Islam Indonesia didominasi oleh sunni kalangan Syafi`i. Termasuk di dalamnya, Syekh Ibrahim Musa adalah seorang ulama yang menganut mazhab Syafi`i. Akan tetapi, di tengah adanya perdebatan seputar fanatisme bermazhab dan anti-mazhab yang muncul dalam modernisasi pemikiran Islam, Syekh Ibrahim Musa bersifat terbuka dengan tidak mewajibkan para muridnya untuk memilih mazhab Syafi`i sebagaimana dirinya.

Berikut ini akan kita lihat bagaimana Inyiak Parabek menanamkan dasar-dasar bermazhab kepada para pelajar di SumateraThawalib Parabek.

Pembinaan dasar-dasar bermazhab di SumateraThawalib Parabek.

Di madrasah Sumatera Thawalib, Inyiak Parabek mewariskan ilmunya kepada para muridnya. Dalam mengajarkan Fiqh, ia bersemboyan, “Matangkanlahsatu-satu, lalu ambillah yang lain untuk jadi perbandingan dan jangan menutup diri pada satu mazhab saja.” Maksud dari semboyan ini adalah dalam mempelajari ilmu Fiqh, para pelajar di tingkat awal diajarkan kitab Fiqh bermazhab Syafi’i. Pengetahuan tentang mazhab Syafi’i ini merupakan dasar dan landasan serta bekal, pengetahuan dan amalan mereka sehari-hari. Setelah mereka menguasai masalah-masalah Fiqh dalam mazhab Syafi’i, barulah di kelas akhir Sumatera Thawalib diajarkan pelajaran Fiqh dengan metode perbandingan dari berbagai mazhab.

Ketetapan untuk mengajarkan mazhab Syafi’i menjadi daya tarik tersendiri bagi madrasah Sumatera Thawalib Parabek. Ini diikuti juga dengan kebebasan mempelajari mazhab lainnya sebagai perbandingan. Pelajar tidak terpaku pada satu mazhab saja melainkan harus mempelajari mazhab-mazhab lain.

Dalam memberikan fatwa hendaklah memberikan kesimpulan setelah mempelajari pendapat para ulama mazhab. Dengan ini nampaklah bahwa penekanan pada mazhab Syafi’i hanyalah semata-mata untuk mencegah keragu-raguan. Lagi pula dengan dasar pertimbangan bahwa mazhab Syafi’i dianggap tidak ekstrim dan merupakan pegangan mayoritas umat Islam Indonesia.

Kebijakan ini berbeda dengan madrasah Thawalib Padang Panjang yang bebas mazhab ataupun Tarbiyah Islamiyah Candung yang berpegang pada mazhab Syafi’i. Menurut Burhanuddin Daya inilah salah satu daya tarik yang menyebabkan jumlah pelajar yang belajar di Madrasah Sumatera Thawalib Parabek melebihi madrasah-madrasah itu.

Dalam mengajarkan pelajaran Fiqh di kelas, Inyiak Parabek selalu membuka ruang tanya jawab di akhir pelajaran. Tanya jawab ini biasanya tentang materi pelajaran yang sedang di pelajari kaitannya dengan kreasi yang ditemui di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian materi yang dipelajari dapat dikuasai oleh para pelajar secara mendalam.

Namun di sisi lain tentulah membutuhkan waktu pelajaran yang cukup panjang. Dampaknya, biasanya suatu kitab fiqh yang dipelajari tidak dipelajari sampai tamat. Tetapi suatu kitab dipelajari pada kelas atau tingkat tertentu dan setelah kenaikan kelas (tahun ajaran berikutnya), dipelajari kitab yang lain.

Bahagian kitab yang tidak sempat dipelajari di kelassebelumnyadilanjutkan sendiri secara mandiri oleh para pelajar. Adapun kesulitan yang tidak dapat mereka pecahkan dapat ditanyakan kepada guru di luar jam pelajaran madrasah. Inilah suatu bentuk pembinaan Inyiak Parabek kepada para pelajarnya untuk kemandirian mereka dalam menuntut ilmu.

Baca juga:  Selingkuh Bathin Behind The Scene: Pendidikan Tinggi dan Pulang Kampuang

Mazhab Syafi’i yang dipelajari di madrasah Sumatera Thawalib Parabek sangat cocok dengan masyarakat Indonesia umumnya. Amalan dengan berpedoman pada mazhab Syafi’i tersebut menjadikan lulusan Sumatera Thawalib Parabek dapat diterima baik di tengah-tengah masyarakat. Penerimaan masyarakat dengan tangan terbuka ini memuluskan tugas yang mereka empan dalam pembinaan masyarakat.  Sehingga ide dan gagasan pembaharuan yang mereka bawa mudah diterima masyarakat.

Pada tingkat akhir pelajar yang belajar di Sumatera Thawalib mendapatkan pelajaran Fiqh dengan metode perbandingan mazhab. Pelajaran Fiqh perbandingan mazhab ini mengajarkan pada pengetahuan tentang sebab-sebab perbedaan di kalangan ulama tentang suatu masalah fiqhiyah.

Pengetahuan tentang sebab-sebab perbedaan di kalangan ulama dalam penggunaan dalil yang melandasi istinbathhukumnya menyebabkan sikap tasamuh/toleransiterhadap dinamika ikhtilaf atau perbedaan yang ada. Karena perbedaan di kalangan para ulama itu bukanlah perbedaan belaka tetapi dilandasi oleh dalil-dalil yang melandasi pendapat mereka tersebut.

Pelajaran Fiqh perbandingan ini menjadikan pelajar Sumatera Thawalib memiliki wawasan Fiqh yang luas. Pengetahuan dalam Fiqh perbandingan membantu mereka dalam menjelaskan perbedaan yang terlihat di masyarakat dalam penerapan mazhab Fiqh.

Selanjutnya menjadikan mereka  orang-orang alim yang moderat, toleran dengan perbedaan yang ada bahwa perbedaan tersebut adalah khazanah dari hukum Islam yang tidak perlu dikhawatirkan tetapi perbedaan tersebut membawa kepada keluwesan dan kemudahan.

Kitab-kitab fiqh mazhab Syafi’i yang diajarkan itu adalah kitab Matan Taqrib, Fath al-Qaribkarangan Ibn Qaim (w. 918 H), I’anah ath-Thalibinkarangan ad-Dimyati (w. 130 H), dan Mazhab karangan al-Firuzabadi (w. 476 H) dan kitab Fiqh perbandingan yang dipakai adalah kitab Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid karangan Ibn Rusyd (w. 595 H).Peningkatan wawasan pelajar Sumatera Thawalib dalam fiqh perbandingan ini dilakukan juga dalam ekstra kurikuler pelajar; Debating club/Muzakarah/diskusi.  

Debating club membahas masalah-masalah yang aktual di tengah-tengah masyarakat. Masalah yang didiskusikan ditinjau secara lintas mazhab oleh para pesertanya. Satu kelompok pengemukakan pendapat satu mazhab beserta dalil yang menjadi pendukungnya. Sedangkan kelompok yang lain menjadi pembahas yang menilai pendapat kelompok pertama tersebut.

Diskusi ini dilaksanakan secara komprehensif, suatu permasalahan dibahas dalam beberapa kali pertemuan. Sehingga memungkinkan para pelajar untuk membahas dan menelaahnya secara mendalam.Pengetahuan terhadap kenyataan perbedaan pendapat yang ada, tentu saja menjadikan para pelejar memiliki wawasan yang luas tentang hukum Islam. Sehingga mereka menjadi pribadi-pribadi yang tasamuh terhadap perbedaan-perbedaan yang ada. Sekaligus terhindar dari sikap fanatik yang berlebihan yang tentu saja kurang baik terhadap perkembangan masyarakat.

Para pelajar mendapat tempaan untuk mencoba memecahkan persoalan atau permasalahan yang tengah terjadi di tengah-tengah masyarakat. Mencari pemecahan permasalahan tersebut berdasarkan pada argumentasi yang kuat dan solusi yang tepat dan relevan. Ini suatu upaya menjadikan hukum Islam itu up to date dan tetap relevan dengan kemajuan zaman.

Baca juga:  Surau Parabek Sebagai Penjaga Cultural Heritage

Keahlian dalam berdiskusi juga sangat bermanfaat ketika menjawab pertanyaan masyarakat dalam forum tanya jawab dalam pengajian yang mereka adakan ataupun dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dengan bentuk diskusi yang mendalam ini, suatu bahasan itu akan sangat memberi kesan yang mendalam bagi mereka yang mengikuti muzakarah tersebut.

Sikap Inyiak Parabek dalam bermazhab  

Inyiak Parabek adalah seorang ulama yang bijaksana dibandingkan dengan tokoh-tokoh Thawalib lainnya. Ia faham betul betapa terikatnya masyarakat Minangkabau dengan mazhab Syafi’i. Iapun memberikan penghargaan yang tinggi terhadap mazhab tersebut di lingkungan Sumatera Thawalib Parabek. 

Dalam kehidupan kesehariannya, Inyiak Parabek juga memperlihatkan keluasan pandangannya. Misalnya dalam masalah Qunut, menurutnya boleh diamalkan dan boleh juga tidak diamalkan. Rasulullahpun kadang-kadang mengerjakan Qunut dan kadang-kadang tidak. 

Inyiak Parabek bersikap tasamuh dalam menyikapi perbedaan mazhab dalam praktek di masyarakat. Perbedaan amalan itu haruslah berdasarkan pendapat dan dalil yang jelas sumber pengambilannya. Dengan demikian Inyiak Parabek bersikap toleran terhadap praktek atau amalan dari mereka yang mengerti dan faham tentang masalah agama yang berbeda dengannya. Dan ia akan memberikan penerangan dan pengarahan terhadap orang awam yang beramal di luar kebiasaan masyarakat tentang amalan yang mereka lakukan. 

Dalam amalannya sehari-hari Inyiak Parabek mengamalkan mazhab Syafi’i. Hal ini selaras dengan apa yang telah beliau tanamkan kepada para pelajarnya. Secara tidak langsung Inyiak Parabek menjadi teladan bagi mereka dan selanjutnya bagi masyarakat luas. 

Dalam menjawab pertanyaan masyarakat kepadanya, Inyiak Parabek memberikan jawabannya dalam empat bentuk, sebagai berikut:

Pertama, Inyiak Ibrahim Musa merujuk jawabannya langsung kepada sumber utama hukum Islam, yaitu al-Qur’an dan Sunnah. Dalam mengungkapkan al-Qur’an maupun hadis diikuti dengan penjelasan arti dan maksudnya. Selanjutnya, beliau menjabarkan cara penggalian hukum dari dalil-dalil tersebut (istinbath hukum).

Kedua, beliau mengungkapkan pendapat ulama tertentu tentang masalah tersebut. Pendapat ulama yang dikutip antara lain sahabat, imam mazhab, para ulama lainnya.

Ketiga, beliau menjelaskan perbedaan pendapat para ulama berkaitan dengan masalah yang sedang ditanyakan. Ia menjelaskan ikhtilafpara ulama dengan menyebutkan pendapat masing-masingnya. Inyiak Parabek biasanya tidak memberikan preferensi untuk mengikuti pendapat tertentu. Tetapi memberikan keleluasaan untuk memilih dan mengikuti pendapat yang lebih cocok bagi mereka. Tentu saja setelah terang bagi mereka letak perbedaan pendapat di antara mereka dan alasan-alasan yang mereka ajukan. 

Keempat, tentu saja beliau mengutip kepada kitab-kitab yang mu`tabar. Kitab-kitab yang jadi rujukannya antara lain: al-MahalliMinhaj karangan Imam Nawawi, Siraj al-Munir syarh al-Jami’ ash-Shagirar-Ruyadh al-WardiyahBughiyah al-Mustassydinal-Jami’ ash-Shagirkarangan as-Suyuti, al-Muhazzabkarangan asy-Syairazi, al-Bujairikarangan Sulaiman al-Bujairimi, Ihya ‘Ulum ad-Din karangan Imam al-Ghazali dan kitab lainnya.

Komentar

1 COMMENT

Comments are closed.