Alhamdulillah dan Salawat kepada Nabi Muhammad Saw. Meskipun sedikit terlambat penulis bersyukur berkesempatan hadir dalam acara Silaturrahim Online dengan tema,” Sumatera Thawalib Parabek dalam Perspektif Alumni: Kenangan, Kenyataan dan Harapan”, hari Ahad semalam 22 Syawal 1441 H/14 Juni 2020 dimana untuk julung kalinya dibuat secara daring (online) melalui aplikasi Zoom yang diinisiasi oleh Ikatan Alumni, Yayasan dan Pondok.

Dipandu oleh Kanda Dr Zaim Rais dan Kanda Dr Ismail Novel, acara yang dimulai jam 19.30 berakhir lewat dari jam 22.00 terasa tak cukup waktu sehingga semua pembicara dari alumni yang terpampang nama dan foto dalam flyer yang disebar sejak seminggu sebelum acara terlihat tidak semua mendapat kesempatan menyampaikan buah pikiran disamping ada juga yang memang tidak berkesempatan hadir mengikuti acara reuni ini.

Secara waktu dan keadaan dirasakan acara reuni belum maksimal, baik itu alasan yang telah disebutkan diatas maupun masih adanya “kegagapan” penggunaan aplikasi online Zoom sebagai platform reuni, terputusnya konten pembicaraan dari narasumber yang didaulat host akibat sebagian peserta mengaktifkan tombol sound mengakibatkan suara yang terdengar saling tumpang tindih, ditambah secara umum koneksi internet masing-masing peserta, termasuk penulis sendiri di akhir-akhir reuni jaringan jadi melambat.

Bagaimanapun, objektif umum acara tercapai dengan baik, tidak saja dari tema tapi juga pembicara mulai dari alumni paling senior seperti Prof Dr Rusdi AM, Dr Nifasri, dan uni Dr Mesraini menyampaikan kenangan dan harapan kepada Madrasah dan itu kemudian disambut oleh Buya Deswandi selaku Syaikhul madrasah dan Ustaz Zaki Munawwar selaku Pimpinan Pondok. Hanya dalam kesempatan ini penulis melanjutkan usulan di reuni semalam beberapa catatan tambahan dari usulan Kanda Dr Zaim Rais dan Uni Dr Mesraini, bahwa mesti ada tindak lanjut acara, sebagai oleh-oleh reuni.

Pertama: Perlunya diadakan acara lanjutan secara periodik. Tuntutan perkembangan zaman yang memaksa kita kedepan lebih intens berinteraksi di dunia maya dalam konteks ini sangat positif karena tidak mudah mengumpulkan alumni yang tersebar di berbagai wilayah bertemu dalam forum offline, jika pun ada hanya sekali setahun momen milad sekolah, itupun terbatas pula alumni dalam wilayah Sumatera Barat dan sekitarnya. sementara aplikasi meeting online spt Zoom, Google meeting dll dapat menghubungkan lintas pulau, negara dan benua. Jadi, acara reuni perdana daring ini bisa jadi titik permulaan.

Host acara ini seperti yang penulis sampaikan di forum reuni semalam, adalah Alumni dan disini penulis tambahkan kerjasam Alumni dengan Yayasan. Pihak pondok dengan tanggung jawab internal yang sudah banyak dengan santri yang mencapai 2000 orang menurut penulis sudah cukup berat amanahnya. Biarlah saripati dari diskusi alumni dan yayasan ini menjadi turunan rekomendasi kepada madrasah, mana yang relevan untuk diaplikasikan ke program madrasah.

Kedua: Diskusi Tematik

Supaya diskusi yang diadakan terarah dan mendapat hasil yang tepat, pelaksana acara dalam hal ini organisasi alumni dan yayasan menetapkan tema dan dibahas satu persatu yang di akhir acara host membuat rekomendasi, baik itu dalam tataran konsepsi maupun tekhnis aplikasi.

Baca juga:  10 Hal yang Bikin Gagal Move On dari Parabek!

Maka dalam catatan poin kedua ini, ada beberapa saran tema dari penulis, semoga jadi pertimbangan.

1. Sejarah Inyiak Parabek dan Madrasah Sumatera Thawalib Parabek. Meskipun tema ini telah ditulis berulang tapi masih terkesan monolog dari penulis atau sebaliknya dari pihak yang mengkritisi, jadi masih menyisakan perdebatan. Nah, perdebatan tersebut kembali didudukan mengacu kepada warisan dan fakta sejarah yang ada dimana terus ditemukan hal-hal baru. Kebetulan ambil bagian dalam usaha tersebut, tesis S2 penulis mengkaji Biografi dan Peranan Inyiak Parabek di Dunia Pendidikan (IIUM, 2014) kemudian Biografi beliau dalam Buku Transliterasi Majalah Al Bajan (2019), penulis terus mendapatkan informasi-informasi baru tambahan penting memperkaya biografi Inyiak Parabek maupun madrasah.

Apa yang terbaru misalnya dan belum penulis jumpai selama membuat kajian mengenai beliau sebelum ini bahwa Inyiak Parabek tidak saja jadi penengah dalam ketegangan Kaum Muda dan Kaum Tua di Minangkabau, bahkan sampai ke pulau jawa dalam kasus perdebatan A. Hassan, guru Persatuan Islam Bangil Jawa Timur dengan H. Husein Alhabsji mengenai persoalan mazhab di tahun 1956. Husein Al Habsji dalam pengantar risalah nya, “Haramkah Orang Bermazhab?” Seri 1 menyebutan, bahwa jika tetap diadakan munazarah secara terbuka sesuai permintaan A. Hassan maka penulis meminta Sheikh Ibrahim Musa bersama Hamka, AR Sutan Mansur, A Gaffar Ismail K.H Abdulmajid menjadi juri (majlis tahkim) karena kedalaman ilmu dan pengetahuan Inyiak Parabek dalam bab mazhab ini. Lebih lanjut Husein Al Habsji menyebutkan bahwa Inyiak Parabek menyarankan munazarah itu tidak diteruskan, apalagi dibuka di khalayak ramai. Informasi yang sangat penting dan menarik bagaimana sosok Inyiak sebagai ulama di pulau Sumatrta dianggap yang paling tepat menengahi polemik ulama di pulau Jawa, apakah tak ada ulama di Jawa jadi rujukan ketika itu?

Kemudian, berkenaan perdebatan atau kritik ihwal penetapan tahun lahirnya madrasah saya lihat masih menyisakan persoalan tidak saja dari lingkungan alumni maupun dari luar. Sejauh yang penulis amati, tidak ada yang keliru dalam hujjah pendapat baik itu tahun 1908 maupun 1921. hanya berbeda dalam perspektif melihat konteks sejarah di dua waktu tersebut. Maka forum lintas generasi dalam alumni ini bisa jadi forum membincangkannya. Jika Winston Churcill menyebutkan bahwa “Sejarah Ditulis oleh Para Pemenang” maka jika kita mau memenangkan narasi sejarah Madrasah ini maka persoalan ini mesti dijelaskan kemudian dituliskan kembali.

Paparan di atas dalam tataran konsepsi, bagaimana kemudian aplikasinya? Konsepsi ini akan semakin menguatkan wacana dan usaha memperjuangkan gelar Pahlawan Nasional kepada Inyiak Parabek karena semua prasyarat untuk itu telah terpenuhi, itu menurut penulis. Jikapun tidak, minimal beliau digaungkan sebagai ikon Moderasi dan Pendidikan Islam Nasional. Belum lagi, usaha membuat Inyiak Corner di madrasah, selain menampilkan peninggalan beliau, tentu narasi sejarahnya adalah narasi yang tak lagi ada polemik.

Belum lagi termasuk gagasan terakhir yang disampaikan oleh adinda Dr Fadhli Lukman, bahwa kita masih belum mengetahui secara lengkap biografi intelektual Inyiak Parabek melalui karya tulis beliau. Jadi, banyak lagi sebenarnya ruang kajian dalam pembahasan biografi Inyiak Parabek. Tidak sekedar Inyiak Parabek sebagai ikon pendiri, adalah satu kewajiban juga menggulirkan wacana dan usaha menulis biografi murid-murid beliau, mulai dari Inyiak Salim sampai ke ke Inyiak Katik yang terakhir mungkin dari murid beliau yang melanjutkan estafet mengajar di Madrasah Thawalib Parabek.

Baca juga:  Sumatera Thawalib Agam

2. Tema berkaitan aplikatif yang diperlukan madrasah dan isu-isu seputarnya. Isu yang diangkat oleh Kanda Irsyadul Halim dari Jakarta yang kemudian dikonfirmasi oleh Buya Deswandi semalam bahwa madrasah kekurangan guru untuk mengajarkan baca kitab, sampai keadaan “Maangoklah lah kalua badan” kata buya Deswandi karena mencari guru sampai ke Jawa. ini kan ironis. Maka, sebagai tanggung jawab moral, solusi persoalan ini selayaknya juga difikirkan kemudian jadi bahan perbincangan dalam forum pertemuan online alumni yang akan datang.

Termasuk dalam hal ini, polemik uang sekolah Parabek “mahal” yang sampai hari ini terus berbangkit. Jika kritik ini muncul dari orang luar, kita bisa jelaskan dan tidak pula bisa memaksa orang memahami dan menerima TAPI masalahnya dari kalangan alumni pula jadi buah bibirnya membandingkan dengan zaman dulu ketika yang bersangkutan sekolah di Parabek. Nah, ini kan jadi persoalan dan selama ini tampaknya pihak sekolah menjawab sendirian tanpa dukungan pihak alumni. Padahal, membayar mahal ke sekolah sederajat bahkan baru berusia 10 tahun tak ada yang protes, Ok saja. Mestinya, Parabek atau sekolah-sekolah yang telah berumur dan ikon madrasah di Minangkabau sah-sah saja membebankan biaya lebih mahal, karena tidak saja nilai untuk pendidikan yang diterima santri ketika ini saja TAPI nilai kepada nama besar sejarah madrasah tersebut. Mestinya logika yang dibangun seperti itu hendaknya.

3. Pola komunikasi alumni dengan santri Madrasah. Dari pesan singkat alumni di forum semalam -maaf penulis lupa nama beliau- mestinya alumni yang datang ke sekolah dibuatkan forum bertemu dengan pihak guru memberikan motivasi. Ini penulia sangat mendukung, bahkan tak cukup dengan guru bahkan dipertemukan dengan santri. Meskipun setahu penulis hal tersebut telah dilakukan oleh pihak madrasah namun hendaknya terua ditingkatkan, jika tidak ada alumni yang datang, sebaliknya diundang secara berkala. Penulis ingat, meskipun bukan oleh alumni, daurah Bahasa Arab yang diadakan oleh Mahasiswa LIPIA tahun 2001 di Parabek sangat berkesan mendalam, bahkan itu menjadi motivasi penulis meneruskan kuliah ke Mesir. Selembar bacaan Zikir pagi dan petang yang dihadiakan salah seorang mahasiswa LIPIA tersebut konon katanya dibawa dari Madinah sampai hari ini masih penulis simpan saking berkesannya pemberian tersebut dan motivasi di belakangnya.

‘All kulli hal, sebenarnya ada beberapa saran tema lain ingin penulis sampaikan tapi khawatir kepanjangan bosan membacanya maka penulis cukupkan sementara ini tiga poin di atas sebagai pemantik untuk tema reuni online kedepan agar reuni yang baru diadakan tidak berlalu begitu saja NAMUN ada hasilnya baik untuk alumni sendiri maupun kepada Madrasah. Semoga harapan dan gagasan reuni berkala tersebut dapat terealisasinya hendaknya, Aamiin Wallahu ‘Alam.

Komentar