Sebagai generasi penikmat teknologi yang serba canggih saat ini, kita tentu merasa beruntung dan bersyukur dibandingkan dengan generasi terdahulu. Segala hal dapat dikerjakan dan didapatkan dengan begitu cepat, termasuk arus informasi. Setiap orang dapat dengan mudah memperoleh berita, berkomunikasi, dan menyebarkan informasi apa saja yang dikehendakinya melalui media sosial. Satu sisi kita merasa terbantu dengan kemajuan ini, namun di sisi lain kita akan menghadapi tantangan yang begitu berat. Salah satu tantangan itu adalah dalam hal melatih kesabaran diri.

Dalam konteks bulan suci Ramadhan yang menuntut setiap orang untuk menahan diri dari segala perilaku dan perkataan buruk, persoalan media sosial menjadi sangat koheren untuk disinggung. Bagaimana tidak, ketergantungan sebagian besar masyarakat terhadap media sosial dewasa ini membuat sistem komunikasi berbasis lisan tidak lagi menjadi satu hal yang prioritas ketimbang berkomunikasi secara aktif melalui perantara media-media sosial (seperti Whatsapp, Instagram, Facebook, dan Twitter). Aktifitas pertukaran informasi lebih didominasi oleh media sosial daripada percakapan dari mulut ke mulut. Oleh sebab itu, konsep tabayyun yang dikenal dalam Islam sudah sepatutnya dikontekstualisasikan dengan situasi nyata yang terjadi di tengah kehidupan masyarakat zaman sekarang.

Dewasa ini kita sering menyaksikan melalui akun media sosial pribadi betapa penyebaran informasi begitu sulit untuk dikontrol. Data-data yang berbentuk fakta dan data-data yang berbentuk hoax (kebohongan) datang secara bergantian tak kenal waktu. Bahkan, tidak jarang kita sulit membedakan antara mana yang fakta dan mana yang hoax disebabkan kepiawaian orang-orang dalam mengolah data. Atau, jangan-jangan kitalah yang menjadi produsen hoax itu sendiri? Na’udzubillah!

Ada satu hadis sahih yang sangat menarik untuk dikaji guna merespon persoalan di atas. Hadis ini sangat akrab di telinga para santri yang pernahmenghafal hadis-hadis dalam kitabAl-Arba’in An-Nawawiyyah, atau bagi masyarakat umum (non-santri) yang biasa mendengarkan tausiyah-tausiyah dari para tokoh agama, yaitu hadis tentang keutamaan diam. Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah R.A. tersebut berbunyi:

Baca juga:  Puasa Jahiliyah

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ…

“… Dan siapa yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” H.R. Al-Bukhari no. 6018.

Kalau ingin mengatakan sesuatu, katakan yang baik, atau lebih baik diam. Konsep ini merupakan manifestasi dari peribahasa yang kita kenal selama ini tentang diam itu emas. Ya, ini sekaligus menjadi penangkal yang cukup ampuh agar kita dapat terhindar dari perpecahan yang diakibatkan oleh sayatan lisan. Lantas bagaimana hadis dan peribahasa di atas dapat dikontekstualisasikan dengan menguatnya kecenderungan masyarakat untuk berkomunikasi via medsos seperti yang kita saksikan saat ini? Jawabannya ialah dengan berhati-hati dari tindakan-tindakan yang mengandung unsur share, re-upload atau re-tweet.

Betapa banyak orang yang begitu mudah membagikan (nge-share) informasi-informasi apapun yang bertebaran di dunia maya, di mana ia sendiri tidak mengerti dengan validitas informasi tersebut. Asalkan sesuai dengan pandangan politik atau pandangan komunitasnya, ia akan segera membagikan ulang postingan yang datangnya entah dari mana itu. Syukur kalau informasi yang diposting adalah data yang sesuai fakta, bagaimana jika informasi tersebut sebenarnya merupakan hoaxatau fitnah terhadap pihak tertentu? Tentunya hal tersebut akan berakibat fatal dengan terus mengalirnya dosa bagi se penyebar pertama dan orang-orang setelahnya yang juga ikut menyebarkan. Oleh sebab itu, hadis di atas dapat dikontekstualisasikan dengan cara hanya membagikan postingan-postingan yang berisi data-data valid, atau lebih baik menahan diri dari membagikan informasi-informasi yang belum jelas validitasnya itu.

Baca juga:  Ibadah Selama 83 Tahun, 4 Bulan

Bentuk kontekstualisasi di atas tentunya sangat membantu kita dalam upaya menyempurnakan ibadah puasa di bulan Ramadan. Sebagaimana yang juga disebutkan dalam hadis, orang yang berpuasa diharuskan untuk menahan diri dari mengeluarkan kata-kata kotor, bohong, atau gunjing. Nah, kita tahu bahwa kata-kata kotor, bohong, dan gunjing ini sangat rentan muncul di media sosial melalui tindakan-tindakan seperti share, re-upload, dan re-tweet. Maka ketika kita sudah mampu bersikap bijak dalam menggunakan medsos, yaitu dengan hanya membagikan informasi-infformasi yang valid atau tidak membagikannya sama sekali, tentu ibadah puasa yang kita lakukan dapat lebih terjaga dari segala sesuatu yang dapat merusak kesempurnaannya. Jadi, bijaklah dalam ber-media sosial!

Komentar