Secara global, ada beberapa sebab mengapa wanita hamil dan menyusui tidak berpuasa, dan masing-masing sebab memiliki konsekuensinya.

Jika ia tidak berpuasa karena takut ada mudarat yang akan menimpa dirinya, atau menimpa dirinya dan anaknya, maka ia cukup mengganti puasa tersebut di hari yang lain (qadha). Jika ia hanya mengkhawatirkan anaknya, maka wajib baginya mengganti puasa, ditambah dengan fidiah satu mud (sekitar 0,6 kg atau 0,75 liter untuk beras) setiap harinya. Hal ini juga berlaku bagi setiap orang yang membatalkan puasanya karena orang lain,[1]seperti dokter yang takut jika ia berpuasa maka nyawa pasiennya terancam.[2]

Pertanyaannya, mengapa justru orang yang memiliki kepedulian lebih kepada orang lain yang malah harus mengganti lebih banyak? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka kita harus mempelajari istidlal hukumnya, agar lidah kita tidak terlalu ringan mengatakan bahwa hukum ini aneh dan ulama yang mengambil pendapat ini adalah ulama yang aneh. Pikirkan, ini adalah hukum muktamad dalam mazhab Syafi`i dan Hambali, dan silakan dikaji, ada berapa ahli tafsir, hadis, Bahasa Arab dan logika di dalam daftar ulama-ulama kedua madrasah ini.

***

Dalil Utama

Saat mengkaji permasalahan qadha maupun fidiah, dalil yang menjadi rujukan utama adalah QS. al-Baqarah : 184. Dan ada beberapa hukum dasar yang dijelaskan secara gamblang di dalam ayat ini.

Pertama, bagi orang yang membatalkan puasanya karena sakit dan/atau karena sedang melakukan perjalanan (safar) maka ia wajib mengganti puasanya di hari yang lain, saat uzurnya hilang, ataupun kemampuannya untuk berpuasa telah pulih. Yang menjadi standar disini bukan hanya sakit yang telah ada. Tetapi juga sakit yang mungkin bisa timbul ataupun bertambah jika ia tetap melaksanakan puasa. Makanya wanita hamil dan menyusui yang khawatir terhadap keselamatan dirinya, masuk ke dalam kategori ini. Ia hanya wajib mengqadha.

Kedua, bagi orang yang dahulunya mampu berpuasa, kemudian kemampuan tersebut hilang, apakah karena keadaannya yang sudah renta, ataupun karena ia menderita penyakit yang (menurut penjelasan medis terpercaya) sudah tidak punya harapan sembuh, maka ia tidak mengganti puasa tersebut dengan puasa (karena memang sudah tidak mampu lagi). Namun ia menggantinya dengan membayar fidiah.

Lalu bagaimana dengan wanita hamil dan menyusui, yang mengkhawatirkan anaknya saja?

Ia tidak bisa dikategorikan sebagai kelompok pertama (sepenuhnya) karena ia tidak mengkhawatirkan sama sekali penyakit ataupun mudarat yang akan menimpa dirinya. Ia mengkhawatirkan orang lain, anaknya[3]. Ia juga tidak bisa dikategorikan sebagai kelompok kedua, karena ia masih mampu untuk melakukan puasa saat proses hamil dan menyusuinya telah selesai.

Permasalahan ini muskil, maka wajar jika ada riwayat dimana SayyidinaIbnu Umar radhiyallâhu `anhu ditanyai terkait permasalahan ini, yang kemudian dijawab oleh beliau, “Ia boleh tidak berpuasa, lalu ia harus memberi makan orang miskin satu mud gandum setiap satu harinya,”

Imam Syafii berkata di dalam riwayat Abu Said, “Imam Malik mengatakan bahwa para ulama menetapkan fidiah tersebut dibayarkan sembari mengqadha puasa yang batal,”. Imam Malik menambahkan, sebabnya karena Allah berfirman, “Dan siapa saja di antara kamu yang sakit ataupun dalam perjalanan, maka (ia boleh tidak berpuasa kemudian) menggantinya di hari yang lain,”[4]

Baca juga:  Hal-hal yang Perlu Diketahui Mengenai Taubat

Dalam artian, hukum asal itu ada, bahwa setiap orang yang puasanya batal dan mampu menggantinya, maka ia harus mengganti (qadha), sesuai dengan firman Allah di QS. al-Baqarah : 184. Dan fatwa yang dikeluarkan oleh Ibnu Umar dalam riwayat di atas, ataupun Ibnu Abbas radhiyallâhu `anhumâdalam riwayat lainnya, tidak dapat membatalkan hukum dari ayat yang tentu lebih kuat. Namun pernyataan para sahabat dapat menjadi penjelasan tambahan bagi dalil-dalil yang lebih  kuat, karena mereka adalah generasi yang paling memahami Alquran dan sunah.

Dengan riwayat ini, terjawab sudah mengapa wanita hamil dan menyusui yang hanya mengkhawatirkan keselamatan anaknya, tanpa menghiraukan keselamatan pribadinya, wajib mengqadha puasa yang batal dan menambahnya dengan fidiah. Qadha diwajibkan dengan dalil ayat Alquran, dan fidiah wajib karena fatwa dari Ibnu Umarradhiyallâhu `anhu.

Fatwa Fidiah bagi Wanita Hamil dan Menyusui

Belakangan, muncul fatwa yang menyatakan bahwa wanita hamil dan menyusui yang hanya mengkhawatirkan anaknya, sebagaimana yang telah kita jelaskan tadi, cukup baginya membayar fidiah tanpa mengganti puasa. Dan fatwa ini, agak meresahkan, terutama saat difatwakan di tengah-tengah umat Islam Indonesia yang mau diakui atau tidak, mayoritasnya bermazhab Syafi`i.

Ada dua hal yang membuat fatwa ini perlu dikaji ulang.

Pertama, adalah karena pendapat ini disandarkan kepada fatwa Sayyidinâ Ibnu Umar yang telah kita jelaskan di atas. Bolehkah mengambil fatwa Ibnu Umar? Tentu saja boleh. Tetapi saat ini pertanyaan sebenarnya tidak demikian, melainkan, “Bolehkah mengambil fatwa Ibnu Umar saja, dan mengabaikan hukum asal yang telah gamblang di dalam Alquran (meskipun hukumnya ditarik dengan metode kias)?” Tentu kita sama-sama akan menjawab TIDAK.

Kenyataannya demikianlah yang terjadi. Saat kita mengambil fatwa Ibnu Umar, kemudian memfatwakan fidiah saja bagi wanita hamil dan menyusui yang hanya khawatir akan keselamatan anaknya, otomatis kita telah membatalkan hukum kias terhadap QS. al-Baqarah : 184, bahwa setiap orang yang puasanya batal, maka ia wajib mengqadha selama ia masih punya kemampuan. Padahal kias adalah satu dari empat dalil yang disepakati oleh ulama lintas mazhab, sedangkan perkataan sahabat adalah dalil yang masih diperdebatkan. Jangankan untuk menghapus sama sekali (nasakh), dalam takhsis saja, dalil lemah tidak dianggap jika dihadapkan pada dalil yang lebih kuat. Ini jika kita ingin melihat dari segi akar dalilnya.

Kedua, adalah karena pendapat ini tidak memiliki sandaran ijtihad kepada satu dari empat mazhab yang muktamad.[5]Mengapa sebuah pendapat yang tidak dipegang oleh mazhab yang empat itu diragukan? Terdapat banyak alasan, namun secara garis besar, karena hanya empat mazhab (madrasah) inilah yang berdiri di atas kokohnya akidah Suni[6], didirikan oleh ulama mujtahid yang diakui secara ijmak oleh umat Islam[7], memiliki ulama-ulama muktabar di tiap generasi yang meriwayatkan sanad dan menghidupkan madrasah tersebut sampai saat ini[8].

Baca juga:  Tuntunan Shalat Qiyamullail Semalam Suntuk

Menyandarkan fatwa kepada perkataan ulama generasi sahabat ataupun generasi tabiin tidak membuat sebuah fatwa itu kuat, jika tidak memiliki validitas dari satu dari empat mazhab muktamad. Akan terdapat banyak prosedur istidlal yang akan tertabrak, karena yang melakukan istidlalnya bukan mujtahid. Seperti fatwa fidiah bagi wanita hamil ini, terdapat kesalahan prosedur dalam proses istidlalnya, yakni batalnya dalil kias disebabkan adanya perkataan generasi sahabat.

Kalaupun ada ulama yang memiliki pendapat yang berbeda dengan apa yang dipegang oleh mazhab empat yang muktamad, maka pendapat itu disebut sebagai pendapat syâdz(ganjil). Mau menggunakan pendapat tersebut untuk pribadi, silakan. Tanggung jawab pribadi. Namun memfatwakan pendapat tersebut? Ini yang akan menimbulkan keresahan.[9]

Penulis tidak akan berdalam-dalam membahas aturan serta adab dalam berfatwa. Hal ini telah penulis di jelaskan di beberapa tulisan penulis sebelumnya, meskipun masih banyak hal yang belum penulis bahas. Penulis ingin tekankan, membeberkan seluruh pendapat ulama kepada awam, kemudian mempersilakan mereka untuk memilih sendiri, adalah sebuah kezaliman. Itu sama saja menyuruh orang yang bukan ahli tarjih melakukan tarjih. Mendorong anak yang tak pandai berenang ke dalam air yang dalam. Sama halnya dengan dokter yang meresepkan loratadine, cetirizine, fexofenadinedan phenyphrinekepada pasiennya yang mengalami rhinitis, kemudian berkata, “Silakan pilih!”

Hasbunallah wa ni`ma’l wakîl.

Wallâhu a`lam.

 

[1]Nihayatul Muhtaj Ila Syarhil Minhaj, Imam Syihabuddin ar-Ramli, jilid 3, halaman 194, cetakan Darul Fikr, Beirut, 1984. Penjelasan serupa juga dapat ditemukan di kita-kitab Syafi`iyyah lain.

[2]Contoh lazimnya diberikan ulama di dalam literatul fikih klasik adalah orang yang menyelematkan orang lain yang tenggelam, dan untuk melakukan penyelamatan tersebut, ia harus membatalkan puasanya.

[3]Ataupun anak orang lain yang ia susui.

[4]Ma`rifatu’s Sunan wa’l Atsar, Imam Ahmad bin al-Husain Abu Bakar al-Baihaqi, jilid 6, halaman 273, Daru Qutaibah, Beirut, 1991.

[5]Al-Fiqhu’l Islami wa Adillatuh, Prof. Wahbah az-Zuhaili, jilid 3, halaman 1701, Darul Fikri, Damskus.

[6]Disini, mazhab-mazhab yang tidak berlandaskan akidah suni tereliminasi, seperti mazhab-mazhab Syiah

[7]Disini, mazhab yang status mujtahid imamnya tidak disepakati tereliminasi, seperti Zhahiriyah, madrasah Imam Daud azh-Zhahiri

[8]disini, mazhab yang telah terputus jalur riwayatnya tersingkir, seperti mazhab Imam Laits bin Sa’d

[9]Jika ada alumni al-Azhar yang berfatwa dengan gaya ini, maka kita patut bertanya, “Ente belajar dimana dulu?”. Karena kurikulum al-Azhar itu jelas. Dan saat penulis mengatakan al-Azhar, yang penulis maksud bukan universitasnya saja. Sama halnya dengan alumni Madrasah Sumatera Thawalib Parabek yang mrupakan salah satu madrasah Syafi`iyyah. Untuak penjelasan lebih lengkapnya, silahkan baca kitab al-Raddu `alā mani’t taba`a Ghaira’l Madzāhibi’l Arba`ah karya Ibn Rajab al-Hambali.

Komentar