Secara asal shalat tarawih itu dikerjakan dua raka’at setiap salam (2-2). Tidak ada ulama yang mempermasalahkan tarawih yang dikerjakan 2-2. Lalu bagaimana hukumnya jika dikerjakan empat raka’at sekali salam (4-4)? Di sini ada masalah.

Dalam mazhab Syafi’i mengerjakannya tarawih 4-4 tidak boleh. Terkait tarawih yang dilaksanakan dengan format tersebut, ada perincian hukumnya. Jika seseorang mengerjakan tarawih 4-4 padahal ia tau itu tidak boleh, maka shalatnya batal, tidak sah. Namun, jika ia mengerjakannya dalam posisi tidak tahu, maka shalatnya sah tapi hanya terhitung sebagai shalat sunat mutlak, bukan tarawih. 

Dalam Tuhfah disebutkan:
وَيَجِبُ التَّسْلِيمُ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ كَمَا مَرَّ، فَإِنْ زَادَ جَاهِلًا صَارَتْ نَفْلًا مُطْلَقًا

Dalam Nihayah, sebagai berikut:
وَلَوْ صَلَّى أَرْبَعًا بِتَسْلِيمَةٍ لَمْ يَصِحَّ إنْ كَانَ عَامِدًا عَالِمًا، وَإِلَّا صَارَتْ نَفْلًا مُطْلَقًا؛ لِأَنَّهُ خِلَافُ الْمَشْرُوعِ

Berbeda dengan Syafiiyah, jumhur ulama mengatakan shalat tarawih yang dikerjakan empat rakaat sekali salam hukumnya tetap sah. Hanya saja, penjelasan rincia antar mazhab berbeda. Dalam mazhab Malik shalat tarawih 4-4 itu sah tetapi hukumnya makruh, tidak dianjurkan sama sekali.

Dalam Hasyiah al-‘Adawi:
قَوْلُهُ : وَيُسَلِّمُ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ أَيْ يُنْدَبُ، وَيُكْرَهُ تَأْخِيرُ السَّلامِ بَعْدَ كُلِّ أَرْبَعٍ

Dalam mazhab Hambali ada khilaf. Imam Ibnu Qudamah berpendapat shalat tarawih 4-4 itu tidak sah sama sekali, sebagaimana mazhab Syafii. Beliau berlandaskan pada Nash imam Ahmad yang menyebutkan bahwa orang yang berdiri untuk rakaat ketiga dalam tarawihnya harus kembali duduk untuk salam meskipun ia sudah mulai membaca al-Fatihah; mesti seperti itu. Namun demikian, yang masyhur dalam mazhab ini shalat 4-4 itu sah tetapi hukumnya makruh, sebagaimana mazhab Malik.

Baca juga:  Mengenal Allah sebelum Mengenal Wahyu-Nya

Dalam al-Inshaf:
وَقِيلَ: لَا يَصِحُّ إلَّا مَثْنَى فِي اللَّيْلِ فَقَطْ، وَهُوَ ظَاهِرُ كَلَامِ الْمُصَنِّفِ (ابن قدامة) هُنَا وَاخْتَارَهُ هُوَ وَابْنُ شِهَابٍ وَالشَّارِحُ وَقَدَّمَهُ فِي الرِّعَايَةِ الْكُبْرَى قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ فِيمَنْ قَامَ فِي التَّرَاوِيحِ إلَى ثَالِثَةٍ يَرْجِعُ وَإِنْ قَرَأَ؛ لِأَنَّ عَلَيْهِ تَسْلِيمًا، وَلَا بُدّ،َ فَعَلَى الْقَوْلِ (المعتمد) بِصِحَّةِ التَّطَوُّعِ بِزِيَادَةٍ عَلَى مَثْنَى لَيْلًا: لَوْ فَعَلَهُ كُرِهَ عَلَى الصَّحِيحِ مِنْ الْمَذْهَبِ جَزَمَ بِهِ فِي الْمُحَرَّرِ، وَالْفَائِقِ، وَالزَّرْكَشِيِّ وَقَدَّمَهُ فِي الْفُرُوعِ

Terdapat pula khilaf dalam mazhab Hanafi mengenai shalat tarawih 4 rakaat sekaligus tanpa tasyahud awal. Imam Muhammad bin Hasan, Zufar dan salah satu riwayat dari Imam Abu Hanifah menyebut shalat yang sedemikian dihukum batal, dan mesti diulang tarawihnya. Sementara itu, Imam Abu Yusuf dan yang masyhur dari Imam Abu Hanifah mengatakan shalat dengan cara tersebut sah, tetapi hanya terhitung sebagai shalat 2 rakaat saja. Ini lah yang difatwakan dalam mazhab tersebut.

Dalam al-Bahrur Raiq:
فَلَوْ صَلَّى الْإِمَامُ أَرْبَعًا بِتَسْلِيمَةٍ وَلَمْ يَقْعُدْ فِي الثَّانِيَةِ فَأَظْهَرُ الرِّوَايَتَيْنِ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ وَأَبِي يُوسُفَ عَدَمُ الْفَسَادِ ثُمَّ اخْتَلَفُوا هَلْ تَنُوبُ عَنْ تَسْلِيمَةٍ أَوْ تَسْلِيمَتَيْنِ قَالَ أَبُو اللَّيْثِ تَنُوبُ عَنْ تَسْلِيمَتَيْنِ وَقَالَ أَبُو جَعْفَرٍ وَابْنُ الْفَضْلِ تَنُوبُ عَنْ وَاحِدَةٍ وَهُوَ الصَّحِيحُ كَذَا فِي الظَّهِيرِيَّةِ وَالْخَانِيَّةِ وَفِي الْمُجْتَبَى وَعَلَيْهِ الْفَتْوَى

Mengapa shalat seperti ini hanya dinilai dua raka’at saja? Alasannya adalah karena duduk tasyahud awal dalam shalat sunat menurut mazhab Hanafi hukum adalah wajib. Dengan meninggalkan tasyahud awal maka secara qiyas 2 rakaat pertama itu sudah batal. Meskipun 2 raka’at tersebut batal, shalatnya tidak. Takbiratul ihram yang pertama masih berlaku berlandaskan pada istihsan. Dan dengan berlakunya takbiratul ihram itu maka ia pun boleh melanjutkan syafa’ yang kedua (yaitu rakaat ketiga dan keempat), kemudian dengan tasyahud dan salam baru lah terhitung shalatnya itu sebagai satu salam (terhitung seperti 2 rakaat). Penjelasan ini merujuk kepada al-Muhith al-Burhany.

Baca juga:  Ramadhan (bukan) Mie Instan

Kesimpulannya, jika seseorang merujuk pada pemahaman ulama dari mazhab yang empat, shalat tarawih empat rakaat sekali salam (4-4) itu tidak ada keistimewaannya sama sekali. Memaksakan shalat 4-4 ini malah hanya akan menyebabkan masalah. Kita cuma dihadapkan pada 2 kemungkinan: (1) bisa jadi shalatnya batal atau (2) bisa jadi fadhilahnya yang berkurang.

Hal ini menjadi problem terutama sekali di masjid kota-kota besar yang masyarakatnya majemuk dan memiliki latar belakang berbeda-beda. Jika dipaksakan 4-4, maka masyarakat yang sebelumnya sudah mempelajari bahwa shalat 4-4 itu tidak sah sesuai dengan mazhab Syafi’i tentu akan kebingungan. Bagaimana caranya ia bisa shalat di sana sementara dalam keyakinannya shalat seperti itu batal. Fungsi masjid sebagai tempat pemersatu umat Islam dalam hal ini terkikis.Bukankah melaksanakan ibadah yang disepakati kesahannya oleh para ulama lebih baik dibandingkan melaksanakan ibadah yang diperselisihkan hukumnya? Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Komentar