Ada yang menarik dari goro ini. Bila sekolah-sekolah tertentu mewajibkan siswanya untuk goro, bahkan ada yg mengancam dengan sanksi bila tak datang, di Parabek tidak. Goro ini dilakukan dengan sukarela. Saya masih ingat, ustadz Abdul Ghafar Allahu yarham, masuk lokal memberitahukan bahwa akan ada pengerjaan pengecoran. Dengan bahasa yg sangat menggugah beliau mengatakan, “Bagi kalian yang ingin beramal jariah untuk sekolah yg kita cintai ini, silakan mendaftar. Karena pesertanya terbatas dan khusus hanya untuk aliyah, setelah ini segeralah mendaftar”. Demikianlah kira2 pemberitahuannya.

Baca juga:  Masihkah Surau Peninggalan Harimau Nan Salapan Mengusung Gerakan Perubahan?

Mendengar pidato beliau yg demikian menyentuhnya, kami langsung berlomba untuk mendaftarkan diri. Melihat begitu antusiasnya siswa yangg mendaftar, saya yakin ada yangg tidak diterima karena jumlahnya telah berlebih.

Mungkin karena pidato itu bersifat persuasif dan tidak memaksa, kami goro betul-betul bersemangat dan tak kenal lelah. Ada kebahagiaan sekaligus kebanggaan yg muncul di dalam hati. Kami adalah orang-orang yang menang, berhasil ambil bagian dalam goro. Sementara, banyak teman-teman lain yangg tidak dapat kesempatan. Begitu antara lain yangg terasa di hati waktu itu.

Baca juga:  Majalah Al Bayan Al Mubin 1919-1921; Refleksi menuju 1 abad 1919-2019

Foto ini merekam segmen kecil dari goro tersebut. Saya berdiri di sebelah siswa bertopi, Bahril namanya. Di depan ada Oktol Firman, di belakang berbaju kuning Feri Melson, dan satu lagi di Palembayan kebetulan saya lupa namanya. Dan satu lagi fotonya terpotong, Firdaus, kawan dari Lintau Buo.

Terima kasih guru-guruku.  Semoga Allah meredhai semuanya. Amien.[]

Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.