Pesantren ternyata bukan hanya sekedar lembaga pendidikan, melainkan juga lembaga dakwah atau keagamaan dan lembaga sosial. Sebagai lembaga pendidikan, pesantren adalah lembaga pendidikan berbasis kepada masyarakat(commonity based aducation). Sebagai lembaga keagamaan, pesantren adalah model dan standar keberagamaan masyarakat. Dan sebagai lembaga sosial, pesantren adalah salah satu agen perubahan atau “the agent of social change” yang cukup penting (Buya Deswandi).

Berkaca kepada sejarah bangsa kita, pesantren adalah lembaga pendidikan autentik. Kalau saja Belanda tak pernah menjajah negeri kita ini, mungkin hanya pesantren satu-satunya model pendidikan kita. Selain itu, pesantren adalah lembaga yang memiliki multi capacity. Salah satu capacitynya yang terpenting adalah capacity ekonomi. Dalam capacity ekonomi ini, pesantren adalah penyumbang SDM sekaligus juga sebagai pangsa pasar yang cukup besar bagi pengembangan ekonomi. Dalam hal penyumbang SDM, sekitar 93% alumninya menjadi profesional, dan hanya 7% saja yang kemudian jadi ulama, ustadz, atau guru mengaji. Di DPR saja misalnya, hampir 50% adalah alumni atau pernah mengecap pendidikan pesantren. Sedangkan dalam hal sebagai pangsa pasar, ditandai dengan banyaknya jumlah pesantren di Indonesia. Berdasarkan data Dirjen Pendis 2016, jumlahnya tidak kurang dari 28.194 pesantren dengan jumlah santri 4. 290.626 (Dr. Ahmad Zayadi).

Baca juga:  Berita Kepulangan Sjaich Ibrahim Musa dalam Madjallah Gema Islam

Dalam kapasitasnya di bidang ekonomi ini, di pesantren sendiri paling tidak terdapat empat macam pengembangan ekonomi yang dapat dilakukan. Pertama, pengembangan ekonomi yang berpusat pada Kiyai (Kiyai punya usaha dengan melibatkan santri dalam usahanya). Kedua, pengembangan ekonomi yang berpusat pada institusi yakni pesantren itu sendiri membangun unit2 usaha/bisnisnya. Ketiga, pengembangan ekonomi yang berpusat pada santri (santri interpreneur). Pengembangan ekonomi yang berpusat pada alumni dalam bentuk kerjasama (Prof. M. Zilal Hamzah).

Baca juga:  Mahaguru Sumatera Thawalib Parabek

Sejalan dengan itu, Prof. Abdurrahman bin Ayub, memandang bahwa pusat-pusat pengembangan ekonomi sebagaimana yang dikemukakan Prof. Hilal itu sangat penting untuk digerakkan. Dia memandang, bahwa bila itu bisa dilakukan, pesantren telah berperan besar dalam membasmi kemiskinan.
Dalam kaitannya dengan itu, menurutnya pesantren perlu mendidik dan mengembangkan jiwa interpreneurship atau kewirausahaan kepada santri. Dengan kata lain pesantren mampu berperan “memrofesionalkan ulama” dan “mengulamakan profesional”.
Wallahu A’lam

Parabek, 14 Oktober 2018

Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.