Syekh Ibrahim Musa dilahirkan di Parabek, Bukittinggi di tahun 1882 dari keluarga yang relijius. Setelah belajar di beberapa tempat di sekitar Bukittinggi, ia berangkat ke Mekkah pada umur 18 tahun untuk belajar, dan menghabiskan waktu di kota suci tersebut selama delapan tahun, antara lain kepada Syekh Ahmad Khatib, Syekh Djambek, dan Haji Rasul. Di tahun 1909, ia kembali ke kampung halaman, mulai mengajar di tahun 1912, lalu kembali ke Mekkah setahun setelahnya. Di tahun 1915, ia kembali ke Parabek, dan mulai saat itu ia dikenali sebagai Syekh Ibrahim Musa atau Inyiak Parabek karena kepakarannya dalam ilmu agama Islam.

Meskipun ia mendukung gerakan reformisme, ia tetap diterima di kalangan tradisionalis, sebagaimana digambarkan oleh sebuah fakta bahwa ia adalah anggota dari PGAI milik Kaum Muda tetapi juga aktif di Ittihadul Ulama bersama Kaum Tua. Dia berhubungan dengan kedua kelompok tersebut, meskipun suraunya, dikenal sebagai Thawalib Parabek, sangat dekat dengan institusi yang sama di Padang Panjang.

Sumatera Thawalib tidak hanya di Padang Panjang. Terlibat juga bersamanya sekolah Syekh Ibrahim Musa; bahkan, perkembangan organisasi ini berlangsung atas kerjasama (Surau Jembatan Basi) dan sekolah ini. Sebelumnya,para siswa Parabek telah membentuk perkumpulan bernama Muzakaratul Ikhwan pada 14 Agustus 1919. Nama tersebut diambil dari kelompok diskusi mingguan yang diadakan oleh para siswa. Kelompok ini pada awalnya berhasil mempublikasikan majalah Al-Bayan (1919), akan tetapi aktifitasnya terhenti setelah beberapa kali penerbitan.

Kedua sekolah, Padang Panjang dan Parabek, merasa penting untuk bersatu, dan untuk membahas perkara tersebut diadakanlah konferensi di Surau Inyiak Djambek, yang kemudian dilanjutkan dengan komunikasi menggunakan surat. Barulah kemudian Sumatera Thawalib lahir pada 15 Februari 1920.

Baca juga:  Inyiak Parabek “Syaikh Sutan Ibrahim Musa” (1884 – 1963) [Bagian #1]

Meskipun demikian, upaya kerjasama antara kedua sekolah tidak sesuai dengan perencanaan; keduanya berjalan sendiri-sendiri. Kepengurusan Pusat, yang dipimpin oleh Haji Djamaluddin Thaib, tidak berjalan. Barulah pada tahun 1928 bentuk kongkrit kerja sama muncul, yang ditandai dengan bergabungnya beberapa sekolah lain (ke dalam tubuh Sumatera Thawalib).

Dalam masa itu, sekolah Parabek berkembang baik. Di tahun 1924, telah terbangun asrama dengan kapasitas 100 siswa. Di samping itu, bangunan baru sedang dikerjakan, namun sayangnya dirobohkan oleh gempa bumi pada tahun 1926. Tidak lama berselang, terbangun kembali gedung baru di tahun 1928.

Untuk bahan ajar di sekolah Parabek dan Padang Panjang, buku-buku teks diimpor dari Mesir. Ilmu-ilmu umum, seperti geografi dan sejarah, juga diajarkan meskipun bidang utama tetap tentang agama. Untuk siswa tingkat lanjutan, diajarkan buku-buku Abduh dan Rashid Ridha, terutama tafsir Al-Manar. Mereka juga membaca buku Taqiyuddin Ahmad Ibn Taymiyyah 91263-1328)— yang tidak tunduk di bahwa otoritas (mazhab) manapun dan menentang bid’ah dan penyembahan orang suci—beserta muridnya, Ibn Qayyim al-Jawziya (1292-1356). Di Padang Panjang, Haji Rasul memperkenalkan forum diskusi untuk siswa kelas tujuh. Persoalan-persoalan keagamaan yang menjadi perhatian umat Islam secara umum dibahas di forum tersebut, termasuk persoalan adat.

***

 

Di atas adalah terjemahan atas sebagian penjelasan Deliar Noer dalam disertasinya “The Rise and Developement of the Modernist Muslim Movement in Indonesia During the Dutch Colonial Period (1900-1942)” di Cornell University, Michigan. Dalam penjelasan tersebut, terdapat beberapa perbedaan data dengan beberapa yang dikenal luas mengenai sejarah Sumatera Thawalib Parabek. Tahun lahir Syekh Ibrahim Musa disebut 1882, sementara beberapa sumber lainnya menyebut tahun 1884. Uda Khairul Ashdiq dalam catatannya tentang biografi Syekh Ibrahim Musa tidak sepakat dengan Deliar Noer; menurutnya, angka yang lebih tepat adalah 1884 (bisa dilihat di sini). Satu hal yang disepakati adalah kepulangan Syekh Ibrahim Musa dari Makkah, yaitu tahun 1909.

Baca juga:  Selamat Harimu, Guru!

Deliar Nur menyebut Syekh Ibrahim Musa berangkat ke Mekkah untuk pertama kali di umur 18 tahun. Menggunakan tahun lahir versi Deliar Noer, maka Syekh Ibrahim Musa berangkat ke Mekkah pada tahun 1902 (1884+18=1902). Angka tahun ini sesuai dengan versi Uda Khairul Ashdiq. Sebuah kesepakatan lainnya. Artinya, hanya tahun lahirnya saja lah yang menjadi perdebatan.

Dengan mengacu kepada dua kesepakatan tersebut, hanya saja, jika yang digunakan ada versi 1884, maka ada sedikit problem perhitungan tahun. Uda Khairul Ashdiq menyebut Syaikh Ibrahim Musa dilahirkan di tahun 1884, pada umur 13 tahun mulai pengembaraan menuntut ilmu di Bukittinggi dan sekitarnya selama 8 tahun, lalu kemudian melanjutkan pengembaraan ke Tanah Suci untuk 8 tahun berikutnya. Berdasarkan hitungan ini, maka Syekh Ibrahim Musa mulai belajar di Bukittinggi dan sekitarnya di tahun 1897, berangkat ke Makkah tahun 1905 (dari seharusnya 1902), dan pulang dari Makkah tahun 1913 (seharusnya 1909); meleset terlalu jauh dari narasi yang ia sampaikan. Selisih 1 tahun, baik di waktu keberangkatan ke Mekkah maupun kepulangannya tentu tidak akan jadi masalah. Dengan hitungan yang sama, meskipun tidak begitu akurat, kelahiran tahun 1882 tampaknya lebih pas. Ketidakakuratan penghitungan ini sangat mungkin terjadi jika selesainya sebuah peristiwa dan dimulainya peristiwa yang lain terjadi di tahun yang sama. Adapun penggunaan hitungan barusan menempatkannya di tahun yang berbeda.[]

Komentar

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.