Kekurangan Data dan Pengarsipan

Menulis tentang sejarah madrasah Sumatera Thawalib Parabek seperti flashbackke masa-masa menulis tesis. Ketika menulis tesis tahun 1999-2000, saya menelusuri berbagai perpustakaan, baik itu perpustakaan lembaga maupun pribadi. Saya mengunjungi perpustakaan Nasional, Museum Nasional, perpustakaan Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek, perpustakaan Buya Hamka di Maninjau, perpustakaan IAIN Imam Bonjol Padang, dan beberapa perpustakaan perorangan di seputaran Parabek. Saya juga mewawancarai para ulama yang merupakan murid-murid langsung Inyiak Parabek. Tentu saja keluarga beliau yang masih hidup tidak ketinggalan. Ketika itu, saya menemui Syaikhul Madrasah Ustaz Abdul Gaffar dan Inyiak Imam Suar, Ustadz Anwar Ajazi, dan Ustadz Khatib Muzakkir, Mantan ketua Yasim; Ustadz H. A Kamal, Ustadz Tan Kabasaran, dan lainnya. 

Di antara keluarga yang berhasil ditemui dan wawancarai adalah Adik beliau Amai Kamariah, anak beliau Hj Sa’adah Ibrahim, menantu beliau H. Bustami Abdul Gani, dan cucu beliau dr. Asril. Kenapa penulis merasa perlu menyebutkan hal ini karena pada saat itu belum ada tulisan atau dokumen yang memadai tentang Inyiak Parabek. Menulis tentang Inyiak Parabek demi tesis tersebut adalah perjuangan. 

Embrio ‘Madrasah Sumatera Thawalib’

Cikal bakal berdirinya Madrasah Sumatera Thawalib Parabek dimulai ketika sang maestro, Inyiak Parabek, telah menyelesaikan pelajarannya. Setelah belajar pada beberapa orang guru di berbagai daerah di Minangkabau dan kemudian melanjutkan pelajarannya dengan berangkat ke tanah suci, Inyiak Parabek membuka pengajian yang dipusatkan di masjid Parabek. Pengajian ini menggunakan sistem halaqah. Para pelajar duduk melingkar di sekeliling sang guru yang mengajar.  M. Arjun dalam tulisannya yang berjudul Almanak S Thawalib 1928yang dikutip oleh A. A. St. Rangkayo atau Inyiak Labiah dalam Bunga Rampai S Thawalib 1983menyatakan bahwa pengajian ini dimulai setelah beliau kembali pada 01 Rabiul Awal 1327 H/ 23 Maret 1909M.  

Pengajian ini ramai dihadiri oleh para pelajar. Mereka tertarik untuk belajar dengan Inyiak Parabek karena ketinggian dan kedalaman ilmunya. Mereka yang datang untuk belajar berasal dari daerah-daerah sekitar Parabek. Pengajian ini dipimpin langsung oleh Inyiak Parabek.

Lebih kurang setelah enam tahun setelah mengajar di Parabek, Inyiak Parabek memutuskan untuk melanjutkan kembali rihlah `ilmiyyah-nya untuk kali kedua. Ia kembali ke tanah suci Makkah. Keberangkatannya kali ini ditemani oleh istrinya, Syarifah Gani dan anaknya Muhammad Thaher Ibrahim. Ia berada di tanah suci lebih kurang selama dua tahun (1915-1917M/ 1334-1336H). 

Selama melanjutkan pelajarannya ke tanah suci, halaqahsurau Parabek diambil alih oleh para muridnya yang senior. Proses belajar mengajar tetap berjalan dengan baik sampai Inyiak Parabek kembali ke tanah air. Sekembalinya beliau, otomatis pimpinan pengajian tersebut diserahkan kembali kepadanya. Di bawah pimpinannya halaqahini pun mengalami kemajuan yang sangat pesat.

Baca juga:  Antara Pendidikan dan Pengajaran

Nama Inyiak Parabek cepat dikenal. Para pelajar berdatangan untuk mengikuti pengajiannya, baik dari dalam maupun luar Minangkabau. Untuk membantu dalam pelaksanaan tugas mengajar, diangkatlah murid-murid yang telah senior sebagai guru-guru muda. 

Mengiringi berkembangnya sistem belajar klasikal, Inyiak Parabek beralih kepada belajar secara klasikal pada tahun 1340H/1921M, sistem sekolah yang lebih teratur. Belajar secara klasikal ini bukanlah seperti yang kita saksikan di sekolah-sekolah pada  zaman sekarang. Sistem ini ketika itu bersifat lebih sederhana, yakni dengan memilah para pelajar sesuai dengan tingkat pengetahuan dan pelajarannya. Dengan kata lain, para pelajar tidak dapat lagi mengikuti kelas/pelajaran yang mereka sukai saja.

Transisi kepada sistem klasikal mengalami dua kendala. Pertama, belum ada infrastruktur ruang kelas yang memadai. Oleh sebab itu, aktivitas belajar mengajar ketika itu dilaksanakan di surau-surau atau asrama-asrama pelajar dan rumah-rumah kediaman penduduk yang dipinjam dari masyarakat untuk keperluan belajar siswa. Kendala kedua berasal dari keberatan beberapa pihak. Terdapat golongan pelajar yang tidak menyetujui bahkan menentang transisi ini. Namun hal ini tidak menyurutkan pihak surau Parabek. Perubahan menuju sistem pendidikan modern ini terus digulirkan. Dikabarkan bahwa mereka yang tidak menyetujui ketika itu bersikeras sehingga mereka memilih untuk berpindah ke sekolah-sekolah lain. Itulah riak kecil dalam sebuah proses perubahan. 

Pada tahun 1926 usaha untuk pendirian gedung sekolah dimulai. Inilah usaha pendirian gedung sekolah pada periode awal. Dalam tahun yang sama, bencana gempa bumi Padang Panjang terjadi. Kerusakan akibat gempa justru semakin memperkuat niat untuk secepatnya menyelesaikan pembangunan gedung madrasah. Gedung madrasah yang dibangun setelah bencana alam tersebut lah yang kemudian menjadi cikal-bakal gedung Madrasah Sumatera Thawalib Parabek. 

Peran Surau

Pelajar yang menuntut ilmu di Sumatera Thawalib Parabek datang dari berbagai daerah; dari dalam dan luar Minangkabau. Guna menampung mereka Inyiak Parabek mencanangkan didirikannya asrama-asrama pelajar. Asrama-asrama itu tersebar di daerah sekitar desa; daerah Parabek. Asrama pelajar itu dikenal dengan sebutan surau. Surau itu dibangun di atas tanah masyarakat setempat dengan status sebagai hak pakai. Bangunan surau tersebut dapat terus dimanfaatkan dan dihuni oleh para pelajar. Jika surau itu tidak ditinggali lagi karena sesuatu alasan dan sebagainya, maka hak atas tanah tersebut dikembalikan kepada sang pemilik tanah tersebut.

Nama surau-surau ini biasanya sesuai dengan nama negeri asal para pelajar yang menempatinya. Biasanya mereka yang menempati suatu surau itu berasal dari satu daerah yang sama, daerah yang sama dengan surau itu diberi nama. Untuk pembangunan dan pendirian suaru-surau itu biasanya secara swadaya masyarakat dari daerah-daerah tersebut.

Baca juga:  Catatan Untuak Inyiak Muzakkir

Jumlah surau-surau ini sangat banyak, bahkan jumlahnya pada suatu waktu pernah melebihi jumlah rumah penduduk desa Parabek. Hal ini seperti diceritakan oleh HM Yunan Nasution tentang pengalaman belajar di sana lebih kurang tahun 1920an sebagaimana dituliskan oleh Badruzzaman Busyairi dalam biografi HM Yunan Nasution yang berjudul “Catatan Perjangan HM Yunan Nasution”. Surau-surau itu antara lain: surau batu Sangkar, Sijunjung, Padang Panjang, Padang, Malalak, Pariaman, Taluak, Ladang Laweh, Mandiangin, Jambi, Bangkinang, Payakumbuh, Simabur, Situmbuak, Pandai Sikek, Bukik Batabuah, Ampek Angkek, Dinding Seng, Haji Salim,  dan Banuhampu.

Surau-surau itu terletak dalam satu lingkungan desa Parabek sehingga menjadikan perguruan Sumatera Thawalib Parabek sebagai perguruan Sumatera Thawalib terbesar pada waktu itu. Menurut Ustadz Abdul Ghaffar surau-suaru ini banyak yang hancur pada masa penjajahan Jepang. Pada masa penjajahan Jepang, walaupun pelajaran di madrasah Sumatera Thawalib Parabek tetap berjalan tetapi jumlah pelajarnya sangat sedikit. Sebagian besar mereka telah kembali ke daerahnya masing-masing karena pertimbangan keamanan dan keselamatan. Surau-surau yang telah lama tidak ditempati dan kemudian rusak dan rubuh, lalu hak atas tanah tersebut yang merupakan hak pakai dikembalikan kepada pemiliknya. 

Perkembangan positif dari sistem surau ini antara lain adalah kompetisi antara masing-masing surau. Surau-surau itu melaksanakan kegiatan-kegiatan seperti olah raga, muhadharah(latihan pidato), muzakarah(diskusi), dan kegiatan lainnya. Biasanya sebuah surau dipimpin oleh seorang ustadz atau seorang pelajar senior. Ia dan para pelajar yang lebih tinggi kelasnya bertugas memberikan bimbingan belajar kepada pelajar yang tingkatannya di bawah mereka.

Para pelajar ditempa di surau-surau mereka. Mereka hidup secara mandiri. Mereka memasak makanan sendiri, mencuci pakaian, dan menyiapkan kebutuhan lainnya dilakukan  sendiri. Manfaat kemandirian ini akan terasa setelah mereka kembali ke tengah-tengah masyarakat; dalam perjuangan menegakkan kebenaran, mereka adalah pribadi-pribadi yang tahan banting terhadap rintangan dan tantangan yang dihadapi.

Sekarang keberadaan surau-surau itu tidak banyak lagi jumlahnya dan peranan yang dimainkannya pun tidak begitu signifikan lagi. Waktu saya belajar di madrasah Sumatera Thawalib Parabek tahun 1987-1993 yang tersisa hanya surau/ asrama Pariaman, Malalak, dan Padang. Hal ini karena kurangnya pembinaan dan perhatian terhadap surau-surau itu dari pihak madrasah maupun simpatisan atau pimpinan daerah asal surau tersebut.[]

Komentar