Bagaimana cara mencari ide sebuah tulisan?

Beberapa hari yang lalu saya diundang menjadi pemateri dalam sebuah diskusi literasi yang membahas tentang cerpen. Dalam diskusi itu salah seorang peserta sempat bertanya, “Bagaimana menemukan ide untuk ditulis?” Pertanyaan ini sangat umum sebenarnya, saya punya banyak stok jawaban.  Ajaibnya, di diskusi yang justru hanya mengandalkan layar, saya teringat pada jawaban paling pribadi yang saya punya.

Kebanyakan orang menulis cerita pertamanya berdasarkan hal yang ia lihat, hal yang ia rasakan, hal yang ia alami sendiri. Saya pun demikian. Awal-awal menulis, saya menceritakan diri saya. Menulis pertengkaran saya dengan teman, menulis sekolah saya, guru-guru yang saya kagumi, kelucuan mondok, jalan yang saya lewati, dan segala hal yang terjadi pada diri saya.

Puncaknya, saat cerpen saya diterbitkan oleh salah satu koran lokal. Cerpen itu berjudul Jalur Lima Waktu. Cerpen yang saya tulis dari kebiasaan duduk di pelataran Masjid Parabek sembari menunggu jemputan pulang. Cerpen ini juga ditulis dari pengalaman saya menyaksikan kepulangan salah seorang guru besar kita, Inyiak Abdul Ghafar ke hadirat Sang Maha Pencipta. Pengalaman ini saya jabarkan berdasarkan hal yang saya lihat, saya rasakan, dan saya alami. Hari itu seluruh pondok berduka. Barisan pelayat memenuhi jalan. Berbaris mengular dari gerbang sekolah, gerbang masjid, gerbang asrama, hingga ke rumah duka. Santri-santri berkerumum hendak menyaksikan bagaimana prosesi pemakaman guru yang dicintai oleh semua orang.

Baca juga:  Kesehatan adalah Perilaku

Saya melakukan itu berkali-kali. Saya menulis hal-hal yang ada di sekeliling saya, menambah menguranginya dengan imajinasi versi saya. Begitu, sampai saya bertemu dengan Ambu Yuke.

Masa itu saya memang sedang dilanda hal yang orang-orang sebut writer block. Tulisan saya mampat. Jika di tahun-tahun sebelumnya saya bisa menulis puluhan cerpen, tahun 2016 saya hanya berhasil menulis empat cerpen. Itu pun, menurut saya pribadi, bukan cerpen yang memuaskan.

Bertemu dengan Ambu Yuke di tahun yang sama sedikit banyak membuat saya tersentak. Saya ingat sekali Ambu, saat memperkenalkan diri, selalu bilang, ”Saya belum menemukan gunung yang lebih tinggi dari lutut saya.” Ambu puitis sekali. Dia bertanya tentang tulisan-tulisan saya. Juga mendengarkan keluhan saya.

“Kalau hanya menunggu sesuatu yang luar biasa terjadi padamu, suatu saat penamu akan kering,” dengan aura tenang dan hangat Ambu berpesan di akhir perjumpaan singkat kami.

Saya mengingat-ingat aktivitas saya sepanjang 2016. Kebanyakan didominasi oleh persiapan munaqasyah paper, ujian akhir, dan persiapan ujian masuk perguruan tinggi. Saya bangun pagi, menghafal. Lalu siap-siap ke sekolah. Di sekolah pun bahasan anak kelas tidak jauh-jauh dari soal dan rumus. Pulang sekolah menyempatkan diri menonton, berbicara dengan kucing, makan, dan mengerjakan PR. Bahkan, malam dimana biasanya dihabiskan dengan bercengkrama dengan keluarga waktu itu dihabiskan dengan mengerjakan tugas dan membahas soal.

Baca juga:  Resensi Antologi Cerpen Pukul 6

Saya mulai mengubah pola menulis saya selepas itu. Di tahun yang sama, 2016, setelah pertemuan saya dengan Ambu Yuke yang bahkan tidak sampai 2 jam, saya memutuskan berhenti menulis tentang diri saya.

Mengubah pola itu sulit sekali. Namun di satu sisi membuat saya jadi memiliki lebih banyak hal untuk ditulis. Saya jadi lebih banyak mengamati orang lain dan membayangkan bagaimana perasaan orang itu. Saya memutuskan memposisikan diri saya sebagai orang lain.

Saya membayangkan diri saya sebagai orang tua yang menghadapi keluguan anak yang masih berfikir konkret, maka saya menulis Penggaris Untuk Arini. Saya membayangkan peristiwa ghasab terjadi di pondok saya saat perayaan milad, maka saya menulis Kisah Ghasab dan Omong Kosong yang Seru. Saya membayangkan diri saya bercakap pada ibu saya di akhir hayatnya, maka saya menulis Mama Jangan Mati Hari Ini.

Saya belajar menjadi orang lain saat saya belajar menulis. Meski jujur sampai detik ini pun, saya masih menulis kejadian luar biasa yang terjadi di hidup saya, hanya untuk menyenangkan diri. Hari ini, saya kembali memiliki rutinitas yang monoton. Bangun pagi, menyiapkan materi, pergi ke sekolah, mengajar, memeriksa tugas siswa, menulis berita, membalas pesan masuk, pulang, membaca, dan tidur.

Hidup saya mungkin membosankan. Tapi, yasudahlah.

Komentar