Sebagaimana telah dijelaskan pada tulisan sebelumnya, keimanan kuat haruslah dimulai dari penalaran mendalam terhadap tanda-tanda yang ada di alam semesta. Saat menemukan jawaban logis, baru kemudian kesimpulan tersebut disejalankan dengan dalil-dalil wahyu.

Metode ini barangkali terdengar tak biasa, karena lebih mendahulukan akal pikiran dari pada dalil-dalil wahyu. Tetapi perlu diingat, bahwa akal ataupun wahyu, keduanya sama-sama fitrah yang Allah anugerahkan kepada manusia agar ia mampu mencapai kebenaran hakiki. Lalu jika keduanya sama, mengapa akal yang didahulukan? Jawabannya, karena akal adalah nikmat yang sudah langsung ‘terinstall’ pada diri manusia, sedangkan wahyu adalah nikmat yang didapat dari perantara orang lain, misalnya guru atau orang tua.

Proses keimanan yang didasarai oleh logika juga sebenarnya bukanlah hal baru. Jika kita menengok beberapa kisah nabi ataupun orang-orang saleh, maka kita akan temukan bahwa pola ini berlaku. Dan itulah yang akan kita kupas satu persatu.

Pencarian Tuhan oleh Nabi Ibrahim alaihi’s salâm.

Ini adalah kisah Nabi Ibrahim muda, sebelum beliau mendapatkan kemuliaan wahyu. Beliau adalah pemuda cerdas dan juga kritis. Hal ini tampak dari penggambaran beliau di dalam Alquran QS. Al-An`am : 74, saat beliau mempertanyakan mengapa orang tuanya[1]menyembah patung-patung berhala. Bahkan dalam riwayat adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas radhiyallâhu `anhu, orang tua Nabi Ibrahim digelari Âzar karena begitu cintanya ia kepada berhala bernama Âzar, padahal namanya adalah Târih.[2]

Dalam pemahaman Nabi Ibrahim muda, yang patut disembah adalah yang mampu memberikan manfaat atau mudarat, sedangkan patung adalah benda mati yang dibikin. Bagaimana mungkin manusia menyembah sesuatu yang ia bikin sendiri?

Ditolak oleh ayahnya, Nabi Ibrahim muda terus berusaha mencari jawaban, mengapa ia diciptakan, kemudian siapa yang menciptakan. Beliau melihat bintang, bulan dan matahari, mengira benda-benda langit tersebutlah yang telah menciptakannya. Namun semuanya punya fase muncul dan tenggelam. Dalam logika Nabi Ibrahim muda, hal yang tidak tetap serta berubah-ubah, tak patut disembah, tak mungkin menciptakan. Dan pola pikir ini pulalah yang sering digunakan dalam premis ilmu mantik: segala yang berubah pasti adalah ciptaan. Dan setiap ciptaan pasti akan ada akhirnya (hancur).

Akhirnya Nabi Ibrahim mengambil kesimpulan bahwa yang patut disembah adalah pencipta dirinya, pencipta bintang, bulan, matahari, pencipta langit dan bumi beserta isinya. Zat yang tidak terlihat, karena memang alam adalah tempat baru, dibuat oleh Sang pencipta. Alam bukanlah tempat bersemayam-Nya, maka wajar jika panca indera manusia yang masih terikat hukum ruang dan waktu tak akan mampu menangkapnya. Yang bisa menangkapnya bukan panca indera, namun sanubari yang telah menarik kesimpulan dari premis-premis logis.[3]

Baca juga:  Puasa Menurut Imam Ghazali

Saat itulah baru Allah berikan kemuliaan kepada Nabi Ibrahim, saat akal pikirannya telah siap menerima adanya pencipta kosmos. Kemuliaan berupa kenabian, beserta kewajiban tablig yang mengiringinya. Mengapa kisah ini begitu luar biasa dan tidak bisa dianggap main-main? Karena Nabi Ibrahim menemukan tuhan sebelum mendapatkan wahyu. Bukan sebaliknya, menerima wahyu baru menemukan tuhan.

Kisah As-hâbu’l Kahfi

Kisah ringkas As-hâbu’l Kahfi dapat kita temukan di dalam al-Quran, surat al-Kahfi. Detailnya tentu dapat dilihat di dalam tafsir ataupun literatur lainnya, namun polanya tetap sama. Kisah ini adalah tentang sekelompok pemuda yang melarikan diri raja zalim dan kerajaan yang akan memaksa mereka kembali kepada kekafiran jika mereka tak ingin binasa. Dan Allah selamatkan mereka dengan cara yang ajaib.

Yang patut diperhatikan dalam kisah ini adalah bahwa para pemuda As-hâbu’l Kahfi bukanlah nabi, dan mereka juga hidup di lingkungan yang tidak beriman. Dengan kata lain, mereka mendapatkan keimanan bukan melalui wahyu, bukan pula karena ada yang mendakwahi mereka. Lalu dari mana mereka mendapatkan hidayah?

Jawabannya adalah akal pikiran. Seperti Nabi Ibrahim muda, para pemuda ini juga adalah pemuda cerdas dan kritis. Meskipun mereka tak mendapatkan wahyu ataupun berjumpa dengan pendakwah keimanan, mereka tetap mendapat nikmat hidayah, karena ada satu wasilah utama yang Allah berikan kepada manusia untuk menyingkap ayat-ayat-Nya : akal pikiran.

Kerisauan Nabi Muhammad shallallâhu `alaihi wa sallam menjelang kenabian

Orang-orang yang membaca sirah Nabi Muhammad hanya bermodal kurikulum sekolah ataupun kajian-kajian lepas tak berkurikulum tentu akan melewatkan banyak poin-poin penting dari kehidupan beliau. Sejarah detail barangkali diketahui, namun hikmah-hikmah di baliknya boleh jadi terabaikan.

Banyak yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah manusia terpilih sejak dari dalam kandungan, bahkan dikatakan juga bahwa cahaya beliau adalah hulu segala ciptaan. Namun perlu diingat, bahwa beliau baru menerima wahyu pada usia 40 tahun, sedangkan apa yang beliau alami sebelumnya merupakan fitrah beliau sebagai Muhammad bin Abdullah, belum sebagai Muhammad Rasulullah.

Sejak sebelum beliau menerima wahyu, beliau telah menyadari bahwa yang patut disembah adalah Tuhan Yang Maha Esa, bukan berhala. Dan tak patut pula menyandingkan keduanya sebagai sembahan yang setara. Beliau tidak rela, melakukan perubahan pun beliau tak kuasa. Demi menjaga hati dan terbebas dari kerisauan melihat kekufuran kaumnya, Nabi Muhammad lebih memilih untuk menghindar, menyendiri di Gua Hira agar lebih dapat mendekatkan diri kepada Allah.[4]

Baca juga:  Ibadah Selama 83 Tahun, 4 Bulan

Beliau hidup di tengah-tengah kaum Jahiliyah. Beliau tak mendapatkan petunjuk dari para Ahli Kitab. Beliau pun belum menerima wahyu. Lalu bagaimana bisa seorang Muhammad yang belum diangkat menjadi nabi, terpanggil untuk tetap menjaga akidahnya, bahkan lebih memilih untuk menyendiri dari pada hidup di tengah-tengah kaumnya? Karena beliau menggunakan fitrah yang telah Allah berikan sebelum wahyu menyapa : akal pikiran.

Saat akal pikiran beliau telah siap, dan sebagai jawaban kerisauan batin beliau melihat penyelewengan kaumnya, barulah Allah berikan kenabian kepada beliau, untuk kemudian beliau dakwahkan ajarannya kepada seluruh umat manusia.

***

Penggunaan akal dan pikiran bukanlah hal baru. Para nabi dan orang-orang saleh terdahulu pun telah menggunakannya, dan dengan itulah mereka mendapatkan kemuliaan. Bukan hanya manusia, bahkan anjing pun mendapat kemuliaan karena mengiringi perjuangan para pemuda As-hâbu’l Kahfi.

Kemudian, satu hal lagi yang perlu diperhatikan agar jangan sampai kita beriman dengan mengesampikan logika. Wahyu adalah bahasa yang tidak universal. Tidak semua orang dapat menerimanya. Alquran hanya akan diterima oleh orang yang telah beriman kepadanya. Ia tak akan mempan jika dibawa pada ranah diskusi dengan orang-orang Nasrani, Budha, ataupun atheis. Bahasa yang dapat diterima dan dimengerti oleh seluruh manusia adalah bahasa logika, bahasa satu ditambah satu adalah dua. Dengan bahasa logika inilah agama Islam dapat menjadi rahmat bagi sekalian alam, bukan sekedar rahmat bagi mereka yang percaya.

Sekali lagi perlu penulis ingatkan, bahwa logika mesti digunakan untuk pencarian tuhan serta pembenaran terhadap kenabian. Adapun perkara-perkara sam`iyyât, seperti adanya jin dan malaikat, maka hal itu sudah keluar dari logika. Wajib dipercayai sebagai implikasi kepercayaan kepada Sang Pencipta, sumber dari segala wahyu.

Wallahu a`lam.

[1]Sengaja tidak kami buat ayah beliau, karena ada khilaf ulama bahwa yang disebutkan di dalam ayat tersebut bukanlah ayah beliau, melainkan paman beliau.

[2]Tafsîru’l Qur’âni’l `Azhîm, Ibn Katsir, Jilid 3, Halaman 258, ditahkik oleh Muhammad Husen Syamsuddin, Darul Kutub al-Ilmiyyah, cet. pertama, Beirut, 1998

[3]QS. Al-An`am :   74-79

[4]Nûru’l Yaqin fi Sîrati Sayyidi’l Mursalîn, Muhammad bin Afifi al-Bajuri Al-Khudhari, Cet. pertama, Darul Faiha’, Damaskus, 1425H

Komentar