Kejadiannya kurang lebih seperti ini: suatu pagi Farhan berteriak kalap saat sadar sepatunya hilang sedangkan ia perlu sekali memakai sepatu kulit itu karena ia bakal jadi komandan upacara bendera. Kekesalannya menjalar dari kamar ke kamar dan tersampaikan ke seluruh asrama tidak sampai hitungan jam. Ini jelas berbeda dari kasus-kasus ghasab sandal jepit saat hendak jumatan. Tidak saat yang dighasabadalah sepatu kulit dan waktu ghasabnya adalah detik-detik pelaksanaan upacara bendera yang bakal dihadiri langsung ustad ternama dari pulau jawa dan gubernur Sumatera Barat di pondok pesantren tercinta.

Mari kita abaikan saja bagaimana nasib Farhan dalam upacara bendera itu. Kita jelas lebih tertarik pada kasus ghasab yang luar biasa tidak tahu diri ini. Berbagai spekulasi muncul dan tentu saja saya sebagai penulis tidak boleh mengutarakan salah satu saja karena kemungkinan besar saya bisa dituntut karena dituduh penggiringan opini.

Spekulasi pertama datang dari Santri A. Santri A awalnya pura-pura mengelak bahwa ia memiliki pendapat tentang kasus ini. Ia berdalih takutnya pendapatnya adalah tuduhan tidak berdasar yang bisa menjerumuskannya ke dalam perbuatan fitnah. Santri A tahu bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Oleh karena itu Santri A keras kepala sekali tidak ingin asal bicara. Baru setelah dibujuk-bujuk lagi, Santri A bersedia memberikan spekulasinya dengan syarat ia hanya akan menceritakan apa yang ia lihat dan bukan ‘siapa’ yang mungkin ia lihat di malam hari sebelum kejadian ini bermula.

Malam sebelum Farhan kehilangan sepatu kulitnya, Santri A melihat anjing peliharaan penjaga asrama Uwak Ito muntah-muntah. Ia yang sedang dalam perjalanan pulang dari masjid ke asrama mempercepat langkah karena tidak suka dengan suara dan bau amis muntahan anjing. Hanya Santri U yang berjalan mendekati anjing itu berharap bisa menolong. Dan dari situ lah kecurigaan Santri A terhadap Santri U bermula.

“Orang mana yang mau mendatangi muntahan anjing dengan sandal jepit? Pasti ia ghasab sepatu kulitnya si Farhan supaya kakinya tidak kecipratan campuran ludah dan isi perut anjing Uwak Ito. Lalu saat ia mau mengembalikan, ia takut karena sepatu itu sangat kotor dan sangat bau, makanya Santri U menyembunyikan sepatu itu karena takut aksi ghasabnya ketahuan”

Saya mengangguk paham, tapi belum setuju. Saya pikir persetujuan saya akan sesuatu di tulisan ini akan berpengaruh besar pada pikiran para pembaca sekalian. Jadi, sebelum spekulasi ini dianggap benar, saya langsung buru-buru mencari Santri U supaya tulisan ini tetap tidak memihak salah satu pihak. Kira-kira begini perjumpaan kita dengan Santri U.

Baca juga:  Sajak-sajak Nurfirman

Santri U sedang menuju rapat evaluasi Tabligh Akbar bersama para pengurus dan ustad-ustadzah Pembina IPST. Santri U adalah koordinator lapangan. Ia bilang ia tidak punya banyak waktu, jadi kita tidak bisa menceritakan spekulasi Santri A terlebih dahulu. Untunglah Santri U langsung bercerita.

“Benar, malam itu anjing Uwak Ito muntah-muntah hebat sehingga isi perutnya membludak di tanah. Aku khawatir muntahan itu bakal jadi cacat bagi pesantren kita saat sang ustadz dan gubernur Sumatera Barat datang kesini. Jadi aku memberanikan diri mendatangi anjing Uwak Ito dan membawanya ke sawah di belakang warung Pak Malin. Namun anehnya, setelah aku kembali ke dekat masjid, muntahan itu sudah ditimbun tanah. Setelah aku memberitahu Uwak Ito kalau anjingnya aku ikat di dekat sawah, aku langsung kembali ke asrama. Waktu itu semua kamar sudah mati lampunya kecuali kamar Santri J. Saat kuintip, Santri J sedang ganti baju. Bajunya basah oleh keringat. Kupikir, mungkin Sanri J adalah orang yang menimbun muntahan itu. Barangkali, bisa jadi, ia ghasab sepatu kulitnya si Farhan supaya kakinya tidak kecipratan tanah dan muntahan anjing Uwak Ito. Lalu saat ia mau mengembalikan, ia takut karena sepatu itu sangat kotor dan sangat bau, makanya Santri J menyembunyikan sepatu itu karena takut aksi ghasabnya ketahuan.

Ah! Ustad Zaki sudah panggil buat rapat. Mohon maaf tidak bisa banyak membantu. Nanti kalau masih perlu pendapatku, datang saja ke kamarku. Assalamualaikum”

Hemat kata, tinggal santri J yang belum kita datangi. Namun saya begitu lelah karena tidak bisa tidur semalaman, jadi saya minta sejenak waktu untuk beristirahat. Semalam urat-urat saya terasa begitu kaku dan saya merasa ketakutan. Eh, bukan! Maksudnya saya mengalami insomnia. Ya beginilah akibat kalau tidur tidak nyenyak. Saya jadi asal bicara. Mohon maaf sekali lagi atas ketidakprofesionalan saya. Lebih baik kita lanjutkan lagi wawancara ini. Toh sepertinya, sehabis mengetahui spekulasi Santri J, saya bakal mendapat cukup bahan untuk ditulis.

Santri J adalah teman saya, tapi semoga hal ini tidak mengganggu objektivitas kita dalam mengetahui pandangan-pandangan tentang kasus ghasabsatu ini. Saya menemuinya di kamar waktu antara salat maghrib dan salat isya. Santri J tampak terkejut saat mengetahui maksud kedatangan kita padanya.

Baca juga:  Tepat Sebelum Malam Jatuh #1

“Kupikir kau tak akan datang menanyakan perihal ini padaku” Santri J berbasa-basi. Saya tersenyum masam. “Kisah seperti apa yang ingin kau dengar?” tanya Santi J.

Mungkin karena bosan menunggu jawaban, Santri J jadi bercerita tanpa diminta. Tutur Santri J, bahwa malam itu ia sehabis pulang dari masjid. Uwak Ito mendatanginya karena Santri U bilang anjing Uwak Ito muntah-muntah dan sekarang ada di sawah belakang warung Pak Malin. Istri Uwak Ito masuk angin sejak sore sehingga Uwak Ito minta tolong Santri U untuk melihat kondisi anjingnya.

Santri J bolak-balik dari rumah Uwak Ito-sawah belakang Kedai Pak Malin. Kali pertama untuk bilang ke Uwak Ito kalau anjingnya memuntahkan plastik. Lalu Uwak Ito menyuruhnya membawa air hangat dan kardus berisi kain bekas supaya anjing itu tidak mati kedinginan. Santri J lakukan sebagaimana pinta Uwak Ito, tapi anjing itu makin gila muntahnya. Kali kedua Santri J balik ke rumah Uwak Ito, Santri J sekalian membawa anjing itu dalam kardus. Santri J mengaku tidak tahu cara merawat anjing, tapi tahu cara merawat manusia yang masuk angin. Jadi ia berganti peran dengan Uwak Ito. Anjing itu dirawat Uwak Ito, sedangkan Santri J mengambilkan obat dan memasak air hangat untuk istri uwak. Jelas ia kembali ke asrama dengan baju basah keringatan.

“Padahal sepatu itu dikembalikan tepat waktu. Kenapa kau justru berkeliling mencari pernyataan tentang kasus ghasab ini? Bukankah lebih baik menuliskan straight news tentang kesuksesan Tabligh Akbar tadi pagi?”

Santri J mengakhiri percakapan kita saat azan isya berkumandang. Ia mengambil sarung dan peci, mengenakannya, dan bergegas menuju masjid sambil memakai sandal jepit yang jelas-jelas bukan punya dia. Kalian boleh menduga-duga kalau Santri J menyembunyikan perihal ghasab sepatu kulit Farhan. Terlebih ia barusan ghasab sandal jepit saya untuk pergi ke masjid.

Tidak! Tidak! Saya tidak sedang menggiring opini anda bahwa yang menghasab sepatu Farhan adalah Santri J. Padahal kemungkinan besar kalau kita tahu siapa yang menimbun muntahan itu, kita bisa tahu siapa yang sebenarnya melakukan ghasab. Barangkali pembaca sekalian bisa mencari informasi itu di lain tulisan seperti Sepatu Komandan ditemukan di kamar Santri J sehabis disucikan 7x dengan tanah dan air, atau mungkin juga Ghasab salah waktu jurnalis S. Saya takut menuliskan kisah saya sendiri bakal memengaruhi objektivitas tulisan ini.

Semoga Allah mengampuni kesalahan kita semua. Amin.

TAMAT

Komentar