9 Mei 2018 barangkali menjadi salah satu hari yang paling disyukuri oleh Debi Oktia Haryeni. Hari itu, ia menjalani sidang terbuka ujian Doktoral di bidang keahlian Matematika murni. Seorang Debi telah menuntaskan jenjang pendidikan formal tertinggi, strata 3. Secara resmi ia menyandang gelar kehormatan, Doktor, di usia muda, 26 tahun. Siapa sih yang nggak mau dapat gelar doktor?, di usia muda?

Debi, begitu ia akrab dipanggil, merupakan salah satu alumni Madrasah Tsanawiyah Sumatera Thawalib Parabek. Dara kelahiran 16 Oktober 1991 ini menamatkan pendidikan jenjang Tsanawiyah-nya di Sumatera Thawalib Parabek pada tahun 2006.

Menurut Debi, perjalanan studinya selama di Parabek terbilang biasa. Ia bahkan merasa tertinggal jauh dari teman-temannya, terutama yang berdomisili di Asrama. Bahasa Arab adalah pangkal perkaranya. Ia merasa, karena tidak tinggal di asrama, ia tidak mendapatkan asupan materi dan intensitas belajar bahasa Arab seperti teman-teman lainnya. Padahal, bahasa Arab adalah bahasa komunikasi utama di Pesantren, selain bahasa Inggris. Bukan hanya komunikasi harian, materi-materi disiplin keagamaan diajarkan dengan bahasa Arab. Akhirnya, Debi merasa tidak populer di mata pelajaran manapun di Parabek.

Selepas kelas 3 Tsanawiyah, Debi berpikir untuk melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri. Pertimbangan lainnya adalah di tahun ajaran 2006/2007 itu, Sumatera Thawalib belum mengenal sistem penjurusan, IPS dan IPA. Banyak yang mempertanyakan keputusannya. Teman sekelasnya pun ketika itu juga bertanya, apakah dia sudah benar-benar yakin? Pertanyaan yang wajar, menurutnya.

Debi mendaftarkan diri hanya ke satu rayon SMA negeri di saja, di Bukittinggi. Padahal dia tahu, perbedaan rayon asal sekolah dan sekolah tujuan membuat penyeleksian menjadi lebih ketat, dan ia pun bukan termasuk 10 besar ketika di Tsanawiyah. Beberapa teman yang juga melanjutkan pendidikan ke sekolah umum mendaftarkan diri ke SMAN kota Bukittinggi dan juga SMAN daerah asal mereka. Tentu saja hal ini dilakukan untuk berjaga-jaga jika tidak diterima pada pilihan pertama (yang tentunya merupakan SMAN yang diidamkan), masih ada pilihan kedua. Orang-orang mungkin mengira, Debi terlalu percaya diri dengan tindakannya, seperti bunuh diri. Nyatanya pada saat itu Debi pun masih tidak tahu apa sebenarnya yang ia inginkan untuk dirinya. Sesimpel itu. Ketika pengumuman penerimaan siswa baru keluar, Debi masuk ke dalam daftar siswa cadangan yang akhirnya diterima menjadi siswa baru di SMAN 3 Bukittinggi. Alhamdulillah, barangkali Allah kasihan, pikirnya kala itu.

Baca juga:  Haji Salim: Inyiak Parabek Berikut

Tahun-tahun pendidikan di SMA berakhir dengan baik. Meski dengan prestasi yang biasa-biasa saja, tapi ia bisa menjaga konsistensi di peringkat 10 besar. Setelah ujian nasional berakhir, beberapa siswa termasuk Debi ditawarkan untuk mencoba mendaftar ke perguruan tinggi negeri melalui jalur undangan Penelusuran Minat dan Kemampuan atau yang biasa disingkat dengan PMDK.

Prosesnya berjalan datar, tanpa berpikir panjang dan pertimbangan yang berarti. Hal itu karena ia belum menentukan cita-citanya; mau jadi apa Debi di masa depan? Hanya satu yang ia pedomani menjelang masuk dunia kampus; pilih jurusan yang tidak jauh dari mata pelajaran di jurusannya selama di SMA. Pilihan pertama yang ia ambil adalah Matematika murni di Universitas Andalas Padang dan pilihan kedua Fisika murni di kampus yang sama. Seperti sebelumnya, tetap ada orang yang tidak percaya dengan kemampuannya dan mengatakan, “Yakin bisa lulus? Seleksinya nggak gampang lho.” Namun Debi berhasil lolos di pilihan pertamanya.

Dunia kampus berjalan begitu cepat. Dalam waktu tiga setengah tahun, Debi berhasil menyelesaikan studi strata 1-nya. Barulah selepas itu Debi yakin dengan pilihan hidupnya; dia ingin menjadi dosen. Artinya, tentu pendidikan S1 saja tidak cukup. Selepas berdiskusi dengan orang tua, Debi memutuskan untuk melanjutkan studi S2 dengan jurusan yang sama di Institut Teknologi Bandung, dengan atau tanpa beasiswa. Setelah mengikuti serangkaian tes masuk, Debi mendapatkan info program beasiswa S2 untuk calon dosen. Ia pun mendaftarkan diri pada program tersebut.

Selang beberapa pekan, Debi tiba di Bandung dan sudah siap untuk memulai perkuliahannya. Ketika itu ia mendapatkan kemudahan. Ia mendapatkan kabar gembira bahwa ia lulus program beasiswa calon dosen yang ia ikuti. Tidak sampai dua bulan perkuliahan, Debi kembali menerima kabar baik. Dari dosen pembimbingnya ketika S1 di Universitas Andalas Debi tahu bahwa supervisor beliau ketika studi S3 di ITB sedang mencari mahasiswa untuk mengikuti Program Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU). Pada program ini, studi S2 dan S3 digabungkan menjadi satu paket dengan target menyelesaikan studi selama 4 tahun. Tanpa banyak tanya, Debi bersedia untuk mengikuti program itu.

Baca juga:  Papa Muzakkir: Inyiak Katik di Mata Anaknya

Debi masih ingat ketika hendak melanjutkan studi S2, ia berdoa agar Allah menunjukkan jalan terbaik menurut-Nya. Jika S2 membuatnya semakin menjauh dari Tuhan, maka akan lebih baik perjuangan studinya dicukupkan sampai S1 saja. Akan tetapi, Allah menjawab dengan memberikan kemudahan demi kemudahan. Allah mengabulkan doanya dengan memberikan kesempatan untuk sekaligus melanjutkan S3. Ini membuatnya semakin mantap untuk mengejar mimpinya berkecimpung di dunia pendidikan.

Selama masa perkuliahannya di ITB, Debi sudah mengikuti beberapa program ke luar negeri. Perjalanan pertamanya adalah mengikuti South East Asia Mathematical Society (SEAMS)school di Hanoi, Vietnam pada awal tahun 2015. Di tahun yang sama, selama 3 bulan ia mengikuti program Peningkatan Kualitas Publikasi Internasional (PKPI)-Sandwich di Slovakia, Eropa Tengah. Pada akhir tahun 2016 Debi kembali mengkuti program PKPI-Sandwich selama 3 bulan di Newcastle, Australia. Tidak hanya itu, Debi juga telah mengikuti beberapa konferensi internasional di Filipina, India, Hongkong, dan Korea Selatan.

Tentu saja ia sangat bersyukur dengan capaiannya tersebut. Menurutnya, kita tidak perlu terlalu memikirkan pendapat, celetukan, dan keraguan orang lain terhadap diri kita. Jika punya keinginan, bismillah saja, cukup jadikan Tuhan sebagai sandaran. Begitulah, dengan keyakinan itu, ia mendapatkan kemudahan demi kemudahan. Kini anak kedua dari empat bersaudara itu mengajar di salah satu universitas swasta di kota Bandung. Teruslah berkarya, Debi. Indonesia membutuhkan anak muda sepertimu.

Komentar