Beberapa waktu yang lalu, PImpinan Redaksi Surauparabek, Fadhli Lukman, menghubungi saya dan meminta sebuah tulisan berkaitan dengan kondisi literasi di Sumatera Thawalib Parabek hari ini. Sebagai orang dalam (baca: alumni yang sedang ngabdi di pondok sendiri), sedikit banyaknya saya khawatir akan subjektivitas yang bakal muncul. Oleh karena itu, ketimbang menulis sebuah artikel saya akhirnya memutuskan menulis sekelebat pengalaman indrawi saya selama kurang lebih enam bulan beraktivitas erat dengan literasi di pondok kita ini.

Sekitar bulan Juli 2020, saya mendapat kabar bahwa salah seorang santri kelas 6 bernama Dwi Puja Syaharani menerbitkan novel berjudul Seruan Gadis Rembulan. Tak lama berselang, buku kumpulan cerpen berjudul Kamu, Anugerah, dan Kita karya Ustadz M. Risal ikut terbit. Akhir tahun 2020, Dwi Puja Syaharani kembari membuka prapesan novel keduanya yang berjudul Buaian Mimpi. Di tahun yang sama, dari surauparabek sendiri telah terbit buku dari dua orang alumni yaitu Sehari Bersama Ilmu Sharaf karya Rafi Dinil Haq dan Pers Islam Minangkabau karya Khairul Asdiq.

Namun, hemat saya, wajah literasi si pesantren sebaiknya tidak hanya kita lihat dari sisi produk tetapi juga dari sisi budaya membaca dan menulis para santri dan gurunya. Kalau soal hitung-hitungan produk, hitung-hitungan buku, barangkali prestasi yang saya sebut di atas bakal tidak berkutik di bawah perhitungan statistika. 1 santri dari kurang lebih 1800 orang santri di tahun ajaran 2020-2021. 1 orang guru dari total kurang lebih 150 guru. Belum lagi 2 orang alumni dari sekian banyak alumi Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek Bukittinggi.

Terlepas dari angka-angka yang barangkali tidak perlu saya sebutkan persentasenya, ada pula hal-hal yang barangkali bisa saya soroti terkait literasi di Parabek hari ini. Di antaranya, kegigihan seorang guru yang tidak pernah absen mengikuti lomba menulis bulanan yang diselenggarakan Parabek untuk para guru dan pegawai.

Baca juga:  Refleksi Bentuk dan Tanggung Jawab Ulama

Program ini dimulai bulan Agustus 2020 dan masih berlanjut hingga sekarang. Beliau, guru yang barangkali tidak usah saya sebutkan namanya, tidak pernah sekali pun absen mengikuti lomba ini. Secara personal beliau pernah mengatakan kepada saya bahwa beliau masih belajar menulis. Beberapa kali juga beliau mendatangi saya dan bertanya terkait dengan lomba menulis yang berbeda jenis tulisannya setiap bulan. Beliau gigih bertanya, rajin membaca, dan mengaku mendapatkan wadah untuk mengembangkan minatnya di bidang kepenulisan dengan diadakannya lomba ini. Ketika saya menawarkan membantu mengirimkan karya beliau ke media-media elektronik, waktu itu beliau menolak. Ia bilang masih belum percaya diri. Seiring waktu, akhir-akhir ini, saya lihat beliau terkadang sudah mulai mengungah hasil tulisannya di media social pribadi miliknya.

Hal lain yang juga menarik perhatian saya terjadi di santri tingkat 1 Tsanawiyah yang saya ajar. Desember 2020 lalu, saat saya mengawas UAS, berkat waktu ujian yang lama, saya memberikan kelonggaran dengan memperbolehkan mereka mengumpulkan lembar ujian lebih cepat dari waktu yang ditentukan asal mereka tidak meninggalkan kelas. Hampir seluruh santri mengumpulkan lembar jawaban mereka walau pun masih ada waktu 1 jam tersisa untuk mata ujian tersebut. Santri-santri yang telah mengumpulkan ujian kembali duduk di bangku mereka setelah mengambil buku yang ada di tas yang dikumpulkan di belakang kelas. Ada yang mengambil buku catatan untuk ujian berikutnya dan ada pula yang mengambil buku untuk sekedari dicoret-coret.

Beberapa orang santri, terlihat oleh saya saling bertukar buku isi 40. Karena penasaran, saya mendatangi mereka dan curi-curi lihat. Di sana saya lihat untaian kisah hasil tulis tangan. Perlahan saya dekati dan saya bertanya. Awalnya mereka ragu-ragu, mungkin takut kena marah, setelah saya pancing-pancing dengan nama salah satu member K-Pop yang saya pernah lihat di coretan meja mereka, mereka mulai bicara panjang lebar.

Baca juga:  Perpustakaan Ponpes Sumatera Thawalib Parabek di Generasi Keberapa?

Mereka mengaku tidak ada hiburan lagi setelah masuk asrama. Biasanya di rumah bisa nonton tv, youtube, game, tapi di asrama mereka hanya bisa membaca novel. Itu pun tidak sembarang novel. Novel-novel tentang idol korea sering disita di asrama. Jadi, mereka mengarang cerita versi mereka sendiri, dengan idol kesukaan mereka, yang kemudian saat di kelas mereka saling pertukarkan satu sama lain.

Dalam lingkaran diskusi kecil mereka, saya melihat diskusi layaknya bedah buku profesional.  Kenapa tokohnya seperti ini, apa yang terjadi, seharusnya bisa lebih seru kalau diginikan, pertanyaan-pertanyaan ini kemudian dibalas jawab oleh si penulis. Lalu secara bergantian karya itu saling dipertukarkan dan dibaca. Tidak jarang juga beberapa santri yang hanya mau membaca tanpa ikut menulis ikut ambil antrian.

Tidak hanya itu, sejak September 2020, Parabek juga berkomitmen hendak menerbitkan Majalah Al-Bayan versi majalah sekolah yang terbit sekali setahun. Komitmen ini dibuktikan dengan dibentuknya redaktur Majalah Al-Bayan edisi 2020-2021 yang terdiri dari 16 orang santri dari kelas 1,2,4, dan 5. Beberapa karya mereka telah terbit di website resmi Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek Bukittinggi. Kini, mereka tengah menyusun rubrik yang akan diterbitkan dalam majalah ini nantinya.

Ada banyak kebiasaan-kebiasaan kecil yang saya temukan dan menghangatkan hati. Barangkali tidak semua kisah itu dapat saya sampaikan di sini. Hanya saja, saya bisa mengatakan bahwa literasi di Parabek tidak pernah mati, apa pun bentuknya.

Komentar