“Ma, Mama jangan mati hari ini. Meski ini hari Jumat, Mama tidak usah tergesa-gesa. Orang-orang bilang mati di Hari Senin berarti berkah, mati di Hari Selasa berarti dosanya diampuni, mati di Hari Rabu berarti mulia, mati di Hari Kamis berarti orang baik, mati di Hari Jumat berarti ahli ibadah, mati di Hari Sabtu berarti orang yang jujur, dan mati di Hari Minggu berarti senang berderma. Itu artinya, Mama boleh mati kapan saja. Tidak harus hari ini. Besok Bi Nani akan datang. Membawakan sate kerang pesanan Mama. Aku tidak suka sate kerang. Kalau Mama tak makan, takutnya terbuang. Apalagi Senin nanti, segala urusan adminitrasi di kantor yang aku datangi sejak sebulan lalu dijanjikan selesai. Ada banyak kabar gembira besok, lusa, dan seterusnya, Ma. Aku minta maaf terlambat menyadari perasaan Mama. Banyak diluaran sana orang-orang mau mati karena hatinya tersakiti. Padahal, seperti luka di badan, hati pun bisa pulih. Jarang-jarang kita temui orang yang mau mati karena hilang satu atau dua kaki-tangannya. Hati ini susah sekali dipahami. Dulu, ku pikir Mama hanya seorang gadis desa yang canggung duduk satu pelaminan dengan lelaki yang baru pertama kali ia jumpa. Aku lihat ekspresi macam itu di foto pernikahan yang tidak kuhadiri namun menghadirkanku di dunia ini. Sehari-hari Mama selalu menertawakan dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja seolah lapar dan letih hanya gurauan yang tak berwujud. Mama pernah patah hati, dan Mama pulih. Kesalahanku adalah tidak menyadari bahwa Mama jarang sekali tersenyum. Tidak, tidak. Mama selalu cantik. Apalagi saat mata Mama seolah hilang ditelan tawa yang renyah dan mengundang tawa pula dari sekeliling. Aku sendiri menyaksikan Mama sebagai orang yang terakhir tidur dan pertama bangun di rumah. Mama menyapa tetangga dan pergi bekerja. Mama pulang dan Mama mendengarkan aku bercerita. Hanya saja, Ma, kita tertawa karena hal lucu, sedangkan kita tersenyum karena di perut kita ada kupu-kupu. Barangkali Mama banyak tertawa karena begitu banyak hal konyol dalam hidup. Aku ingat Mama pernah bilang bahwa saat kita sudah bisa menceritakan hal paling menyedihkan sekali pun menjadi lelucon, kita telah menang dari rasa sakit itu. Rasa sakit seperti apa sih yang harus kita menangkan? Bukankah untuk menang dari rasa sakit kita perlu menghadapinya? Bukankah semua orang menghindari rasa sakit? Kalau bisa memilih, aku tidak ingin Mama sakit. Meskipun kita tak menjadi pesakitan yang menang, kita bisa bahagia. Bahagia, Ma, ternyata adalah kebebasan. Kebebasan memilih kekasih, menggunakan harta, dan menyembah Tuhan. Hanya satu saja yang pernah Mama cecap jadi kebahagiaan. Jadi, Mama jangan mati hari ini. Aku bisa kasih Mama satu kebahagiaan lagi jika Mama bersabar.”

Baca juga:  Jendela

***

Headline news: seorang siswa SMA membawa kabur mayat ibunya dari rumah sakit x karena tidak sanggup membayar biaya perawatan. 

Komentar