Kontroversi terkait peristiwa besar di 15 Ramadhan tahun ini, disebut-sebut dengan istilah dukhan, telah usai. Dengan demikian, dapat diasumsikan segala unsur emosional yang terlibat dalam riuh jagad maya mengenai hal ini telah habis. Di titik ini, dengan hati yang lebih tenang, ada baiknya kita membincang ulang perkara ini.           

Tepat pada tanggal 7 Mei 2020, Ustaz Zulkifli Muhammad Ali, dikenal juga dengan sebutan ‘Ustadz Akhir Zaman’, mengunggah video di kanal Youtube miliknya. Dalam video ini, ia menyebut bahwa pada tanggal 15 Ramadhan tahun ini belum akan terjadi dukhan sebagaimana yang sering ia dakwahkan sebelumnya. Sungguhpun di ceramah-ceramah sebelumnya beliau terlihat sangat yakin, dukhan tidak jadi datang tahun ini.

Ditarik ke belakang, pada tanggal 8 September 2019, dengan jelas Ust. Zulkifli menyebut bahwa pada tahun 2020 kemungkinan besar akan ada hantaman meteor. Meskipun tidak bisa memastikan, sejumlah fenomena alam yang terjadi disebut telah menyambut kedatangan dukhan tersebut.

Di awal video ini beliau menyampaikan sebuah hadist dhaif/lemah. Ibn Jauzi bahkan menyebut hadis ini statusnya bahkan palsu (maudhu’). Meskipun demikian, hadist ini secara konsisten beliau jadikan pijakan dalam ceramah-ceramahnya.

Unsur persuasif ceramahnya, meskipun merujuk kepada hadis yang bermasalah, diperkuat dengan sebuah himbauan bagi semua masyarakat, terutama yang ingin pergi umroh pada tahun 2020 (sayangnya tidak ada umroh tahun ini-untuk bersiap-siap sebelum tanggal 15 Ramadan) untuk bersiap-siap.

Baca juga:  Surau nanko Virtual

Apa yang disiapkan?. Bahan makanan. Beli kurma sebanyak-banyaknya. Karena pada hari itu, menurutnya, akan ada meteor yang menghantam bumi dan menyebabkan dukhan. Setelah itu, lanjutnya, akan muncul Imam Mahdi. Setiap Muslim harus berbai’at. Teknologi akan hancur dan yang di masih di Arab Saudi akan terperangkap. Detailnya narasi membuat kisahnya menjadi semakin meyakinkan.

Pada video lainnya, yang diunggah tanggal tanggal 7 Mei 2020, Ustaz Zulkifli menginatkan kembali akan kedatangan meteor ini. “Kiamat sudah dekat”, tegasnya. Untuk menunjukkan faktualitasnya, ia mengutip sebuah berita dari portal media online, kumparan, tentang sebuah asteroid yang akan melintas pada tanggal 8 Mei 2020 pada pukul 2 dini hari.

Berit yang beliau maksud sebenarnya jelas tidak menyebut bahwa asteroid tersebut akan  menghantam bumi. Tapi entah apa alasan beliau mengutip berita ini. Ini menambah buruknya validitas ceramahnya. Pertama, merujuk kepada hadis yang bermasalah, dan kedua memanipulasi isi dari sebuah berita.

Akhrinya, Ust. Zulkifli terpaksa menarik kembali ucapannya. Di hari yang sama, beliau mengunggah sebuah video berujudul “Insya Allah Besok Belum Saatnya Dukhan”. Video ini diberi heading “belum lengkap terpenuhi syarat-syarat pengantarnya.”

Ada sejumlah kekeliruan pada sejumlah video Ust Zulkifli yang dideskripsikan di atas. Pertama, hadis yang ia kutip adalah hadis yang lemah. Hadis yang lemah adalah satu masalah, dan masalah lainnya adalah hadis ini diulang-ulang terus menerus. Benar kata orang, sesuatu yang salah, jika diulang-ulang terus menerus, bisa-bisa dianggap benar.

Baca juga:  Bahasa dan Media di Balik Panasnya Suhu Ibu Kota

Bahkan, ada semacam manipulasi yang beliau sampaikan untuk memoles hadis lemah ini. Menurutnya, pada video 8 September, hadis lemah bisa dikuatkan dengan hadis lain yang lebih kuat. Namun sampai detik terakhir video tersebut, beliau sama sekali tidak menyebutkan hadis kuat yang dimaksud.

Di samping itu, juga ada kekeliruan mengenai kehujjahan hadis. Menurutnya, hadis yang lemah, jika berbicara tentang masa depan dan jika peristiwa yang disebut itu terjadi, maka statusnya naik menjadi sahih. Ini adalah sebuah gurauan. Tidak ada hadis yang dhaif jiddan yang bisa naik derajatnya ke hasan, apalagi sahih.

Satu hal lagi, klarifikasi yang beliau sampaikan dalam video pada tanggal 7 Mei tidak bermakna apa-apa. Retorika ‘kiamat yang ditunda’ masih berdiri di atas rujukan yang sama, hadis yang bermasalah. Di luar itu, ia masih tetap di pendiriannya: siap-siap ganti uang kertas ke emas, siapkan bahan makanan, latihan beladiri’, dan membangun perkampungan akhir zaman.

Dengan demikian, retorika “Jangan terlalu diekspos kepanikan, jangan panik berlebihan” adalah retorika salah alamat. Retorika itu melambangkan kontradiksi di dalam diri Ust. Zulkifli. Karena, pada kenyataannya, beliau lah yang memunculkan kepanikan.

Tentu saja, ini bukan berarti menolak kebenaran kiamat. Kiamat adalah hari yang dijanjikan, ia akan datang! Namun demikian, selayaknya, prioritas kita adalah mengingat kiamat diri kita masing-masing daripada kiamat bersama. Karena kematian kita lah yang paling dekat, tanpa harus menunggu Dajjal dan Nabi Isa ‘alaihissalam. Dan marilah kita selalu perbanyak ibadah dan zikir tanpa harus menunggu meteor jatuh ke bumi. Semoga Allah beri kita taufiq untuk selalu beribadah kepada-Nya. Amin.

Komentar