“Agama ini agama wahyu, bukan dengan logika!” ujar salah seorang penceramah di masjid dekat rumah saya.

Barangkali pembaca juga sempat mendengar ataupun membaca ungkapan seperti ini. Padahal jika kita lebih dalam mempelajari agama ini, terutama sumber ajarannya -Alquran dan sunah-, maka kita akan temukan betapa akal pikiran mendapatkan posisi yang tidak main-main.

Terdapat banyak ayat yang menekankan keutamaan akal pikiran untuk menemukan hidayah. Misalnya QS. Al-Baqarah : 164, dimana Allah jelaskan fenomena-fenomena sederhana alam yang hanya akan menjadi hal luar biasa jika diperhatikan oleh orang-orang yang berakal (qaumiy’ ya`qilûn). Di dalam QS. Ali Imran : 190, Allah juga memberikan perumpamaan fenomena alam yang kemudian hanya dapat diekstrak hidayah di dalamnya oleh orang-orang yang memiliki pikiran (uli’l albâb). Bukan hanya mengingatkan pentingnya akal, Allah juga memerintahkan umat Islam untuk menggunakannya. Misalnya pada QS. Al-Hasyr : 2.

Lalu bagaimana seharusnya seorang muslim menempatkan logikanya dalam beragama? Bukankah dasar dari agama adalah ketaatan, sami’nâ wa atha’nâ? Bukankah beragama itu mengikuti Rasulullah shallallâhu `alaihi wa sallam yang dimulai dengan niat ikhlas karena Allah ta’âla? Lalu mengapa Allah juga memerintahkan umat manusia untuk menggunakan akal pikirannya?

Disinilah makanya penting untuk memperbaiki pola pikir kita sebelum menggeneralisir apakah agama kita berdasarkan wahyu, ataupun logika. Karena sebenarnya dua hal ini tidaklah bertentangan. Ada hal-hal di dalam agama kita yang memang harus disandarkan kepada logika, misalnya kumpulan premis-premis yang akan mengantarkan kita kepada kongklusi adanya pencipta alam semesta.

Mengapa menggunakan logika? Mengapa tidak wahyu? Sebab mustahil kita menyimpulkan adanya Allah dengan dasar adanya Alquran. Bagaimana mungkin kita akan beriman kepada Alquran, sedengakan kita belum beriman kepada Allah? Dan bagaimana mungkin kita beriman kepada Allah melalui Alquran yang masih belum kita imani? Ini contoh cacat berpikir yang disebut di dalam Bahasa Arab sebagai daur[1].

Dasar keimanan kepada Rasul juga harus didasarkan kepada logika yang lurus, sebab tanpa filter logika, maka akan diakuilah setiap orang yang mengaku sebagai pembawa wahyu ilahi. Jadi sebelum memutuskan percaya atau tidak, setiap manusia harus memiliki standar kenabian yang benar jika ada yang mengaku mendapatkannya. Ulama ahli sunah waljamaah merangkum empat syarat mutlak yang harus dijadikan standar ukuran jika ada yang mengaku-ngaku mendapatkan kenabian, sebelum kemudian membuktikan hal tersebut melalui mukjizat yang ia bawa.

Baca juga:  Melatih Kesabaran Diri melalui Media Sosial

Oh berarti semua perkara akidah, seperti dua contoh di atas, itu didasarkan pada logika? Tunggu dulu! Karena ada juga beberapa perkara akidah yang tidak akan masuk akal meskipun kita jungkir balik menggunakan logika. Misalnya perkara iman kepada adanya malaikat, jin, hari kiamat, azab kubur dan lain sebagainya. Hal-hal seperti ini haruslah diterima karena kita telah mutlak mempercayai Sang Khalik dan Sang Utusan (wahyu), meskipun hal ini tidak masuk akal.

Makanya para ulama ahli sunah membagi perkara akidah menjadi tiga : Ilâhiyyât, Nubuwwât dan Sam’iyyât, agar para pelajar akidah mengetahui kapan ia harus menggunakan logika, dan kapan menggunakan wahyu, kemudian keduanya diselaraskan demi mendapatkan kesimpulan yang kokoh.

Ini dalam akidah, logika dikedepankan kemudian baru masuk pada tahap keimanan pada perkara-perkara gaib. Berbeda dengan ibadah, yang dimulai dengan ketaatan tanpa mempertanyakan, baru kemudian akal akan mencari jika ada hikmah yang ada di balik syariat agar hati lebih tenang dalam menjalankannya. Saat ilmu ibadah (fikih) sudah mencapai level tertentu pun, ada kalanya seorang muslim harus melakukan ijtihad yang tentu membutuhkan akal yang lurus untuk mencerna dalil-dalil wahyu.

Baca juga:  Puasa Menurut Imam Ghazali

Dengan kata lain, tak elok rasanya jika kita campur adukkan antara perkara fikih dan perkara tauhid. Tak pantas juga jika kita samakan antara perkara ilâhiyyât sertanubuwwât dengan perkara sam`iyyât dalam akidah, atau perkara ijtihad dengan perkara taklid dalam fikih. Semuanya punya dasar dan landasan berbeda satu sama lain. Maka sepatutnya kita bersyukur karena para ulama salaf maupun khalaf telah menyusun ilmu-ilmu agama sedemikian rupa sehingga kita dengan mudah dapat mencernanya.

Tak ada pertentangan antara akal dan wahyu. Yang bertentangan sebenarnya adalah orang yang tahu dengan orang yang tidak. Akal dan wahyu mestilah sejalan, karena akal adalah nikmat yang dibawa sejak lahir, sedangkan wahyu didapatkan saat manusia mulai menggunakan akalnya. Keduanya harus digunakan agar seorang muslim bisa sampai pada kebenaran yang hakiki. Akal yang lurus pasti akan mengantarkan penggunanya kepada fitrah yang telah Allah tanamkan kepada manusia sejak dari alam ruh, yang Allah kisahkan dalam QS : al-A’raf : 172.

Wallahu a’lam bisshawab.

[1]Daur terjadi saat kita mempercayai fakta A berdasarkan fakta B. Sedangkan kebenaran fakta B itu juga bergantung pada fakta A. Misalnya ada seseorang yang mengatakan bahwa dirinya jujur. Kita tidak bisa mempercayai orang tersebut meskipun ia mengatakan bahwa ia jujur, sebab kita belum mempercayainya. Cara agar kita dapat mempercayainya adalah dengan mencari bukti bahwa ia adalah orang yang jujur. Sedangkan bukti yang kita miliki hanyalah perkataannya sendiri, yang menjelaskan bahwa ia jujur. Bagaimana mungkin kita akan percaya pada omongannya jika kita belum percaya pada orangnya? Inilah yang disebut daur. Ada tumpang tindih antara premis dan kongklusi.

Komentar