“Saya teliti teks-teks tentang Aisyah, ternyata Aisyah itu anaknya cewek gaul, pinter, traveller banget, kurus tinggi, berat maksimalnya sekitar antara 55-60 kg—55 lah. Makanya saya selalu bilang dimana-mana, salah satu ciri perempuan salehah itu beratnya g boleh lebih dari 55 kg. … Nanti baca lagi hadis tentang hadīṡ al-ifki. … Pas di rumah ibu-ibu, pas nimbang itu 56, itu kurang salehah; olahraga lagi…”

Demikianlah transkrip atas perasan dari ceramah Ust. Hannan Attaqi. Ia adalah dai muda dengan gaya ceramah yang menyasar kaum-kaum muda. Memang, segmen pendengar yang ditembak oleh sang ustaz adalah para remaja dan kawula Muda.

Jadi dapat dimaklumi jika ia menerjemahkan bahasa-bahasa agama kepada bahasa-bahasanya kaum muda, seperti menjapri Allah, viral di langit, di-follow malaikat, di-likes malaikat Jibril, dan sebagainya.

Yang terbaru adalah tentang kriteria perempuan shaleheh. Katanya, berdasarkan teks-teks tentang Aisyah, diketahui kalau istri Nabi Muhammad tersebut gaul, pinter, traveller banget, kurus tinggi, dan berat badannya sekitar 50-60 kg.

Lihat, kan, bagaimana ia mengemas ide-ide tentang kesalehan menggunakan bahasa dan ide tentang perempuan ideal yang populer di kalangan anak-anak muda sekarang?

Semua orang tahu, berat bada itu isu sensitif buat perempuan; paling tidak begitu ia dipersepsikan. Wajar saja jika viral-nya potongan ceramah Ust. Attaki yang ini sedikit berbeda dari yang lainnya. Beragam respons bermunculan, baik yang jenaka atau serius, dari yang positif maupun negatif, dan juga satir. Portal islami.co, umpamanya, mengangkat artikel dengan kedua sudut, ada bilang Ust. Attaki bercanda, satu lagi menyebutnya bermain-main dengan hadis Nabi.

Metode Hannan Attaki memang menarik, dan guyonannya mungkin saja (tidak?) lucu. Tapi, ada satu lagi yang juga menarik untuk diperhatikan, yaitu cara mengambil kesimpulan atas hadis yang ia baca. Tema ini sangat penting terutama bagi para pendangar setianya yang awam tentang bagaimana memahami dan mengamalkan sebuah hadis: bahwa tidak semua hadis memiliki konsekuensi syar’i.

Baca juga:  Pelajaran dari Peristiwa Ustazah Nani Handayani

Hadis adalah sumber ajaran Islam, setelah Al-Quran. Ia berfungsi sebagai penjelas/penafsir bagi ayat-ayat Al-Quran, dan terkadang juga menjadi “perpanjangan tangan” Al-Quran dalam syari’at. Ada banyak hukum yang lebih bergantung kepada hadis karena tidak disebutkan atau hanya disebutkan sekilas oleh Al-Quran.

Akan tetapi, tidak semua hadis bisa/harus diamalkan. Syaikh Yusuf Qaradhawi menjelaskan, hadis itu ada dua macam. Yang pertama, tasyri’iyyah, dan yang kedua ghair tasyri’iyyah. Yang pertama adalah hadis-hadis yang memuat informasi-informasi yang menjadi landasan penyimpulan ajaran Islam secara umum, atau hukum Islam secara khusus.

Yang kedua adalah hadis yang tidak memuat informasi syar’i. Hadis dalam kategori ini tidak menjadi landasan syariat, karenanya tidak perlu diikuti. Hadis-hadis bisa jadi terkelompok kepada non-tasyri’ ini jika ia terkait erat dengan situasi dan kondisi dimana Nabi mengeluarkan sabda tersebut, sehingga ia bersifat kondisional dan situasional.

Hadis kelompok pertama adalah hadis-hadis yang berbicara tentang aqidah, ibadah mahdhah, halal-haram, dsb. Ia menjadi landasar bangunan ajaran agama, makanya harus diikuti. Tapi, perlu digarisbawahi pula, tidak semua hadis shahih, tasyri’iyyah, otomatis harus diamalkan. Kita juga harus memperhatikan penjelasan para ulama terkait ini, karena ada kemungkinan hadis-hadis tersebut ām yang telah ditakhṣīṣ, mansūkh, atau kategori lainnya yang menjadi domain diskusi para ulama.

Adapun hadis kelompok kedua tidak menghendaki peneladanan, karena ia tidak memuat unsur syar’i. Umpamanya hadis-hadis tentang hal-hal teknis seputar kehidupan manusiawi beliau; seperti cara makan, jenis pakaian, postur tubuh, cara berjalan, dan sebagainya.

Pakaian menutup aurat adalah sariat, tapi Nabi menutup auratnya dengan jubah tidak mesti diikuti. Mengonsumsi makanan halal adalah syariat, tapi Nabi rutin mengonsumsi kurma dan roti, dan menggunakan tiga jari tidak harus ditiru begitu adanya.

Baca juga:  Puasa 6 Hari Bulan Syawwal

Aurat dan halal adalah syariat dan hadis-hadis tentang hal itu adalah hadis syar’iyyah yang harus diikuti, tapi cara, bentuk, dan hal teknis yang bersifat situasional lainnya tidak harus diikuti apa adanya, karena informasi-informasi terkait hal itu dalam hadis terkelompok kepada non-tasyri’.

Begitu juga dengan rambut ikal Nabi, jalan beliau yang tidak cepat tapi tidak pula lambat, tidak termasuk kepada syariat; dan berat badan Aisyah tentu saja termasuk kepada kelompok ini.

Surat al-Kahf ayat 110 menyebut: Katakanlah (Wahai Muhammad), bahwa sesungguhnya Aku adalah manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhanmu adalah Tuhan yang satu.

Manusia dalam ayat itu menggunakan kata basyar. Ada beberapa kata lain yang bermakna manusia dalam Al-Quran, seperti al-Nās, al-Insān, al-Ins, dan basyar. Kata-kata tersebut bermakna sama, tetapi masing-masingnya memiliki kekhususan.

Jika yang digunakan kata basyar, maka maksudnya adalah manusia dalam arti wujud kasar dan luarnya. Kata ini berarti manusia dengan bentuk dan struktur fisiologis dengan fungsi masing-masingnya.

Sederhanya, basyar adalah manusia dengan tubuhnya, serta segala hal yang berkaitan dengannya seperti darah yang mengalir, mata yang menangkap cahaya, kuping yang menerima gelombang, kaki yang berjalan, tangan yang menggenggam, pinggang dan punggung yang menopang tubuh, dan sebagainya.

Sebagaimana disebutkan ayat, bahwa Nabi Muhammad adalah basyar sebagaimana semua manusia lainnya. Karena itulah hal-hal terkait ke-basyar-annya tidak termasuk kepada syariat yang harus diikuti. Yang berbeda dari Nabi Muhammad adalah bahwa ia diwahyukan tentang aqidah, ibadah, dan akhlak. Bagian itulah yang harus diteladani.

Jadi, ibu-ibu yang 70 kg, g usah khawatir ya! []

Sebelumnya dimuat di Artikula

Komentar

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.