Ini saya tulis untuk menjawab kegalauan para suami dan bapak yang Ramadan tahun ini mesti menjadi imam tarawih bagi keluarga masing-masing, namun hanya mampu membaca surat-surat pendek.

FYI, di Sumatera Barat, masih banyak masjid melaksanakan tarawih seperti di Masjidil Haram: 20 rakaat, 2-2, namun dengan ayat yang pendek-pendek.

***

Pada dasarnya, yang disunahkan setelah membaca al-Fatihah, amin, dan diam sejenak adalah SATU SURAT SEMPURNA dari Alquran. Bahkan Imam Ibnu Hajar al-Haitami menegaskan keafdalan satu surat walaupun pendek, dari pada potongan-potongan surat walaupun panjang.

Hal ini didasarkan pada kebanyakan hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca surat-surat yang sempurna saat salat, baik yang panjang, menengah maupun pendek.

Berbeda dengan Imam ar-Ramli yang menjadikan panjangnya ayat sebagai standar, barangkali karena semakin banyak huruf yang dibaca, semakin banyak pahala yang didapat. Namun kedua imam muhakkik ini sepakat, bahwa membaca satu ayat saja belum memenuhi standar sunah. Minimal tiga ayat.

Penulis memilih apa yang dikuatkan oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami : sedikit yang sempurna lebih baik dari pada banyak yang terpotong.

Namun keafdalan ayat pendek ini berbeda dalam salat tarawih, karena banyak atsar menyatakan bahwa ayat yang dibaca pada masa Sayyidina Umar bin al-Khatthab dan generasi setelah beliau adalah ayat yang panjang-panjang, bahkan sebagian riwayat menyatakan, para makmum saat itu sampai bertumpu pada tongkat, saking panjangnya bacaan imam. 

Baca juga:  Apakah Bank Islam Itu Benar Ada? [Part 2]

Makanya Imam Ibnu Hajar al-Haitami pun memandang bacaan potongan surat yang panjang lebih baik dari pada surat pendek yang sempurna : khusus pada salat tarawih. 

Namun kondisi jamaah salat perlu diperhatikan, apakah mereka sanggup atau tidak. Jika bacaan panjang malah akan membuat orang meninggalkan salat sehingga syiar tarawih menjadi hilang, maka bacaan yang ringan adalah lebih baik. Bukankah Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya : “Maka bacalah apa yang mudah dari Alquran!” (QS. Al-Muzzammil: 20)

Sekarang pertanyaannya, mana yang lebih baik, 20 rakaat dengan ayat yang pendek-pendek, atau 8 rakaat dengan ayat yang panjang-panjang?

Ini menjadi menarik dibahas, karena di satu sisi banyak riwayat menyatakan bahwa ayat tarawih pada masa Sayyidina Umar dan seterusnya panjang-panjang, akan tetapi jumlah rakaatnya adalah 20.

Dalam hal ini, guru kami, Syaikh Salim al-Khathib menyatakan : 20 rakaat dengan ayat yang pendek adalah lebih baik, karena meniru format tarawih para sahabat radhiyallahu ‘anhum lebih baik dari pada meniru bacaannya.

Wallahu a’lam.

***

Menyikapi hal ini, saya ingin sampaikan kepada para sahabat, untuk menghentikan segala diksi merendahkan amalan saudaranya yang lain.

“Tarawih kok cuma 8 rakaat?”

“Tarawih kok ayatnya pendek-pendek?”

“Itu kepala keluarga apa tidak malu dengan hafalan anaknya kalau cuma baca ayat pendek pas jadi imam salat?”

Perbedaan ulama terkait bacaan salat ini hanyalah perihal keafdalan, bukan asal sunahnya. Apapun yang dibaca, baik satu surat sempurna ataupun 3 ayat dari surat yang panjang, telah memenuhi standar sunah. Maka jangan bertikai karena kita sama-sama ingin ibadah terbaik.

Baca juga:  Apakah Bank Islam itu Benar Ada? [Part 1]

Bukankah Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah engkau remehkan amal ma’ruf walaupun sedikit!” (HR. Muslim).

Lalu niat di hati kita juga mesti dievaluasi, apakah membaca ayat-ayat yang panjang dalam salat, atau berbanyak-banyak dalam jumlah rakaat, adalah murni karena Allah, atau ingin sombong-sombongan dan meremehkan amal orang lain? Bukankah Rasulullah Saw bersabda : “Tidak akan masuk surga, siapa yang di dalam hatinya ada sebutir kesombongan,” (HR. Muslim)

Andai anak Bapak memiliki hafalan lebih banyak dari bapak, maka wajar. Ia memiliki kesempatan lebih banyak untuk menghafal Alquran dari pada Bapak yang banting tulang demi keluarga. Mungkin cerintanya akan lain jika si anak ikut bekerja dan tidak fokus menghafal Alquran. Syukurilah, karena Bapak bisa memberikan kesempatan belajar bagi anak-anak. Tapi bukan berarti Bapak jalan di tempat dan merasa cukup dengan apa yang Bapak punya. Tetaplah belajar dan menambah ilmu sampai jasad berkalang tanah!

FYI : Saudara-saudara kita di al-Fatah Temboro bisa salat tarawih selama TUJUH JAM. Lalu bagaimana dengan kita?

Semoga Allah kirim salawat dan salam untuk Rasulullah, kerelaan untuk para sahabat, rahmat dan berkah untuk para ulama, sayang dan ampunan untu orang tua kita serta penjagaan untuk guru-guru kita.

Semoga Allah selalu menuntun kita untuk jadi lebih baik

Komentar