Sosok Fazlur Rahman tak pernah lepas dari perhatian para akademisi muslim di seluruh dunia, khususnya di bidang keilmuan al-Qur’an dan tafsir. Karya-karyanya telah memberikan warna baru dalam kajian al-Qur’an di era modern. Pemikirannya yang progresif telah memancing ketertarikan banyak pihak untuk ikut terlibat dalam proses pengembangan pemikiran tersebut. Salah satu diantara karya fenomenalnya ialah sebuah buku yang berjudul Major Themes of the Qur’an. 

Buku ini berbicara mengenai apa yang diyakini Rahman sebagai tema-tema pokok yang ada di dalam al-Qur’an, dimana tema-tema yang berjumlah delapan butir tersebut diperolehnya dari hasil penelitian dan pengkajian yang mendalam dan komprehensif terhadap keseluruhan ayat-ayat al-Qur’an.

Apa yang coba dikaji oleh Rahman melalui buku Major Themes of the Qur’an didasarkan atas kegelisahannya terhadap fakta penafsiran kebanyakan ulama klasik yang dinilai tidak komprehensif dalam memahami kandungan ayat-ayat al-Qur’an. Baginya, ayat-ayat al-Qur’an merupakan suatu kesatuan yang harus dipahami secara utuh untuk kemudian diamalkan di ranah empiris dalam segala  situasi dan kondisi. Pembacaan al-Qur’an secara parsial hanya akan menimbulkan kebingungan yang tak berkesudahan lantaran ditemukannya ayat-ayat yang tampak saling bertentangan.

Maka melalui teori double-movementnya, Rahman mencoba untuk mengaitkan seluruh unsur pembangun yang mengiringi proses terjadinya pewahyuan al-Qur’an, mulai dari unsur kebahasaan, kondisi kehidupan Nabi, kondisi masyarakat yang ada disekitar Nabi, tradisi dan budaya masyarakat Arab yang berkembang saat wahyu diturunkan, sebab-sebab turun ayat, dan lain sebagainya.

Terkait proses di atas, hal yang pertama kali dilakukan oleh Rahman ialah dengan menganalisis makna dari lafal ayat yang tengah dikaji. Dalam hal ini ia mencoba untuk membiarkan al-Qur’an berbicara mengenai dirinya sendiri (memposisikan al-Qur’an sebagai subyek), dan menjadikan interpretasi penafsir sebagai alat untuk mengungkap makna-makna yang tersembunyi saja.

Setelah melalui proses ini, selanjutnya Rahman mencoba untuk mengupas dan menemukan realitas-realitas empirik yang terjadi selama proses pewahyuan, baik yang terlibat langsung dengan proses turunnya ayat (faktor mikro) maupun yang tidak terlibat secara langsung dengannya (faktor makro). Hal ini sangat penting dilakukan guna mengetahui maksud yang sebenarnya dari ayat yang dikaji.

Baca juga:  Yang Tak Pandang Bulu

Dari sini kemudian dapat ditarik suatu pemahaman menganai apa pesan yang sebenarnya ingin disampaikan oleh al-Qur’an kepada manusia. Adakalanya pesan tersebut sangat sesuai dengan apa yang tertulis sehingga langsung dapat diamalkan hanya dengan mengamati teks, dan adakalanya teks hanyalah suatu bentuk analogi yang tidak dapat diamalkan secara tekstual, melainkan harus diamalkan mengikuti pesan yang terkandung di dalamnya. Setelah dua hal tersebut selesai dilakukan, langkah yang terakhir ialah dengan membawa pesan-pesan yang telah ditemukan itu ke dalam ranah empirik kehidupan umat manusia.

Di dalam bukunya, Rahman menemukan delapan tema pokok yang dianggapnya sebagai perkara-perkara yang paling vital dalam kehidupan manusia. Kedelapan tema itulah yang menjadi sorotan utama al-Qur’an dalam posisnya sebagai hudan li al-naas (petunjuk bagi umat manusia). Delapan tema yang dimaksud ialah:

Pertama, tema menganai Tuhan. Rahman memandang Tuhan sebagai Zat yang pasti ada, dan untuk itu manusia tidak perlu berupaya mencari otentitas Tuhan. Baginya, manusia hanya perlu “menjadi sadar” akan keberadaan Tuhan dengan cara mengamati segala hal yang ada di sekitarnya.

Kedua, manusia sebagai individu. Titik tekan dari tema ini adalah kondisi manusia sebagai pemikul “amanah” terhadap misi Allah untuk menjadikan mereka sebagai khalifah di muka bumi. Beban berat yang terlanjur diterima manusia ini lah yang harus selalu diperjuangkan selama hidup di dunia melalui ketakwaan kepada Allah SWT. Sebab, hanya dengan ketakwaan lah beban tersebut dapat dipikul dengan baik.

Ketiga,manusia sebagai anggota masyarakat. Tema ini masih berkaitan erat dengan tema yang sebelumnya. Sebab, kondisi manusia sebagai seorang individu akan berafiliasi kepada kondisi nya di tengah kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai yang ditanamkan al-Qur’an untuk masing-masing individu pada akhirnya akan memberi efek terhadap kehidupannya dalam beriteraksi dengan masyarakat di sekitarnya.

Baca juga:  Ada-ada Aja: Jilbab Zoya lah yang Halal!

Keempat, alam semesta. Menurut Rahman, seluruh alam semesta ini menaati Allah secara otomatis. Berbeda dengan manusia yang dapat menaati dan dan mengingkari perintah Allah. Alam semesta merupakan produk ciptaan yang bersifat “terhingga”, karena menurut Rahman yang bersifat tak terhingga hanyalah Allah. Dan adanya alam semesta tentunya menjadi pelajaran bagi manusia untuk mengenal Tuhan-nya.

Kelima, kenabian dan wahyu. Fenomena kenabian dalam pandangan Rahman merupakan suatu hal yang amat urgen bagi kehidupan manusia. Ketidakdewasaan manusia dalam mengenal alam ghaib merupakan hal yang harus diatasi. Maka hadirnya nabi-nabi ke atas dunia setidaknya mampu memberikan pengarahan kepada mereka untuk dapat mengenal Tuhan. Adapun ajaran para Nabi adalah bersifat universal, sehingga meskipun diperuntukkan untuk umat tertentu, tetap saja nilai-nilai yang diajarkan oleh setiap Nabi dapat diterapkan secara menyeluruh dalam kehidupan manusia.

Keenam,eskatologi. Sederhanya, eskatologi dapat dipahami sebagai ganjaran berupa surge dan neraka, yang bagi Rahman merupakan manifestasi dari bentuk “keridhaan” dan “kemurkaan” Allah.

Ketujuh,kejahatan dan syeitan. Dalam hal ini, al-Qur’an senantiasa memperingatkan manusia akan bahaya bujuk rayu syeitan yang selalu mengiringi setiap langkah kehidupan mereka. Jika manusia mampu melawannya, maka ia akan selamat. Dan sebaliknya jika ia terbujuk dengan rayuannya, maka ia pasti celaka.

Kedelapan,lahirnya masyarakat muslim. Menurut Rahman, al-Qur’an bermaksud untuk mengajak seluruh umat manusia untuk menjadi satu kaum yang muslim (menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, Tuhan Yang Esa). Islam bukan hanya diperuntukkan untuk satu kaum saja, melainkan ia diperuntukkan untuk seluruh alam semesta sebagai wujud dari ketundukan kepada Allah. Maka dengan delapan pilar di atas, lengkap sudah misi kenabian Muhammad sebagai utusan Tuhan dalam menyebarkan ajaran-ajaran yang digariskan oleh Allah bagi kehidupan umat manusia.

Komentar