Alumni atau masyarakat umum yang mengetahui sekolah Inyiak Syekh Ibrahim Musa mengetahui nama populer dari lembaga pendidikan Islam ini adalah “thawalib Parabek”. Ternyata, di masa masa masa awal madrasah ini eksis pernah terjadi perubahan nama. Suatu ketika, ia pernah dikenal sebagai “Sumatera Thawalib Agam”.

Nama Agam di sini merujuk kepada luhak atau yang dulu juga dikenal sebagai residen Agam. Nagari Parabek berada di luhak/residen Agam. Pertukaran nama ini disepakati dalam sebuah rapat umum (Algemene Vergadering) Sumatera Thawalib Parabek 10 September 1920, yaitu dua tahun setelah Thawalib Parabek berdiri sebagai sebuah sekolah dengan sistem klasikal modern.

Lebih jelasnya, sejarah pertukaran nama tersebut dapat kita jumpai dalam terbitan majalah Al Bayan (nama lengkap majalah jika merujuk kepada teks arab melayu/Arab pegon adalah Albayan al-Mubin) No 24 19 Agustus 1920 M/15 Zulhijjah 1338 H. Di sampul belakang majalah (tidak ada nama rubriknya) terlihat semacam laporan (verslag) khusus untuk sosialisasi hasil rapat tersebut. Disebut khusus karena pada edisi-edisi lainnya, sampul belakang berisi daftar pelanggan majalah beserta tagihan biaya langganan. (mengenai majalah Al Bayan ini Insyaallah akan kita bicarakan dalam topik terpisah). Berikut isi laporan tersebut dengan ejaan yang disempurnkan (EYD).

Algemene vergedering (rapat umum) Sumatera Thawalib Parabek tanggal 10 September 1920

Sebelum vergadering (rapat) dibuka, saudara tuan H Salin yang memangku jabatan presiden pada perkumpulan ini mohon berwakil kepada tuan guru Sheikh Sutan Ibrahim supaya beliau menjadi Voorzitter (ketua) dalam vergadering ini.

Setelah beliau kabulkan permohonan saudara tuan H Salin itu, lantas beliau buka vergadering, sambil mengucapkan terima kasih kepada yang hadir. Kemudian berbicara sebagai demikian:

“Dengan segala hormat dimaklumkan kepada tuan-tuan yang hadir, bahwa nama perkumpulan kita “Sumatera Thawalib Parabek di voorstel (diminta) oleh tuan-tuan Sheikh Jamil Jambek, H. Lathif Syakur, H. Sidik A. Muin dan kawan kawan yang lain seperti yang tinggal di Sianok, Tilatang, Magek, Sungai Puar, dan lain-lain supaya nama Parabek itu ditukar dengan “Agam” Jadi nama perkumpulan lagi “Sumatera Thawalib Agam” adalah perkumpulan lebih besar dari yang sudah disebabkan (ed; disebutkan). Agam, sebagai tuan tuan yang hadir telah tahu bahasa (ed; bahwa) ia nama bagi pemerintahan assistant Resident van Agam. Sedangnya Parabek ialah sebuah kampung yang diperintahi kepala negri saja. Ya, yang demikian itu tentu menambah masyhur perkumpulan pula.

Supaya tuan tuan hadir dapat menimbang dengan terang, baiklah hamba bicarakan apa apa yang dibilang oleh tuan-tuan yang saya sebutkan tadi, ketika ia mengetengahkan voorstel nya itu kepada saya. Bahwa nama Parabek itu adalah sebagai pagar bagi Tawalib (ed; murid-murid) yang tidak tinggal di Parabek buat menjadi led (?) bagi Sumatera Thawalib”

Berhubungan dengan ini banyak pembicaraan beliau yang mana datangnya dari tuan-tuan yang berpermintaan tadi. Tetapi oleh karena perselag (laporan; verslag) sengaja pendek dan simpan ed; simple), tidak kita tulis semuanya, hanya kesudahan leseng (?) beliau itulah yang saya kembalikan kepada vergadering dan timbanglah bersama-sama voorstel (permintaan) itu.

Vergadering berfikir sejurus bakal menjawab pembicaraan beliau. Habis, Sain Maliki angkat bicara, “Menurut keterangan yang beliau sampaikan kepada kita itu, saya tidak dua hati lagi buat mengabulkan permintaan orang itu, sebab terlebih besar harapan saya moga-moga dengan bertukar nama itu  berduyun-duyunlah hendaknya segala penuntut yang lain itu menyamai kita masuk perkumpulan Sumatera Thawalib. Jadi, kalau makbul cita-cita kita itu dapatlah kita menuju gerakan yang suci dengan bersama, artinya tidak kita di Parabek saja lagi. Demikianlah pembicaraan saya. Habis, saudara H. Salin lemparkan bicara bicara Sain Almaliki kepada vergedering. Dengan ditakdirkan Allah semufakat semuanya buat mengabulkan permintaan kawan-kawan dan tuan-tuan tersebut dengan suara riuh hingga keluar suara dari mulut vergadering: Hip-hip Horaaaaaa….

akan disambung.

Verslegever (reporter)

Gezien voorzitter (ketua): Sheikh Sutan Ibrahim

Wakil Sekretaris: Sain Almaliki

(Majalah Al Bayan al Mubin No 24 Tanggal 19 Agustus 1920 M/15 Zulhijjah 1338 H)

 

Baca juga:  Parabek: Jangan Abaikan Sejarahmu!

Itulah laporan berita mengenai pertukaran nama Sumatera Thawalib Parabek menjadi Sumatera Thawalib Agam dalam rapat umum perkumpulan pada tanggal 10 September 1920. Sedikit hal yang masih menjadi tanda tanya adalah, laporan ini diterbitkan dalam majalah Al Bayan edisi Agustus 1920 sementara rapat umum itu sendiri dilaksanakan 10 September. Kita bisa mengasumsikan kesalahan penulisan tanggal rapat umum 10 September dari seharusnya 10 Agustus. Wallahu ‘alam, mungkin harus dikaji lebih lanjut.

Baca juga:  Inyiak Ibrahim Musa, Sumatera Thawalib Parabek, dan Mazhab Syafi`i

Alla kulli hal, nama Sumatera Thawalib Agam resmi dipakai setelah rapat umum dan hal tersebut bisa kita cek dalam terbitan majalah Al Bayan Al Mubin No 9 Tanggal 10 Januari dan No. 10 tanggal 14 Januari tahun 1921 sesuai dengan naskah yang ada di tangan penulis.

Masih tersisa satu pertanyaan lagi seputar nama Sumatera Thawalib Agam ini. Kenyataannya, nama yang telah digunakan dalam sejumlah dekade terakhir adalah Sumatera Thawalib Parabek. Maka, berapa lama nama Sumatera Thawalib Agam itu bertahan, dan kapan nama ini diganti kembali menjadi Sumatera Thawalib Parabek? Pertanyaan yang harus dicarikan jawabannya. Wallahu a‘alam.

Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.