Fenomena “Ngaji” yang mulai marak di Indonesia patut kita syukuri dan apresiasi, namun hal ini juga meninggalkan PR bagi kalangan ustad dan para dai kita. PR yang kami maksud adalah, semakin menjamurnya kajian, maka semakin banyaknya ustad dan dai yang menjawab persoalan fikih tanpa mengindahkan aturan-aturan dalam berfatwa, bahkan tidak jarang seorang ustad dan dai yang bukan spesialis fikih menjawab persoalan-persoalan fikih, ini secara tidak langsung telah melanggar kode etik profesionalisme spesialisasi dalam ilmu agama.

Sebagai contoh, banyak kejadian dimana ketika seorang ustad ditanyai permasalahan hukum, lalu ia menjawabnya dengan mangaku-ngaku hukum yang ia sampaikan merupakan mazhab Syafi`i, namun jika dicermati dengan teliti, metode yang beliau sampaikan bertolak belakang dengan metode yang telah dipraktikkan dan diwariskan oleh ulama-ulama Syfi`iyah dari zaman kezaman.

Setelah kami perhatikan bagaimana guru-guru kami yang mutamakkin (mumpuni) dalam menjelaskan dan berfatwa dalam fikih Syafi`I dengan beliau-beliau yang mengaku Syafi`I, dapat kami simpulkan bahwa untuk mengidentifikasi apakah seseorang belajar mazhab Syafi`I dengan metode yang banar atau tidak, dengan kriteria berikut:

Jika ada ustad yang menjelaskan / menjawab permasalahan fikih, lalu mengatakan bahwa ini adalah mazhab Syafi`i dengan menukil langsung perkataan Imam Syafi`I dari kitab Al Umm atau perkataan Imam Ghazali dari kitab-kitab fikih beliau seperti Wasith dan sebagainya, atau sesekali menukilkan dari kitab Majmu`nya Imam Nawawi, maka besar kemungkinan cara belajar fikih Syafi`i beliau tidak normal.

Baca juga:  HUKUM ISLAM: ANTARA WAHYU (REVELATION) DAN AKAL (REASON) (Article Review: Revelation and Reason in Conflicts dan Tensions in Islamic Jurisprudence, by Noel. J. Coulson)

Namun jika seorang ustad ketika menjawab / menjelaskan permasalahan fikih, kemudian menjawab dalam mazhab Syafi`I dengan menisbahkan pendapat tersebut kepada Imam Ibnu Hajar Al Haitami dan Imam Jamal Ar Ramli, bahkan menyebutkan nama yang mungkin jarang terdengar seperti, Syaikh Islam Zakariya Al Anshari, Imam Taqi As Subki, Imam Ibnu Rif`ah, Imam Isnawi, Imam Khatib As Syirbini, Imam Ibnu Mulaqqin, Imam Bajuri, Imam Syarqawi, Imam Bujirmi, Imam Syibramillisi dan lainnya, maka sangat besar kemungkinan cara belajar fikih Syafi`inya benar.

Jika ada yang mendebat kriteria ini dengan pertanyaan “kenapa yang langsung mengambil perkataan Imam Syafi`I di kitab Al Umm anda katakan metode belajar fikif Syafi`inya salah? Jangan-jangan anda tidak kenal siapa Imam Syafi`I, beliau itu Nashirussunnah, Imam Mujtahidin !”

Jika seseorang menukil langsung perkataan Imam Syafi’i, maka mungkin cara belajar fikih Syafi’i beliau tidak normal. Jika menisbahkan pendapat tersebut kepada Imam Ibnu Hajar Al Haitami dan Imam Jamal Ar Ramli, mungkin sebaliknya.

Maka kami jawab: Apa yang kami sampaikan diatas bukan berarti merendahkan Imam syafi`I dan Imam Ghazali, هما على عيني و رأسي. Namun jika kita berbicara mengenai mazhab, berarti kita berbicara sebuah madrasah dan metodologi, Imam Syfi`I sebagai peletak pondasi awal lalu dikembangkan oleh pakar-pakar dari setiap cabang ilmu lainnya, seperti ushul fikih, hadis, bahasa Arab dan lain-lainnya. Sebut saja ada Imam Haromain, Imam Ghazali, Imam Syirazi, Imam Mawardi, Imam Rafi`i, Imam Nawawi, Imam Ibnu Shalah, Imam Al Baghawi, Imam Fakhruddin Ar Razi, Imam As Subki, Syaikhul Islam Zakariya Al Ansyari, Al Hafiz Ibnu Hajar Al `Asqalani, Imam Jalaluddin As Suyuti, Imam Ibnu Hajar Al Haitami, Imam Ar Ramli, Imam Bajuri, Imam Syarqawi dan seterusnya. Hal ini sebenarnya ma`lum bid dharurah bagi pelajar mazhab Syafi`i.

Baca juga:  Kebijaksanaan dan Rasionalitas: Hikmat bagi Pendidikan [Part 2]

Semoga hal diatas bisa jadi renungan kita bersama, jangan pernah sekali-kali memandang remeh hal-hal yang terlihat sepele diluar tapi sebenarnya krusial. Juga ingin kami sampaikan bahwa “tatacara belajar” itu juga penting, tidak cukup dengan pintar dan gemar membaca.

أَ مُدَّعِيًا عِلْمًا وَ لَسْتَ بِقَارِئٍ كِتَابًا عَلَى شَيْخٍ بِهِ يَسْهُلُ الْحَزْنُ
أَ تَزْعُمُ أَنَّ الذِّهْنَ يُوْضِحُ مُشْكِلاً بِلَا مُخْبِرٍ تَاللهِ قَدْ كَذَبَ الذِّهْنُ
وَ إِنَّ ابْتِغَاءَ الْعِلْمِ دُوْنَ مُعَلِّمٍ كَمُوْقِدِ مِصْبَاحٍ وَ لَيْسَ لَهُ دٌهْنٌ

Apakah engkau mengaku berilmu namun tidak pernah membaca kitab dihadapan seorang guru yang menguraikan setiap kerumitannya”

“Apakah engkau menyangka bahwa akal saja mampu menjelaskan yang musykil tanpa ada seorang guru, demi Allah sebenarnya akal telah berdusta”

“Dan bagi orang yang mencari ilmu tanpa seorang guru, bagaikan orang yang ingin menyalakan lampu namun tidak memiliki minyak”

Komentar

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.