonesia adalah negara dengan berpenduduk muslim terbesar di dunia (lebih kurang 200 juta muslim), tentu hasil penelitian IAKMI tersebut amat “mencengangkan”.

Dalam ajaran Islam, merokok adalah perbuatan yang dilarang. Kesimpulan ini diambil dari kaidah yang berbunyi bahwa perbuatan yang bahaya dan membahayakan orang lain hukumnya adalah haram. Dan hal ini ada pada rokok, yaitu membahayakan diri sendiri serta membahayakan dan mencelakakan orang di sekitar yang menghirup udara rokok tersebut. Rasulullah ﷺ bersabda;

ﻻ ﺿَﺮَﺭَ ﻭﻻ ﺿِﺮﺍﺭَ

“Tidak (boleh melakukan/menggunakan sesuatu) yang berbahaya atau membahayakan (orang lain)” (H.R. Ibnu Majah)

Sayangnya, rokok telah membuat seseorang candu. Hal ini disebabkan kandungan nikotin yang ada pada rokok. Sehingga, tidak mengherankan jika banyak perokok aktif yang mengalami kesulitan untuk benar-benar berhenti merokok meskipun berbagai cara telah diupayakan. Tetapi, bagaimanapun itu, berhenti merokok adalah keharusan atau kemestian. Siapa yang melakukannya, berarti ia telah mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya, serta telah memberi diri kesempatan untuk hidup lebih sehat dan lebih lama (baca;berkah).

Baca juga:  Mengenal Allah sebelum Mengenal Wahyu-Nya

Sebenarnya berhenti merokok bukanlah suatu yang mustahil. Hal ini dapat dilihat dari kemampuan para perokok untuk tidak merokok saat berpuasa pada bulan Ramadhan. Puasa telah mengajarkan kepadanya agar ia tidak membakar satu batang rokok pun. Siang hari ia menahan diri dari merokok dan malam hari (sejatinya) ia juga bisa mencari ganti lain (dari rokok) dengan makanan dan minuman yang lebih menyehatkan tubuhnya.

Selain itu, sejatinya puasa yang dijalankan (lebih kurang 13-14 jam untuk kawasan Indonesia) telah memberi dampak yang luar biasa bagi seorang perokok. Pada laman CNN Indonesia dengan judul artikel “Yang Terjadi pada Tubuh Ketika Berhenti Merokok” dinyatakan bahwa tubuh manusia telah mengalami dampak positif setelah 20 menit dari saat ia berhenti dari rokok, yaitu tekanan darah dan denyut nadi akan kembali pada level normal, serat dalam tabung bronkial yang sebelumnya tidak bergerak dengan baik karena paparan asap terus menerus akan mulai bergerak kembali. Hal ini bermanfaat untuk paru-paru. Sedangkan 8 jam selepas rokok terakhir, kadar karbon monoksida dalam tubuh akan kembali normal.

Karbon monoksida merupakan zat kimia dalam rokok yang “mengenyahkan” partikel oksigen dalam darah. Ketika karbon monoksida berkurang, secara tidak langsung kadar oksigen akan meningkat. Hal ini membantu menyehatkan jaringan dan pembuluh darah. Apalagi dalam waktu satu minggu setelah rokok terakhir, dampak positifnya tidak saja demi kesehatan yang jauh lebih baik, namun juga untuk kesuksesan rencana perokok demi berhenti merokok dalam jangka waktu yang panjang. Penelitian membuktikan bahwa mereka yang sukses hidup tanpa rokok dalam satu pekan, sembilan kali lebih mungkin berhasil berhenti merokok.

Dalam buku “Puasa Ibadah Kaya Makna” juga disebutkan bahwa secara fisik, ilmu kedokteran telah amat lama membuktikan bahwa besarnya manfaat puasa. Para dokter seringkali menyarankan untuk berpuasa bagi ia yang mempunyai suatu keluhan atau penyakit yang yang susah disembuhkan. Di samping itu, psikis seseorang yang boleh jadi terkendala disebabkan perilaku merokok dapat diatasi dengan berpuasa, sebagaimana yang dituangkan dalam buku “Puasa Menuju Sehat Fisik dan Psikis” bahwa kesehatan psikis manusia yang ditandai dengan (1) dapatnya seseorang menyesuaikan kenyataan secara konstruktif meskipun kenyataan itu buruk, (2) dapat memperoleh kepuasan dari perjuangan, (3) bebas dari rasa tegang dan cemas, (4) dapat berhubungan dengan lingkungan secara tolong-menolong, (5) dapat menerima kekecewaan untuk dijadikan sebagai pelajaran di kemudian hari, (6) dapat menjuruskan rasa permusuhan pada penyelesaian secara kreatif dan konstruktif, (7) merasa lebih puas memberi daripada menerima, (8) mempunyai daya kasih sayang yang besar disamping keinginan untuk dapat disayangi, (semuanya) mampu “dipulihkan” dengan seseorang melakukan puasa yang benar. Maka tidak dapat dipungkiri bahwa puasa adalah “obat ilahi” yang tidak dapat dibeli di apotek manapun. Dengan demikian, selama bulan suci Ramadhan, puasa akan menjadi kekuatan besar yang mendorong untuk melepaskan diri dari kebiasaan berbahaya ini.

Baca juga:  Enam Hal yang Membatalkan Puasa

Ramadhan yang telah disyari’atkan oleh Allah memang bulan yang dahsyat. Pada hari normal, orang cenderung sulit untuk menahan diri untuk tidak merokok karena rutinitas atau lainnya, tapi saat Ramadan, ia dapat menjauhkan diri dari kebiasaan merokok. Jadi, hal yang perlu direnungkan adalah; jika ia mampu menahan dirinya dari rokok selama 13-14 jam, mengapa kebiasaan baik ini tidak dilanjutkan saja? Tambahan pula bahwa pada akhirnya, tiada senjata orang beriman yang lebih dahsyat daripada doa. Kita mendoakan bagi para perokok, agar dapat menjadikan bulan Ramadhan sebagai momentum untuk berhenti dari kebiasaan merokok. “Innaka lan tada’a syay’an lillahi ‘azza wajalla illa baddalaka allahu bihi ma huwa khairun laka minhu”. Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik (H.R. Ahmad).

Komentar