Siapa pun yang membaca surat al-Raḥmān[55] akan segera melihat sebuah ayat yang diulang-ulang bahkan hingga 31 kali, yaitu fabi ayyi ālā’i rabbikumā tukazzibān. Ayat ini umumya diterjemahkan, “maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang kemu dustakan!” Ini menjadi daya tarik tersendiri bagi surat ini.

Kitab-kitab tafsīr menyebut kekhasan yang dimiliki oleh surat ini. Jika biasanya pihak yang menjadi mukhātab oleh Al-Quran adalah manusia, surat ini juga menempatkan jin sebagai mukhatab-nya.[1] Pengulangan fabi ayyi ālā’i rabbikumā tukazzibān menandai komunikasi bersifat intens kepada mukhatab yang belum siap menerima pesan yang disampaikan.

Secara umum, dalam elaborasi Imam al-Zamakhsyari,uslub kebahasaan yang digunakan oleh surat ini cenderung lunak dengan kandungan tentang nikmat-nikmat Tuhan.[2]Pendapat al-Zamaksyari ini diafirmasi oleh penafsir kontemporer, al-Islahi. Surat-surat yang diturunkan di Makkah cenderung bernuansa keras dalam konteks konfrontasi dengan masyarakat Quraisy. Ia menyebut, tidak seperti surat Makkah lainnya, contohnya surat al-Qamar [54],[3]surat al-Raḥmān[55] melakukan komunikasi dengan Quraisy menggunakan nada yang unik, yaitu dengan mengedepankan kemurahan hati dari Tuhan. Mereka diberi tahu bahwa adalah sifat alami dari Tuhan untuk memberikan kemurahan hati bagi manusia, dan Al-Quran diwahyukan dalam bentuk kemurahan hati ini. Sayangnya, keingkaran manusia menghalangi mereka dari nikmat dan kemurahan hati tersebut.[4]

Meskipun gaya bahasa dan konten yang disampaikan cenderung lunak, tidak seperti beberapa surat Makkah lainnya yang tegas menentang Quraisy, surat ini sebenarnya juga tidak kalah keras. Hal ini juga mengacu kepada fabi ayyi ālā’i rabbikumā tukazzibān. Al-Islahi memunculkan satu pertanyaan, apakah ini berarti Al-Quran juga ditujukan bagi jin? Bagi Islahi, jawabannya adalah tidak. Jika jin dijadikan komunikan dari beberapa ayat/surat dalam Al-Quran, itu bukan berarti karena Al-Quran memang ditujukan kepada mereka. Alasan sebenarnya adalah karena percikan kemuliaan Al-Quran juga sampai ke mereka.[5]

Baca juga:  Fathul Mu`in #4: Pengertian Ilmu Fiqh

Akan tetapi, menjawab pertanyaan yang sama, kita bisa melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Menjadikan jin sebagai mukhatab dalam ayat ini memiliki tujuan yang jelas, yaitu menyerang tradisi kepercayaan Arab seputar syair.

Dalam kepercayaan tradisional masyarakat Arab, manusia dengan kualitas tertentu mampu berkomunikasi dengan jin. Dalam komunikasi tersebut, jin menerima bocoran pesan rahasia dari langit. Kepercayaan ini menempatkan jin sebagai sumber informasi bagi manusia. Identifikasi pada Al-Takwīr [81]dan al-Raḥmān[55] yang menggunakan pola ini merupakan landasan kultural Al-Quran bisa diterima oleh khalayak pertamanya, bangsa Arab. Akan tetapi, al-Raḥmān [55]secara radikal melemahkan kepercayaan ini. Setelah melanjutkan wacana autentisitas Al-Takwīr [81], al-Raḥmān[55] telah merubah posisi jin dalam pola komunikasi pewahyuan; jika dalam kepercayaan mereka Jin berposisi sebagai sumber informasi, surat al-Raḥmān menempatkannya sebagai penerima informasi layaknya manusia. Dengan kata lain, jin yang ditinggikan oleh masyarakat Quraisy disejajarkan derjatnya oleh Al-Quran. Masyarakat Quraisy yang sangat dekat dengan tradisi syair tentu saja dengan cepat akan merasakan efek dari pewacanaan ini.

Wacana ini kemudian ditekankan lagi pada surat Makkah lainnya, surat al-Jinn [72]. Ayat ini dibuka dengan perintah kepada Muhammad bahwa wahyu telah memberitahukan kepadanya tentang sesuatu (qul ūiya ilayya). Wahyu tersebut mengabarkan kepada Nabi Muhammad bahwa sekelompok jin telah mendengar Al-Quran, dan Nabi Muhammad harus menyampaikan perihal ini kepada masyarakat Quraisy. Surat ini menyebutkan bahwa ketika jin mendengar Al-Quran, mereka seketika takjub, menyadari bahwa ia berisi petunjuk kepada kebenaran, dan oleh sebab itu, mereka tidak menyekutukan Tuhan dengan segala ciptaan-Nya.[6]Lebih radikal dari surat al-Raḥmān [55], surat al-Jinn [72] dengan lebih tegas meruntuhkan kepercayaan Quraisy terhadap tradisi penerimaan berita rahasia di langit oleh jin. Identifikasi kitab suci menggunakan terminologi al-qur’ān mengambil posisi dalam proses ini. Ayat keenam hingga ayat kesepuluh dengan jelas menggambarkan tradisi Arab tentang relasi manusia dan jin dalam bentuk negatif. Ayat kesembilan mewacanakan bahwa jin mengakui jika dulu mereka bisa menduduki beberapa tempat di langit untuk mendengar pesan-pesan rahasia langit, namun tidak lagi semenjak diutusnya Muhammad dengan Al-Quran; langit dijaga dan mereka tidak lagi memiliki akses terhadap rahasianya. Wahyu yang diterima oleh Muhammad memerintahkannya untuk mengabarkan kepada khalayak Quraisy perihal ketidakmampuan jin ini.

Baca juga:  Kontekstualisasi Pemahaman Hadis

 

[1]Abū Ja’far al-Ṭabari, Jāmi’ al-Bayān,juz. 22, hal. 189.

[2]al-Zamakhsyari, al-Kasysyāf, juz. 6, hal. 5.

[3]Al-Islahi membandingkan dengan al-Qamar dalam kerangka tartib mushafi, bukan tartīb al-nuzūli.

[4]Amin Ahsan Islahi, “Tadabbur i Qur’an”, dalam http://www.tadabbur-i-quran.org/text-of-tadabbur-i-quran/. Akses tanggal 8 April 2015.

[5]Ibid.

[6]Abū Ja’far al-Ṭabari, Jāmi’ al-Bayān,juz. 23, hal. 310; Muḥammad Abd al-Jābiri, Fahm al-Qur’ān al-Ḥakīm, juz. 1, hal. 234.

 

Di atas adalah cuplikan dari buku Menyingkap Jati Diri Al-Quran. Untuk penjelasan lebih lengkap bisa dilihat di buku tersebut.

Komentar