Dalam mempelajari akidah, yang pertama kali benar-benar dibantah adalah paham atheisme. Hal ini dimulai dengan pertanyaan sederhana, namun akan memiliki penjabaran panjang : Apakah alam semesta ada begitu saja, ataukah diciptakan?

Tentu kita akan langsung jawab bahwa segala sesuatu berasal dari penciptaan, karena itulah yang ditunjukkan oleh teks-teks wahyu. Namun menjadikan teks wahyu sebagai pijakan disini adalah sebuah kecacatan argumentasi, karena didasarkan pada daur yang telah dijelaskan kekeliruannya pada tulisan sebelumnya. Lagi pula, argumen seperti ini juga tidak akan diterima oleh para penganut atheisme, sebab mereka memang tidak percaya pada kitab suci. Jangankan kitab suci, Sang Pengirim kitab suci saja tidak mereka imani.

Makanya beberapa guru akidah, dalam mengajar, mengajak murid-muridnya untuk sejenak berpura-pura belum pernah mendapatkan konsep ketuhanan. Memulai mengenal kembali Sang Pencipta dari nol, agar si murid memahami bagaimana orang-orang antituhan berpikir, kemudian ia mampu mematahkan argumen mereka.

Saat posisi pikiran sudah netral, maka untuk menemukan tuhan, kita akan memulai dari fakta yang sama-sama diterima oleh kalangan beragama maupun yang antiagama : bahwa alam semesta itu ada. Kemudian baru kita tarik dua kemungkinan dari adanya alam semesta : apakah ia diciptakan, ataukah ada begitu saja? Ada dua kemungkinan disini, dan keduanya akan diuji secara mendalam,kemudian diambil satu kesimpulan yang masuk akal. Dalam ilmu kalam, metode ini disebut sebagai as-sabru wa’t taqsîm.

Jika alam ada begitu saja tanpa pencipta

Kemungkinan pertama, yang akan kita uji adalah alam ada begitu saja, kebetulan. Segalanya terjadi karena proses yang begitu panjang. Manusia misalkan, yang juga merupakan bagian dari alam, dalam teori penganut paham antituhan adalah produk evolusi yang asal-usul awalnya tidak memiliki konsensus ilmiah.

Jika dikatakan bahwa manusia tiba-tiba ada sedemikian rupa, maka hal ini akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang mustahil dijawab. Berapakah manusia pertama yang muncul tiba-tiba? Bagaimana ia bisa berkembang biak? Bagaimana ia bisa ada, padahal ia memiliki struktur kompleks yang masing-masing organnya menopang satu sama lainnya? Kemungkinan ini batal. Dicoret.

Jika dikatakan bahwa manusia -ataupun makhluk hidup lainnya- berasal dari perubahan sedikit demi sedikit yang jika ditarik hulunya merupakan satu sel tunggal, maka kita juga akan menemui pertanyaan-pertanyaan buntu, sebab satu sel pun ternyata memiliki detail yang begitu rumit. Ada dinding sel, mitokondria, vakuola, nukleus dan bagian-bagian lainnya. Satu saja bagiannya cacat,maka sel tak lebih dari sekedar unsur kimia tak bernyawa. Dan lagi, bagaimana mungkin satu sel dapat berkembang menjadi jaringan, kemudian organ, tanpa ada satu organ yang ‘memerintahkan’ masing-masing sel untuk saling bertautan satu sama lain? Bukankah jika sel membelah diri, maka keduanya akan menjadi dua sel yang mandiri? Kemungkinan ini juga batal.

Cukup membahas makhluk bernyawa, sekarang kita beralih kepada alam yang tak bernyawa. Bagaimana ia ada? Apakah sebuah kebetulan semata?

Mengapa Bumi tepat berada dimana ia berada, sehingga suhunya tidak menggelegak seperti Venus ataupun beku seperti Mars? Mengapa Bumi memiliki sistem yang mengizinkan organisme bertahan hidup, mulai dari ketersediaan air hingga sistem atmosfer? Mengapa Bumi memiliki poros putar yang miring 23,5°sehingga ada keseimbangan pergantian musim?

Jika dijawab, bahwa semuanya adalah karena adanya energi yang berasal dari matahari, lalu dari mana energi yang ada pada matahari berasal? Dari mana hidrogen yang merupakan sumber energi matahari berasal?

Membenarkan ketiadaan penciptaan dalam hal ini akan membuat kita ‘terpaksa’ mengaminkan kebetulan sebagai jawaban terhadap semua pertanyaan yang telah diajukan di awal. Kebetulan sempurna adalah sebuah hal mustahil. Maka sistem kompleks yang ada di Planet Bumi, pada Tata surya, ataupun alam semesta, adalah bantahan terhadap teori konyol yang hanya berlandaskan pada ‘kebetulan’.

Baca juga:  Enam Hal yang Membatalkan Puasa

Hal ini mengingatkan kami kepada tantangan Jehovah Witnessdalam sebuah forum online, “Jika tuhan memang tak ada, maka jelaskan mengapa pelangi itu ada!”, yang kemudian dijawab oleh si atheis dengan ilustrasi uap air yang memecah cahaya matahari menjadi spektrum yang indah, lalu ia tutup dengan kuota dari Jesse Pinkman “YEA SCIENCE BI**H!”

Apakah jawaban si atheis begitu luar biasa hingga ia merasa jumawa? Tidak. Ia tidak menjelaskan bagaimana air itu bisa ada. Ia tak menjelaskan bagimana cahaya itu bisa ada. Ia juga tidak menjelaskan mengapa air dapat berubah menjadi uap, ataupun cahaya bisa terurai menjadi beberapa warna. Siapa yang menyetting air dan cahaya sehingga keduanya memiliki sifat-sifat demikian? Kalaupun kemudian ia akan kembali membantah bahwa ini adalah cara mother nature bekerja, maka saat itulah ia telah mengakui bahwa ia tak lagi atheis. Ia mengakui adanya tuhan, meski tuhan yang ia akui sekarang adalah mother nature(alam).

Sampai disini, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa ada sesuatu yang melakukan ‘setting’ terhadap alam semesta, sehingga ia berjalan sebagaimana yang kita dapati saat ini. Kompleks, rumit, namun begitu beraturan. Bukan kebetulan.

Jika alam ada karena ada pencipta

Mengakui bahwa alam semesta berasal dari penciptaan bukan berarti pertanyaan-pertanyaan telah habis. Justru pertanyaan besar kembali muncul : “Jika alam semesta ada penciptanya, lalu siapa yang menciptakan pencipta alam semesta?”

Bagi orang yang tak mau menggunakan logika dalam mencari hidayah, mereka akan melarang keras pertanyaan ini dilontarkan, karena menurut mereka, ini adalah pertanyaan yang kurang ajar kepada Allah. Apakah pertanyaan ini kurang ajar? Tentu saja. Namun apakah orang-orang atheis sadar bahwa mereka sedang melakukan tindakan kurang ajar kepada Allah? Tentu saja tidak, namanya juga atheis. Maka mau tak mau, suka tak suka, seorang muslim harus mampu untuk menjawab saat menghadapi pertanyaan ini.

Pertanyaan ini dapat dijawab, saat kita sudah memahami suatu konsep mustahil dalam metode berpikir. Namanya tasalsul. Jika daur sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya adalah tumpang tindihnya sebab dan akibat sehingga keduanya menjadi sama-sama rapuh, maka tasalsuladalah berantainya akibat kepada sebab, sebab kepada penyebab-sebab, penyebab-sebab kepada penyebab-penyebab-sebab dan seterusnya hingga tak ada habisnya. Logika yang sehat akan menyimpulkan bahwa sebuah mata rantai pasti ada ujungnya. Tak ada istilahnya rantai tak terhingga, mustahil.

Mempercayai konsep tasalsul ini sama konyolnya dengan mempercayai bahwa kisah DragonBall, sebab awalnya Son Goku percaya bahwa Dewa Penguasa (Piccolo) berkuasa, namun ternyata ia hanya bawahan Kaiyo. Meyakini bahwa Kaiyo berkuasa ternyata juga keliru, karena ternyata ia juga adalah bawahan Kaiyo Shin. Begitu seterusnya hingga tak ada ujungnya, bahkan ujung-ujungnya dewa-dewa pun takluk pada kekuatan Bangsa Saiya. Konsep tasalsulini juga dipakai pada kisah fiksi sains, Alien : Covenant.

Simpelnya, apa yang nyata ada, pasti memiliki ujung, tidak ada istilahnya tasalsul. Dan ujungnya adalah Sang Pencipta. Sebagai pencipta alam, Dia terbebas dari segala hukum alam. Dia tidak terbatas oleh ruang maupun waktu. Dialah yang menciptakan tempat, sehingga Dia tak butuh tempat. Dialah yang menciptakan waktu[1], sehingga Dia tak butuh waktu.

Dialah keberadaan yang absolut, sehingga Dia mampu menciptakan alam semesta. Dialah keberadaan yang absolut, sehingga Dia ada sebelum alam tercipta dan akan tetap ada setelah alam semesta sirna. Dialah keberadaan absolut sehingga tak ada yang serupa dengan-Nya. Dialah keberadaan absolut sehingga ia tak butuh kepada lainnya. Dialah keberadaan absolut sehingga ia tunggal, tak ada duanya.

Baca juga:  Melatih Kesabaran Diri melalui Media Sosial

Sosok yang masih terikat hukum ruang dan waktu, yang fisiknya menyerupai alam semesta, yang membutuhkan hal lain untuk menjaga keberadaannya, yang jumlahnya lebih dari satu adalah sosok-sosok yang lemah, dan sosok-sosok lemah tak patut mendaku sebagai pencipta alam semesta. Pencipta mestilah Zat Yang Maha Sempurna. Dan sifat-sifat sempurna ini -jika ditelaah dari sekian banyak pendaku tuhan, mulai dari Firaun, berhala, budha, dewa-dewa, yesus, dan lain-lain- hanya ada pada Allah, tuhan umat Islam.

***

Bagi pembaca yang jeli, tentu akan paham, bahwa seri tulisan kami dari yang pertama hingga sekarang -meskipun minim referensi dari kitab-kitab Islam klasik- merupakan penjelasan dari ilmu akidah yang telah dipelajari sejak masih di sekolah dasar. Mulai dari penggunaan logika dalam pencarian hidayah, hingga pengaplikasiannya dalam premis-premis nyata yang ada.

Di dalam tulisan ini misalnya, pada bagian pertama, bantahan teori ‘kebetulan’, penulis jabarkan sifat nafsiah Allah : wujûd. Pada bagian kedua, bantahan teori pencipta tuhan, penulis menjabarkan lima sifat salbiah Allah : qidam, baqâ, mukhâlafatu li’l hawâdits, qiyâmuhu bi nafsih, wahdâniyyah.

Lalu mengapa penjelasan ini terasa lain dari apa yang didapatkan dari madrasah? Apakah metode syarah akidah seperti ini adalah hal baru? Tentu tidak, karena ilmu akidah memiliki nama lain ilmu kalam, dan ilmu kalam adalah ilmu logika.

Mempelajari akidah tanpa terlebih dahulu merapikan logika murid adalah sebuah kekeliruan, sehingga wajar meskipun ilmu akidah telah dipelajari, syubhat-syubhat tetap mudah menginfeksi. Masalahnya adalah ilmu kalam itu sendiri sudah tidak begitu dipelajari, sehingga penjelasan sifat-sifat wajib Allah malah kembali lagi kepada dalil-dalil wahyu, padahal sebelumnya telah dijelaskan bahwa hal ini termasuk cacat argumentasi.

Jika hal ini telah dipahami, maka memahami sifat-sifat wajib Allah yang lain (sifat-sifat ma`ânidansifat-sifatma`nawiyyah) akan lebih mudah, karena semuanya merupakan bukti kesempurnaan Allah dan juga penafian terhadap segala kelemahan-kelemahan Sang Pencipta. Ini juga menjadi bantahan bagi sebagian kalangan yang mengatakan bahwa pembatasan sifat-sifat wajib bagi Allah[2]merupakan bidah. Sifat Allah begitu banyak, memang. Namun yang benar-benar berkaitan dengan kesempurnaan Allah hanyalah sifat-sifat wajib ini. Adapun Allah Maha Pengampun, Allah Maha Penyayang, Allah Maha Pedih Azab-Nya dan sifat-sifat lain yang tidak tersebut dalam sifat-sifat wajib ini merupakan sifat jaiz[3]bagi Allah. Semua berkaitan dengan kehendak-Nya. Akan dilakukan atau tidak, Dia tetap Maha Sempurna.

Bagaimana mungkin sebuah metode rapi untuk mematahkan argumen sesat seperti atheisme dan lainnya disebut bidah? Justru inilah amal yang begitu besar jasanya, agung jasanya, karena dengannya akidah umat Islam semakin kuat, sekaligus menunjukkan lemahnya pondasi keyakinan lainnya. Semoga para guru-guru akidah di madrasah, pondok pesantren, maupun di universitas mampu menjelaskan ilmu akidah secara jelas dan gamblang, agar tujuan mempelajari ilmu akidah dapat benar-benar tercapai.

Wallahu a`lam.

[1]Waktu ada karena adanya cahaya (bintang) dan rotasi. Masing-masing planet memiliki pola rotasinya sendiri, sehingga zonanya pun berbeda-beda. Maka ketika kita membahas waktu, mau tak mau kita akan membahas masa sebelum adanya cahaya, karena Sang Pencipta ada sebelum cahaya tercipta. Zona ini tak bisa disebut zaman, karena penggunaan kata zaman berarti merujuk pada waktu, sedangkan saat itu waktu belum diciptakan. Maka para ulama menyebut zona ini sebagai azali.

[2]20 menurut Madrasah Asy’ariyyah, 13 menurut Madrasah Maturidiyyah

[3]boleh

Komentar