Permulaan abad ke-20 merupakan suatu masa yang sangat penting dalam sejarah pertumbuhan dan perkembangan Islam di Indonesia. Di masa ini bermunculan tokoh-tokoh agama yang memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam upaya memajukan agama Islam di Indonesia. Ialah Ahmad Khatib bin Abdul Latif, seorang ulama dari tanah Minang yang dikenal juga dengan sebutan Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Kata al-Minangkabawi yang disematkan di belakang namanya adalah suatu gelar yang sengaja diberikan orang-orang ketika ia berada di Makkah, untuk memberikan tanda bahwa beliau berasal dari Minangkabau.

Mengenai waktu dan tempat kelahirannya, terdapat beberapa perbedaan informasi di kalangan sarjanawan. Menurut Hamka, Ahmad Khatib dilahirkan di Koto Gadang pada tanggal 6 Zulhijjah 1276 H bertepatan dengan tanggal 26 Mei 1860 M. Menurut Tamar Djaja ia dilahirkan di Ampek Angkek pada 1271 H atau 1852. Sedangkan menurut Deliar Noer ia dilahirkan di Bukittinggi pada tahun 1855.[1] Beliau wafat pada tahun 1916 di kota Makkah.

Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dapat dikatakan berasal dari keturunan darah biru. Bagaimana tidak, dari segi agama, ayahnya adalah seorang ulama besar yang bergelar “Tuanku”. Bagi masyarakat Minangkabau, gelar tuanku adalah gelar kehormatan bagi pemuka agama yang dianggap menjadi panutan dalam masyarakat. Dari segi adat, Ahmad Khatib juga berasal dari keturunan “bangsawan”, baik dari pihak ayah maupun pihak ibu. Sebab dari pihak ayahnya, paman Syaikh Ahmad Khatib bergelar Datuk Rangkayo Mangkuto yang bukan saja menjadi penghulu di kampungnya, melainkan juga membawahi seluruh Desa Koto Tuo.

Dari pihak ibunya, Syaikh Ahmad Khatib memiliki paman bernama Muhammad Saleh dengan gelar Datuak Bagindo, yang  disamping sebagai penghulu adat, juga mengepalai pemerintahan seluruh desa Ampek Angkek.[2] Dari segi ekonomi, Syaikh Ahmad Khatib adalah keturunan orang kaya, sebab ayah dan pamannya bergelar “Rangkayo”, dimana gelar tersebut memiliki arti sebagai orang kaya turunan. Dan dari segi pendidikan, Syaikh Ahmad Khatib termasuk dalam keluarga yang terdidik karena ayahnya memiliki latar belakang pendidikan yang kuat, begitu juga dengan paman-pamannya.[3]

Di usia 25 tahun (1876), Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi berangkat ke Makkah untuk belajar agama. Selama di Makkah ia telah berguru kepada guru-guru yang ternama seperti Said Ahmad Zaini Dahlan, Said Bakri Syatta, Syaikh Yahya Kabli, dan Syaikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makkiyy. Semenjak kedatangannya di Makkah, Syaikh Ahmad Khatib tidak pernah lagi kembali ke tanah kelahirannya hingga wafat. Namun ia masih bisa memberikan kontribusi bagi negeri asalnya melalui perantara murid-muridnya yang datang dari berbagai daerah di Indonesia untuk belajar ke Makkah, seperti Dr. H.A. Karim Amrullah, Dr. H. Abdullah Ahmad, Syeikh M. Djamil Djambek, Syeikh M. Jamil Djaho, Syeikh Silaiman Rasuli, Syeikh M. Thalib Umar, Syeikh Khatib Ali, Syeikh As’ad Bugis, Tuanku Mudo Guguak, Syeikh Hasan Ma’shum, Syeikh Thaher Jalaluddin, H. Agus Salim, dan sebagainya.[4]

Selain dikenal sebagai sosok yang faqih dalam ilmu-ilmu agama, Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi juga dikenal mahir dalam ilmu-ilmu umum lainnya seperti ilmu falak, ilmu hisab dan aljabar. Dalam artikelnya “Mathematics in the Malay World Prior to the Arrival of Western Mathematics”, Mat Rofa Ismail menyebutkan bahwa Syaikh Ahmad Khatib merupakan seseorang yang mahir dalam ilmu Matematika, bahkan ia dinobatkan sebagai pakar Matematika tersohor dari rumpun Melayu (the greatest Malay mathematician) di Abad ke-19.[5]

Baca juga:  Pilpres 2019 dan Polarisasi Umat Islam

Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi termasuk ulama yang produktif. Hal itu dibuktikan dengan karya tulisnya yang cukup banyak. Secara keseluruhan karya-karya nya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu buku yang ditulis dengan Bahasa Arab dan buku yang ditulis dengan Bahasa Melayu. Diantara buku yang pernah ditulisnya ialah Ad Da’il Masmu’ ‘ala Man Yuwarritsul Ikhwah wa Auladil Akhwan Ma’a Wujudil Ushul wal Furu’, Ad Durratul Bahiyyah fi Kaifiyah Zakati Azd Dzurratil Habasyiyyah, Al ‘Umad fi Man’il Qashr fi Masafah Jiddah, Al Aqwal Al Wadhihat fi Hukm Man ‘Alaih Qadhaish Shalawat, dan sebagainya. Selain ke tanah air, publikasi-publikasi Ahmad Khatib juga tersebar ke berbagai Negara seperti Syria, Turki, dan Mesir.[6]

Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dikenal sebagai ulama yang sangat menjunjung tinggi al-Sunnah. Segala hal yang dianggap bertentangan dengan sumber ini akan ditentang keras olehnya. Syeikh Ahmad Khatib merupakan pengikut mazhab al-Syafi’iyyah dan berfatwa berdasarkan kaidah-kaidah yang ditetapkan oleh Imam al-Syafi’i.

Hal ini dapat dilihat dari penolakannya yang sangat keras terhadap dua ritual keagamaan yang telah mengakar rumput dalam adat Minangkabau, diantaranya mengenai hukum mengikuti Thareqat dan masalah pembagian waris.[7] Syeikh Ahmad Khatib sangat menolak segala bentuk praktek tareqat, terutama Tareqat Naqsabandiyah yang berkembang pesat di tanah kelahirannya. Padahal di masa kecilnya Syeikh Ahmad Khatib dididik dalam alam pikiran Tareqat Naqsabandiyah. Namun pemahamannya terhadap tareqat menjadi berubah setelah menimba ilmu di Makkah.

Menurutnya, di dalam tareqat Naqsabandiyah terdapat praktek-praktek bid’ah yang tidak terdapat pada masa Rasulullah, para sahabat, dan tidak pernah diamalkan oleh ulama mazhab yang empat, seperti menghadirkan gambar atau rupa guru dalam ingatan ketika akan memulai suluk – sebagai perantara dalam doa kepada Tuhan. Beliau mengatakan bahwa perbuatan seperti itu sama saja dengan penyembahan terhadap berhala yang dilakukan oleh orang musyrik. Karena rupa guru yang dihadirkan dan berhala-berhala yang dibuat oleh manusia sama-sama tak memberikan manfaat maupun mudharat kepada manusia.[8]

Penolakan Syaikh Ahmad Khatib terhadap praktek tarekat Naqsabandiyah di Minangkabau diungkapkannya dalam sebuah buku yang ia beri judul Izhar Zughal al-Kadzibin yang memiliki arti Menjelaskan Kekeliruan Para Pendusta. Buku ini ditulis dalam rangka menjawab pertanyaan dari muridnya yang bernama Haji Abdullah Ahmad dari Padang Panjang, dimana naskahnya baru sampai di Minangkabau pada tahun 1906.[9]

Persoalan kedua yang menjadi perhatian Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi adalah persoalan warisan. Sebagaimana yang lazim dikenal bahwa dalam adat Minangkabau, harta pusaka bukan diwariskan kepada anak, melainkan kepada kemenakan perempuan. Kemenakan laki-laki hanya menjadi pembantu saja dalam menggarap dan memelihara harta pusaka tersebut. Hal ini bertolak belakang dengan ajaran Islam yang menggariskan bahwa harta warisan harus diberikan kepada anak sendiri dengan ketentuan anak-laki-laki memperoleh bagian yang lebih besar dari anak perempuan.

Penentangan yang keras terhadap persoalan warisan di Minangkabau ini diwujudkan oleh Syeikh Ahmad Khatib dengan menulis dua buku khusus, yaitu al-Da’i al-Masmu’ fi al-Radd ‘ala Yuwarritsu Ikhwah wa Awlad al-Akhawat ma’a Wujud al-Ushul wa al-Furu’ (Seruan yang Didengar dalam Menolak Pewarisan kepada Saudara  dan Anak-Anak Saudara Perempuan beserta Dasar dan Perincian), yang ditulis dengan bahasa Arab dan dicetak di Mesir pada tahun 1309 H; dan al-Manhaj al-Masyru’ yang artinya Cara yang Disyari’atkan, ditulis dalam bahasa Melayu dan dcetak di Mesir pada tahun 1311 H.[10]

Baca juga:  Belajar dari Masjid Progresif

Menurut Ahmad Khatib, orang yang mematuhi adat yang berasal dari syaithan –yaitu dari datuak Parpatiah Nan Sabatang dan Datuak Katumanggungan— di samping hukum Tuhan adalah kafir dan kelak akan masuk neraka. Semua harta benda yang diperoleh menurut hukum waris kemenakan dianggap sebagai harta rampasan. Pelakunya dianggap fasiq, sehingga jika menjadi saksi dalam suatu perkawinan maka ia hanya akan membuat perkawinan itu menjadi tidak sah.[11]

Dari sikap di atas penulis berpendapat bahwa Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi termasuk sosok yang sangat “tegas” dalam menentang segala praktik yag dianggap bertentangan dengan syari’at. Pendekatan yang dilakukan oleh Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi bukanlah pendekatan kultural, melainkan pendekatan normatif yang sangat tegas dalam persoalan benar atau salah dalam pandangan agama. Terbukti dengan buku-buku yang beliau tulis dalam upaya penentangan tersebut.

Namun hal itu dapat dikatakan wajar terjadi, sebab Syaikh Ahmad Khatib sendiri tidak pernah kembali ke kampung halamannya di Minangkabau untuk berinteraksi secara langsung dengan masyarakat. Sehingga bentuk kontribusi yang dapat beliau lakukan hanyalah melalui tulisan. Hal ini agaknya berseberangan dengan yang dilakukan oleh sejumlah murid beliau yang seusai belajar di Makkah kembali lagi ke Tanah Air dan berinteraksi langsung dengan masyarakat, di mana kebanyakan dari mereka memilih untuk menggunakan pendekatan kultural dalam membimbing masyarakat, seperti Kiyai Hasyim Asy’ari,  Syeikh Ahmad Dahlan, Syeikh Ibrahim Musa, dan lain sebagainya.

[1] Akhria Nazwar, Syekh Ahmad Khatib Ilmuan Islam di Permulaan Abad ini, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), hlm. 11.

[2] Akhria Nazwar, Syekh Ahmad Khatib Ilmuan Islam di Permulaan Abad ini, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), hlm. 5.

[3] Akhria Nazwar, Syekh Ahmad Khatib Ilmuan Islam di Permulaan Abad ini, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), hlm. 8.

[4] Tamar Djaja, Pusaka Indonesia: Riwayat Hidup Orang-Orang Besar Tanah Air, (Jakarta: Bulan Bintang, 1966), jilid II, hlm. 565.

[5] Mat Rofa Ismail dan Kamel Arifin Mohs Atan, “Mathematics in the Malay World Prior to the Arrival of Western Mathematics”, Procedia, (Universiti Putra Malaysia, 2010).

[6] Tamar Djaja, Pusaka Indonesia: Riwayat Hidup Orang-Orang Besar Tanah Air, (Jakarta: Bulan Bintang, 1966), jilid II, hlm. 570.

[7] Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942, (Jakarta: LP3ES, 1990), hlm. 40.

[8] Hamka, Tasauf Perkembangan dan Pemurniannya, (Jakarta: Yayasan Nurul Islam, 1981), hlm. 228.

[9] Hamka, Tasauf Perkembangan dan Pemurniannya, (Jakarta: Yayasan Nurul Islam, 1981), hlm. 228.

[10] Akhria Nazwar, Syekh Ahmad Khatib Ilmuan Islam di Permulaan Abad ini, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), hlm. 23.

[11] Akhria Nazwar, Syekh Ahmad Khatib Ilmuan Islam di Permulaan Abad ini, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), hlm. 24.

Komentar

1 COMMENT

Comments are closed.