Bentuk pengingkaran terhadap tuhan itu bermacam-macam. Ada yang memang menolak keberadaan tuhan karena tidak mempercayai proses penciptaan awal, ada lagi yang menolak karena merasa dunia tidak berjalan beres.

Salah satu contohnya dapat dilihat dari pernyataan seorang komedian Inggris beberapa tahun lalu, Stephen Fry, saat ditanya oleh Gay Byrne, “Apa yang akan Anda katakan kepada tuhan jika Anda berjumpa dengan-Nya?”

Dengan mimik serius, Stephen Fry menjawab, bahwa tuhan itu sinting, maniak, karena telah menciptakan dunia penuh dengan ketidakadilan dan kesakitan. “Kangker tulang pada anak-anak? Apa-apaan itu?” Ia kemudian mengatakan bahwa manusia tidak seharusnya mendapatkan segala penderitaan tersebut. Dan mengklaim bahwa apa yang dilakukan tuhan itu adalah perbuatan setan.

Pengingkaran ini juga banyak diaminkan oleh beberapa kalangan yang menganggap bahwa agama adalah sumber petaka di dunia. Peperangan-peperangan besar yang terjadi di dalam sejarah, merupakan peperangan atas nama agama. Ekspansi, penjajahan, penjarahan, menurut mereka itu semua terjadi atas nama agama. Agama punya jejak rekam yang buruk, dan jika seseorang ingin menjadi pribadi yang baik, dan terbebas dari beban masa lalu, cukup menjadi atheis, kemudian junjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Konsep seperti ini juga banyak terdapat pada karya-karya fiksi, misalkan pada film PK. Memang, pada akhirnya ia menjelaskan bagaimana sebenarnya keadilan tuhan itu ada, dan yang salah adalah tokoh agama yang menjual ayat-ayat-Nya. Tapi bagi penonton yang tidak berhati-hati, bisa saja mereka terbawa pemikiran menyesatkan di pertengahan film, dengan mengatakan bahwa beberapa aturan agama (yang memang banyak konyolnya) adalah wrong number.[1]Segala ajaran tersebut berasal dari tuhan palsu yang mengaku-ngaku sebagai tuhan.

Memahami konsep awal

Sebenarnya, pengingkar dengan alasan ini bukanlah atheis. Mereka adalah orang-orang yang percaya adanya tuhan, kemudian juga mengakui penciptaan awal. Namun merasa enggan untuk mengakui karena merasa bahwa pencipta itu tidaklah Maha Pengasih, tidak pula Maha Adil.

Tapi dengan menjadikan ini sebagai dalih, berarti mereka lupa konsep awal dari sebuah kepemilikan. Bahwa pemilik berhak melakukan apa saja terhadap apa yang ia miliki. Misalkan, saudara pembaca memiliki sebuah mobil, maka saudara pembaca memiliki kebebasan untuk menggunakan mobil itu dengan baik, merusaknya, atau bahkan menghancurkannya. Tindakan saudara pembaca tersebut tak akan pernah mengubah fakta bahwa saudara pembaca adalah pemilik mobil tersebut.

Baca juga:  Enam Hal yang Membatalkan Puasa

Apalagi pencipta. Dia memiliki hak lebih luas dari pada sekedar pemilik. Ini tidak sama dengan hubungan antara raja dan rakyatnya. Rakyat tetap memiliki hak untuk mendapatkan pengayoman. Raja tak punya kelebihan apa-apa, kecuali amanah dari rakyatnya. Namun tuhan, Dia berada pada level yang sama sekali berbeda. Dia mau berikan kebaikan ataupun keburukan pada alam semesta, itu adalah hak-Nya. Bencana yang tuhan turunkan itu tak dapat mengubah fakta bahwa alam ini diciptakan.

Makanya saat kita menengok daftar sifat-sifat wajib bagi Allah, kita tak akan menemukan beberapa sifat pada Asmâu’l Husnâdisana, karena beberapa sifat Allah tidak berkaitan langsung dengan zat-Nya. Sifat-sifat tersebut bergantung kepada kehendak-Nya. Apakah Dia akan lakukan atau tidak, makhluk tidak punya hak protes. Inilah yang disebut sebagai sifat jâiz[2]bagi Allah.

Allah punya sifat maha penyayang, memang benar. Tetapi Dia juga punya hak untuk menurunkan azab yang pedih. Allah punya sifat maha adil, memang benar. Namun jika adil yang dimaksud adalah meletakkan seseuatu pada tempatnya, maka Allah boleh saja berlaku tak adil, saat meletakkan pendosa di dalam surga, karena Dia juga Maha Pengampun. Berbeda dengan sifat-sifat wajib[3]-Nya. Saat hilang, maka ketuhanan akan lenyap seketika.

Disinilah pentingnya memahami posisi kita sebagai makhluk. Makhluk tak punya daya, tak punya kuasa. Ia berjalan sesuai sistem yang telah diatur oleh Sang Pencipta. Allah tunjukkan segala bentuk cacat di atas dunia agar manusia paham, mengerti, bahwa kesempurnaan adalah milik-Nya. Bahkan mestinya manusia bersyukur, saat Allah memiliki segala kekuasaan, manusia masih diberi rahmat, diberi nikmat. Orang yang berpikir dan menggunakan nurani akan menjadikan ini sebagai pokok dari tumbuhnya bunga-bunga cinta kepada Sang Pencipta. Pertanyaannya, pribadi seperti apakah yang akan kita pilih?

Bagaimana dengan sejarah agama yang dianggap kelam?

Orang-orang yang menolak agama (bertuhan) karena melihat sejarah kelam yang ia torehkan sebenarnya telah melakukan sesuatu yang cacat secara intelektual. Prilaku Dedemit tidak mencerminkan sifat squad Real Madrid FC. Lalu bagaimana ia melegitimasi sifat-sifat tuhan berdasarkan tindakan pengikut-Nya, padahal ia bisa melihat langsung bagaimana sebenarnya ajakan dan ajaran tuhan?

Orang-orang seperti ini kebanyakan adalah para pemalas, karena enggan untuk meneliti lebih dalam. Ia melihat peperangan antar agama dalam sejarah secara dangkal, hingga ia melewatkan sifat ksatria Salahuddin al-Ayyubi, ataupun sifat toleran Muhammad al-Fatih. Ia juga menggunakan standar era kini untuk kejadian ratusan tahun lalu, era “makan atau dimakan”. Dalam beberapa kasus, ia juga tak mampu membedakan antara tindakan yang benar-benar dilakukan atas nama agama, dan tindakan yang hanya berlindung di balik nama agama.

Baca juga:  Ibadah Selama 83 Tahun, 4 Bulan

Ia melihat ajaran agama secara serampangan, sehingga  berani menuduh (wa’l iyâdzu billâh) bahwa Nabi Muhammad shallallâhu `alaihi wasallamadalah seorang pedofil, padahal Siti Aisyah radhiyallâhu `anhâbahagia, musuh-musuh Islam pada masa itu juga tidak pernah mempermasalahkan hal ini. Ia pakai undang-undang moderen untuk menghukumi kejadian yang terjadi lebih dari satu milenial lalu. Anehnya ia malah memperlakukan remaja 17 tahun, yang sudah mampu bereproduksi, sebagai anak di bawah umur. “Pembuat anak” masih dianggap sebagai anak-anak, kacau.

Maka benarlah firman Allah, bahwa yang takut kepada-Nya hanyalah hamba-hamba-Nya yang mengetahui, yang berilmu. Saat nikmat otak yang telah Allah berikan tidak dimanfaatkan dengan maksimal, maka saat itulah kebenaran tak dapat dicapai.

Kembali kepada konsep yang telah dijelaskan di awal. Dari tulisan-tulisan sebelumnya telah dijelaskan argumen-argumen pasti tentang keberadaan Sang Pencipta. Maka untuk membatalkan argumen-argumen tersebut, dibutuhkan argumen lebih kuat, atau paling tidak argumen yang setara. Saat argumen-argumen tersebut dibantah dengan pandangan relatif terkait ketidakadilan dunia ataupun prilaku atas nama agama,maka saat itulah logika berhenti bekerja. Dan air tak akan mengalir melewati kincir-kincir yang tidak berputar.

Wallahu a`lam.

[1]Seperti membuang-buang susu, atau bisnis ketertakutan. Namun disayangkan, praktek agama Islam yang dikritisi adalah praktek ganjil yang tidak dilakukan oleh umat Islam pada umumnya. Pengekangan terhadap wanita juga disorot, padahal nyatanya, jika kita lebih dalam membaca literatur Islam, Islam tidak membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan.

[2]Boleh, tidak wajib, tidak pula mustahil

[3]Wajib dalam perkara akidah tidak boleh disamakan dengan wajib dalam perkara fikih. Wajib dalam akidah, lawannya adalah mustahil, dalam artian, wajib dalam ilmu ini bermakna pasti. Sedangkan wajib dalam fikih lawannya haram, dalam artian, wajib dalam ilmu ini bermakna harus dilaksanakan. Mencampuradukkan makna istilah dari ilmu-ilmu yang berbeda adalah penyebab muncul kesalahpahaman bahkan tuduhan kesesatan pada madrasah Ahlusunah, Asy’ariyah maupun Maturidiyah

Komentar