Selalu muncul ide-ide dan perspektif baru dalam ranah penafsiran al-Qur’an dari masa ke masa. Eksistensi dan otentisitas al-Qur’an yang terjaga hingga saat ini telah melahirkan banyak pemikir dan penafsir dengan latar belakang yang beragam. Salah satu dari sekian banyak penafsir yang telah ikut memberikan kontribusi nyata dalam ranah penafsiran terhadap kitab suci umat Islam ini adalah seorang wanita bernama Bintu al-Syathi’ yang telah memberikan cara pandang baru dalam menafsirkan al-Qur’an.

Dr. Aisyah Abdurrahman, yang dikenal luas dengan nama samarannya Bintu al-Syathi, dilahirkan di Dumyat, wilayah di sebelah barat Delta Nil. Nama itu diambil karena memang dia lahir dan dibesarkan di tepian sungai Nil yang jika diartika maka kata bintu syathi’ berarti perempuan pinggir (sungai). Bintu al-Syathi’ tumbuh dewasa di tengah sebuah keluarga Muslim yang shaleh. Ia menyelesaikan jenjang Pendidikan tingginya di Universitas Fuad I, Kairo.  Ia memperoleh gelar doctor pada tahun 1950 dengan sebuah karya disertasi yang membahas tentang syair Abu al-A’la al-Ma’arri. Ia merupakan Guru Besar sastra dan Bahasa Arab di Universitas ‘Ayn al-Syams, Mesir. Bahkan terkadang ia menjadi guru tamu pada universitas-universitas ternama di berbagai penjuru dunia seperti Universitas Islam Umm Durman, Sudan dan Universitas Qarawiyyin, Maroko, serta dalam banyak kesempatan ia juga diundang untuk mengisi ceramah kepada para sarjana di Roma, Aljazair, New Delhi, Baghdad, Kuwait, Yerusale, Rebet, Fez, dan Khartoum. Sebagai seorang akademisi wanita yang dipandang memiliki pemikiran yang konservatif, Bintu al-Syathi’ memiliki daya Tarik tersendiri dalam hal kemampuan pengekspresian diri yang kuat dan artikulatif, yang diilhami oleh nilai-nilai Islam dan informasi pengetahuan yang luas. 

Meskipun berlatar Pendidikan ilmu kebahasaan dan sastra Arab, Bintu al-Syathi menaruh perhatian yang sangat besar terhadap al-Qur’an beserta kajiannya. Ia menilai bahwa al-Qur’an merupakan sebuah kitab suci yang dapat memberikan kepuasan kepada manusia, baik secara rasio maupun intuisi. Keindahan pengungkapan ayat-ayat al-Qur’an diakuinya selalu menggiringnya kepada suatu rasa penasaran yang sangat mendalam setiap kali ia memperoleh ilmu baru yang berkaitan dengan Bahasa dan sastra. Menurutnya, gaya Bahasa dan sastra al-Qur’an yang sangat tinggi itu merupakan salah satu faktor utama yang menjadi alasan mengapa orang-orang Arab (yang terkenal dengan keindahan syair-syairnya) pada masa Nabi merasa diletihkan oleh tuntutan al-Qur’an untuk mendatangkan satu surah yang semisal dengannya. Dan terbukti bahwa mereka tidak mampu untuk mewujudkannya sehingga mereka pun beriman terhadap kenabian Muhammad SAW.

Baca juga:  Kemauan adalah Tiang Kebahagiaan

Bintu al-Syathi’ mengungkapkan bahwa al-Qur’an adalah inti dari kesatuan rasa dan intuisi yang dimiliki oleh berbagai bangsa yang menjadikan Bahasa Arab sebagai bahasanya. Meskipun terdapat banyak dialek local, tempramen yang berbeda-beda, dan gaya bahasa yang khas dalam segi tutur, al-Qur’an tetap memiliki orisinalitas yang jernih. Ia adalah kitab yang lurus, diterima oleh seluruh bangsa yang berbahasa Arab dengan berbagai dialeg, wilayah, dan pengaruh yang beragam yang dipengaruhi oleh faktor lokalitas. Lebih dari itu, mereka juga menerimanya sebagai kitab akidah, syariat, dan jalan hidup. Bintu al-Syathi’ juga menyebutkan bahwa selama ini banyak penafsir yang terbelenggu dengan keyakinan-keyakinan sektarianisme yang melingkupi kehidupannya, sehingga pemahaman nya terhadap al-Qur’an menjadi tidak obyektif dan lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal dan kepentingan-kepentingan subyektif yang sama sekali bertentangan dengan maksud al-Qur’an secara orisinal. Itulah alasan mengapa ia menaruh perhatian yang sangat besar terhadap aspek-aspek linguistik al-Qur’an.

Bintu al-Syathi mengiskhtisarakan prinsip-prinsip itu sebagaimana yang ditulis oleh al-Khulli di dalam bukunya “Manahij Tajdid” ke dalam empat butir: 

  • Metode dasarnya adalah untuk memahami al-Qur’an secara obyektif, dan hal ini dimulai dengan cara mengumpulkan seluruh ayat dan surah mengenai tema yang akan dipelajari.
  • Untuk dapat memahami suatu gagasan yang terkandung di dalam al-Qur’an menurut konteksnya, maka ayat-ayat di sekitar gagasan itu harus disusun menurut tatanan kronologis pewahyuannya, sehingga keterangan-keterangan mengenai wahyu dan tempat ia diturunkan dapat diketahui. Riwayat-riwayat tradisional mengenai “peristiwa pewahyuan” dipandang sebagai sesuatu yang perlu dipertimbangkan hanya sejauh dan dalam pengertian bahwa peristiwa-peristiwa itu merupakan keterangan-keterangan kontekstual yang berkaitan dengan pewahyuan suatu ayat, sebab peristiwa-peristiwa itu bukanlah tujuan atau sebab (syarat mutlak) mengapa pewahyuan terjadi. Pentingnya pewahyuan terletak pada generalitas kata-kata yang digunakan, bukan pada kekhususan peristiwa pewahyuannya.
  • Sebagai Bahasa yang digunakan oleh al-Qur’an, maka Bahasa Arab menjadi sesuatu yang penting untuk dipelajari secara mendalam guna memahami arti kata-kata yang termuat di dalamnya. Hal itu harus dilakukan dengan cara mencari arti linguistic aslinya (meliputi  leksikal, sintaksis, gramatikal, dan sebagainya) dalam berbagai penggunaan material maupun figuratifnya. Dengan demikian makna al-Qur’an diusut melalui pengumpulan seluruh bentuk kata di dalam al-Qur’an, dan mempelajari konteks spesifik kata itu dalam ayat-ayat dan surah-surah tertentu serta konteks umumnya dalam al-Qur’an.
  • Ketika hendak memahami pernyataan-pernyataan yang sulit (asrar al-ta’bir), naskah yang ada dalam susunan al-Qur’an harus dipelajari untuk mengetahui kemungkinan maksudnya. Baik bentuk lahir maupun semangat teks itu harus diperhatikan. Apa yang telah dikatakan oleh penafsir, dengan demikian, diuji kaitannya dengan naskah yang sedang dipelajari, dan hanya sejalan dengan naskah yang diterima. Seluruh penafsiran yang bersifat sektarian dan israiliyat yang mengacukan, yang biasanya dipaksakan masuk ke dalam tafsir al-Qur’an, harus disingkirkan. Dengan cara yang sama, penggunaan tata-bahasa dan retorika dalam al-Qur’an harus dipandang sebagai kriteria yang dengannya kaidah-kaidah para ahli tata bahasa harus dinilai, bukan sebaliknya. Sebab bagi kebanyakan ahli, bahasa Arab merupakan hasil capaian dan bukan bersifat ilmiah.
Baca juga:  Sekilas tentang Analisis Sosial

Dari empat standarisasi penafsiran yang digariskan oleh Bintu al-Syathi di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa setidaknya terdapat tiga tahapan yang harus dilalui seorang penafsir dalam mengaplikasikan teori di atas, yaitu; pertama dengan mengungkap makna leksikal (makna dasar) dari setiap kosakata dalam al-Qur’an; kedua dengan melibatkan seluruh ayat al-Qur’an yang memiliki keterkaitan dengan persoalan yang tengah dikaji; dan ketiga dengan melacak keberadaan al-siyaq al-khashsh dan al-siyaq al-‘amm guna mengetahui makna gramatikal dari sebuah kata dalam al-Qur’an.

Setidaknya terdapat dua manfaat secara hermeneutis (hermeneutical advantages) yang dapat diperoleh dalam proses memahami al-Qur’an menggunakan metode yang dirumuskan oleh Bintu al-Syathi’ di atas –sebagaimana yang dijelaskan Dr. Sahiron Syamsuddin di dalam bukunya An Examination of Bint al-Shati’s Method of Interpreting the Qur’an— yaitu; pertama, bahwa dengan menerapkan metode ini, seorang penafsir akan mampu mengungkap makna dasar dari setiap kosakata di dalam al-Qur’an (originally intended meaning of the Qur’anic words) beserta prinsip-prinsip dasar yang dimiliki al-Qur’an (originally intended Qur’anic principles); kedua, bahwa metode di atas dapat mengarahkan seorang penafsir untuk memahami aspek pemaknaan retorika al-Qur’an, dimana tidak akan didapati satu kata atau huruf pun yang bisa menggantikan kata yang lain dengan makna yang persis sama.

Komentar