Bulan Februari ini menandai penghujung tahun ketiga dan pembuka tahun keempat aktivitas Surau Parabek. Perjalanan tiga tahun tentu saja langkah yang masih sangat singkat. Selangkah demi selangkah, perjalanan ini akan terus direnungi dan dipelajari untuk perkembangan Surau Parabek ke depan, dan tentu saja untuk Sumatera Thawalib Parabek.

Madrasah Sumatera Thawalib Parabek, yang sekarang lebih dikenal sebagai Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek, menggenggam beberapa lapis identitas.

Pertama sekali, Sumatera Thawalib Parabek adalah sebuah madrasah. Istilah ‘madrasah’ dalam hal ini tidak bisa dipahami semata-mata dalam makna generiknya dalam Bahasa Arab, yaitu sebagai ‘sekolah’. Madrasah, yang melekat pada Sumatera Thawalib Parabek harus dipahami dalam makna historisnya, yaitu lembaga Pendidikan Islam yang bermekaran di Sumatera Barat, tanah Minangkabau, pada awal abad ke-20.

Dengan demikian, madrasah memiliki semangat modernitas. Semangat itulah yang membuat Syaikh Ibrahim Musa melakukan transformasi tradisi belajar klasik di Surau ke bentuk madrasah. Akan tetapi, tampaknya model Pendidikan surau tidak ditinggalkan sama sekali oleh Syaikh Ibrahim Musa.

Meskipun model pendidikannya mulai mengadopsi sistem kelas yang progresif, gaya tradisional muzākarah dengan materi kitab-kitab mu’tabar dalam disiplin keilmuan Islam masih dipertahankan. Inilah identitas kedua Sumatera Thawalib. Sederhananya, Sumatera Thawalib adalah bentuk hibrid antara surau dan madrasah. Ini pula lah yang membuat Sumatera Thawalib Parabek tidak bisa dikotakkan kepada dua kategorisasi pesantren yang umum dikenal, pesantren tradisional atau pesantren modern.

Sebagai bentuk hibrid dari madrasah dan pesantren, maka Sumatera Thawalib lebih dari sekedar sekolah yang merupakan tempat pendidikan bagi para siswa untuk ilmu-ilmu keislaman.

Sebagai surau, Sumatera Thawalib Parabek memiliki kepentingan dengan kedalaman ilmu. Di situ lah relevansi motto Sumatera Thawalib Parabek yang digariskan oleh Syaikh Ibrahim Musa, dengan mengadopsi surat al-Taubah: 122, liyatafaqqahū fi al-dīn.

Sebagai madrasah, Sumatera Thawalib Parabek juga berkepentingan untuk memastikan sistem pendidikannya relevan dengan perkembangan zaman, sehingga mampu memberikan kontribusi yang nyata dan tepat sasaran bagi kebutuhan dunia yang terus berkembang.

Dengan demikian, ada tiga pilar dan tugas utama surau-madrasah Sumatera Thawalib Parabek ini, yaitu tarbiyyah, tabligh, dan ilmiyyah.

Tarbiyyah adalah fungsi pendidikan (pedagogis). Kata kunci dalam peran ini ada tiga, ‘pendidik’, ‘peserta didik’, dan ‘subjek didik’. Aktivitas utamanya berkonsentrasi pada proses transfer subjek didik (berupa ilmu, karakter, cita-cita, inspirasi) dari pendidik (para guru) kepada peserta didik (para murid).

Dalam konteks ini, Madrasah Sumatera Thawalib Parabek merupakan wadah bagi terlaksananya aktivitas tersebut. Dengan kata lain, melalui fungsi ini, Sumatera Thawalib Parabek menjalankan perannya sebagai ‘sekolah’, peran yang diwujudkan dengan aktivitas di dalam kelas. Melampaui waktu lebih dari satu abad, peran ini terbukti dipertahankan dan dikembangkan oleh Madrasah dengan baik.

Peran kedua, tabligh, merupakan beban moral yang dimiliki orang berilmu bagi masyarakat secara luas. Peran ini diemban oleh orang-orang yang ber-tafaqquh fi al-dīn, menghadapi masyarakat luas untuk membimbing mereka pada jalan dan ajaran agama Islam. Inilah peran kepesantrenan pertama Sumatera Thawalib.

Pesantren sejatinya tidak memiliki ‘pagar’. Pesantren pada esensinya adalah pendidikan untuk masyarakat dalam arti luas. Tanggung jawab pesantren bukan hanya pada masyarakat dalam makna yang lebih sempit dan terbatas, yaitu sebagai sebahagian darinya yang menjadi peserta didik di ruang-ruang kelas sekolah. Menjalankan pendidikan di ruang kelas kepada satu segmen dari masyarakat tidak menjadikan tugas kepesantrenan ini terpenuhi.

Baca juga:  Mitos Uang Sakola Maha

Begitulah fakta sejarah menjelaskannya. Pesantren lahir dari interaksi para syaikh, tuanku, buya, kyai, ustaz dengan masyarakat sekitarnya di masjid/surau, bukan antara guru dan murid di kelas. Sejarah serupa juga terjadi di Sumatera Thawalib Parabek. Perkembangan menuju sekolah-kelas tidak boleh melupakan akar ini.

Program unggulan baru Sumatera Thawalib Parabek mungkin bisa ditempatkan dalam konteks ini: studi banding ke luar negeri. Program ini mengajarkan para santri berbaur dengan masyarakat dari negara lain. Tetapi, tentu kita bisa mengajukan pertanyaan terhadap program ini. Bagaimana relevansinya dengan identitas dan tradisi ke-surau-madrasah-an Sumatera Thawalib Parabek. Bagaimana kabar masyarakat Parabek? Sudah adakah program serupa dari santri untuk masyarakat terdekatnya?

Tentu saja Sumatera Thawalib Parabek tidak mengabaikan masyarakat terdekatnya. Hal ini dibuktikan dengan diundangnya salah seorang Ustaz selebritis dalam rangka milad Sumatera Thawalib Parabek beberapa waktu yang lalu. Tentu saja ini perlu diapresiasi. Dapat dibayangkan, mengundang Ustaz yang populer di televisi dengan follower sosial media bejibun bukanlah perkara gampang. Tapi, kita pantas untuk bertanya. Apa Sumatera Thawalib Parabek mulai mementingkan tren populis masyarakat urban daripada tradisi intelektualnya sebagai ‘produsen ilmu’?

Selain dua pilar di atas, tanggung jawab pondok pesantren terhadap peradaban Islam bukan hanya terkait guru, murid, dan masyarakat. Tidak kalah penting, pondok pesantren bertanggung jawab kepada Ilmu. Inilah pilar ilmiyyah.

Syaikh Ibrahim Musa tampaknya semenjak awal sudah menggariskan peran ini pada Sumatera Thawalib Parabek. Itulah mengapa beliau memilih liyatafaqqahū fi al-dīn sebagai motto lembaganya. Sebagaimana digambarkan oleh ayat tersebut, harus ada sebuah ṭā’ifah yang berupaya menuju tafaqquh.

Dalam konteks ini, maka ṭā’ifah merujuk kepada komunitas intelektual. Adapun tafaqquh adalah proses pendalaman ilmu. Pendalaman bukan pendidikan (tarbiyyah) atau pengayoman masyarakat (tablīgh).

Bagaimana wujud pilar ilmiyyah ini? Wujud utamanya dialektika ilmiah antara para ilmuan. Seorang`alīm tidak lagi berbicara kepada para murid tingkat awal atau masyarakat umum, melainkan kepada komunitas intelektual dalam skala yang luas. Kegiatan ini baru bisa dilakukan paling tidak antara seorang ilmuan dengan murid tingkat atas. Di situlah perbincangan mendalam bisa dilakukan.

Kita tentu saja bisa menyebut proses dialektika antara para santri tingkat atas di Sumatera Thawalib dengan para guru sebagai proses tafaqquh fi al-dīn, karena materi yang didiskusikan sudah spesifik dan melampaui apa yang bisa dibicarakan terbuka di ranah publik yang lebih luas.

Akan tetapi, ini tentu saja belum cukup. Diskusi para guru dengan santri tingkat atas di Sumatera Thawalib Parabek belumlah aktivitas ilmiah yang sesungguhnya. Kita baru bisa menyebut ini sebagai ‘persiapan’ untuk masuk ke dunia ilmiah.

Dunia ilmiah dimulai dari budaya literasi aktif, yaitu membaca dan menulis. Jika para guru dan santri tingkat atas Sumatera Thawalib Parabek menuangkan bacaan dan diskusi mereka dalam tulisan, dan disuguhkan kepada komunitas ilmiah yang lebih luas, di situlah baru berjalan pilar ilmiyyahini.

Motto sejatinya meggambarkan nafas dari sebuah lembaga. Liyatafaqqahū fi al-dīn semestinya menggambarkan jiwa utama dari Sumatera Thawalib Parabek. Akan tetapi, jika Sumatera Thawalib Parabek belum serius masuk ke pilar ketiga ini, maka motto ini masih terdengar kosong.

Baca juga:  Persiapan Mubes Alumni Dimulai

Sayangnya, Surau Parabek belum melihat keseriusan dari pihak madrasah dalam pilar ketiga ini. Budaya menulis masih menjadi hal yang jauh dari Sumatera Thawalib Parabek. Penulisan paper telah menjadi ‘ritual’ tahunan belaka. Dengan beban ujian nasional, paper cukup dipertahankan sebagai program yang ‘ada’, dan tidak mengganggu persiapan ujian nasional.

Kepedulian dan dukungan Sumatera Thawalib pada budaya literasi ini memang masih belum memuaskan. Di tahun 2018 lalu, IPST menginisiasi penerbitan buku kumpulan puisi yang ditulis oleh para guru dan santri Sumatera Thawalib Parabek. Mereka mengumpulkan lebih dari 100 puisi oleh lebih dari 50 penulis. Kita bisa membayangkan kerja keras mereka untuk mengumpulkan itu semua.

Sayangnya, begitu kuatnya semangat mereka tidak diiringi dengan semangat dan apresiasi serupa dari pihak sekolah untuk bidang ini. Sudah begitu banyak program berbiaya mahal yang dijalankan oleh Sumatera Thawalib Parabek akhir-akhir ini. Seperti program SORP di sejumlah wilayah, milad pondok pesantren, dan sebagainya, yang spanduknya bahkan memenuhi sekolah sampai 3 lantai. Tentu saja komitmen ilmiyyah dan literasi Sumatera Thawalib Parabek baru akan terdeteksi jika alokasi pada aktifitas literasi santri juga dijadikan prioritas.

Di penghujung tahun 2018 pula, salah seorang alumni menerbitkan bukunya. Buku ini mendapatkan sambutan yang sangat baik dari para pembacanya, dan saat ini sedang dalam persiapan untuk cetakan kedua.

Akan tetapi, di Sumatera Thawalib Parabek sendiri, antusiasme dan apresiasi sebatas pengadaan bedah buku untuk kedua buku tersebut pun tidak terdengar. Ironis sekali, Sumatera Thawalib Parabek suka sekali menumpang kepada kebesaran nama Buya Hamka, tapi usaha untuk meneladani bidang yang membawa nama besar beliau tidak pernah diseriusi. Ada usaha dari santri, tidak diberi dukungan yang layak.

Surau Parabek semenjak awal menjadikan kegiatan literasi ini sebagai garis perjuangannya. Dalam tiga tahun ini, gelombang pasang dan air tenang masih tetap menjaga langkah Surau Parabek dalam jalur ini.

Penerbitan artikel di website mungkin mengalami penurunan intensitas yang cukup drastis. Hal ini akan menjadi titik evaluasi Surau Parabek. Akan tetapi, komitmen untuk dunia ini tidak akan surut. Sepanjang tahun 2018 ini, Surau Parabek telah menerbitkan dua buku, antologi puisi Lentera dari Santri oleh IPST dan Sehari Bersama Shalat Sunnah oleh Miftahul Ghani (Iya, dua buku yang disebutkan di atas).

Dengan demikian, hingga saat ini Surau Parabek telah mengoleksi 3 karya literasinya, setelah sebelumnya menerbitkan Surau Parabek: Menapak Sejarah di tahun 2017. Saat ini, sudah ada satu naskah lagi yang dalam proses penerbitan. Di samping itu, Surau Parabek segera akan mengupayakan jalan untuk menuliskan buku biografi Inyiak Imam Muzakkir. Secara bertahap, penulisan biografi ini akan dilanjutkan untuk para syaikh madrasah terdahulu.

Sebagai penutup, Surau Parabek sejak awal telah jelas dengan cita-citanya. Surau Parabek akan terus berupaya menjaga budaya literasi dan tradisi kepesantrenan Sumatera Thawalib Parabek, memprovokasi keluarga besar Sumatera Thawalib Parabek untuk menjaga dan melanjutkan tradisi ini, dan memberi wadah bagi siapa saja yang memiliki kepedulian dan cita-cita yang sama. Semoga Allah memberi tawfīq dan raḥmah nya pada kita semua. Amiin.

Komentar