Kita mengenal masyarakat jahiliyah sebagai masyarakat yang bodoh. Mereka dianggap tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengelola peradaban yang baik. Kondisi ini kemudian dihubungkan beberapa hadis Nabi yang menyatakan bahwa masyarakat Arab di zaman Nabi Muhammad adalah masyarakatummiy, yaitu masyarakat buta huruf. Huruf adalah salah satu elemen penting dalam distribusi ilmu pengetahuan, dan buta huruf berarti mereka tidak memiliki elemen ini.

Di samping itu, masyarakat jahiliyah juga digambarkan sebagai masyarakat barbar. Mereka terlalu sering berperang. Atau kita mungkin bisa menyatakan bahwa mereka suka berperang. Struktur dan interaksi sosial mereka dibangun di sekitar perang. Hubungan antar individu dalam suku dan hubungan antar suku dibentuk oleh dinamika peperangan. Suku kuat menguasai dan melindungi suku-suku kecil yang berwali kepada mereka, dan suku kecil membayarkan upeti untuk keselamatan mereka.

Bentuk barbar kehidupan mereka selalu digambarkan dengan praktik-praktik tidak manusiawi seperti menguburkan anak perempuan, larut dalam mabuk-mabukan, perzinahan, dan sebagainya.

Akan tetapi, agaknya, yang menjadikan masyarakat jahiliyah itu jahiliyah bukanlah kebodohan dan kehidupan barbar mereka. Kebarbaran itu adalah hanyalah akibat, bukan penyebab. Dalam surat al-Fath ayat 26, Allah menyebutkan salah satu ciri masyarakat jahiliyah yang memiliki posisi penting dalam pembentukan karakter utama mereka, yaitu al-hammiyyah.

إِذۡ جَعَلَ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ فِی قُلُوبِهِمُ ٱلۡحَمِیَّةَ حَمِیَّةَ ٱلۡجَـٰهِلِیَّةِ

Ketika orang-orang yang kafir menanamkan kesombongan dalam hati mereka (yaitu) kesombongan jahiliah

Kata hammiyyah dalam ayat di atas biasanya diterjemahkan kepada kesombongan. Akan tetapi, sombong dalam hal ini agaknya perlu penjelasan lebih lanjut. Sombong yang bagaimanakah yang dimaksud oleh hammiyyah?

Paling tidak ada dua komponen pembentuk hammiyyah. Pertama, kebanggaan dalam penolakan dan sifat berdarah panas.

Baca juga:  Hal-hal yang Perlu Diketahui Mengenai Taubat

Yang pertama maksudnya adalah hammiyyah menjadikan seseorang tidak mau menerima sesuatu hal karena ia merasa lebih besar atau lebih mulia. Itulah yang menjadikan mereka berat menerima ajaran Nabi Muhammad. Bukan hanya berat, bahkan mereka menjawab balik dengan pongah, seperti dalam ayat yang mengilustrasikan protes mereka: “mengapa dia (Muhammad) yang mendapatkan Kitab suci, sementara kami lebih mulia daripada mereka.” Hammiyyah adalah penolakan dengan bangga.

Pernyataan ini seringkali muncul dalam kehidupan kita. Kita bisa mendengarnya “awak pulo nan diaja nyo.” Siapa yang sering mengucap hal sejenis ini, maka introspeksilah, karena barangkali kita memiliki sifat hammiyyah-nya jahiliyyah.

Pembentuk kedua hammiyyah adalah berdarah panas. Maksudnya, masyarakat jahiliyah Arab begitu gampang terprovokasi. Mereka tidak bisa menahan amarah ketika provokasi datang. Itulah yang membuat mereka begitu sering berperang, seperti kasus `Aus dan Khazraj yang sudah begitu jenuh hidup dalam peperangan antar suku yang tiada henti. Setiap ada perjanjian damai, selalu ada hal-hal kecil yang menyulut konflik, dan perang kembali berulang. Begitulah hidup mereka hingga mereka mendatangi juru damai, Nabi Muhammad.

Puasa, pada sisi lain, memiliki wujud utama melawan kesombongan hammiyyah. Puasa bermakna imsāk, yaitu menahan. Hamiyyah adalah ketidaksudian menahan; menahan diri untuk berintrospeksi terhadap ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad dan menahan diri untuk tidak larut dalam provokasi yang menuai konflik dan perang. Maka, puasa adalah latihan untuk menahan diri, yang dapat mengikis karakter fundamental jahiliyyah. Dengan itulah kiranya ajaran Islam menjadi solusi bagi kehidupan jahiliyah masyarakat Quraish Mekkah dan masyarakat Madinah ketika itu, tentu saja seluruh umat Islam sepanjang sejarah.

Baca juga:  Tuhan dan Setan

Akan tetapi, agaknya kita juga perlu interospeksi, apakah kita sudah benar-benar terlepas dari kehidupan jahiliyah? Apakah kita telah bebeas dari hammiyyah? Apakah puasa kita telah menjembatani kita untuk menghadang hamiiyah? Atau justru hammiyyah mengalahkan puasa kita?

Salah satu bentuk kontemporer dari hammiyah acap kita temukan di sosial media. Kita begitu akrab saat ini, bahwa sosial media Indonesia, paling tidak tiga sampai lima tahun belakangan, dipenuhi dengan berita fitnah dan caci maki. Hal ini menggambarkan bahwa kegiatan bersosial media kita belum sepenuhnya memiliki kontrol, yaitu kontrol yang bisa dibahsakan sebagai imsāk, menahan. Jika setiap pemegang gawai mampu menahan, ibaratnya mereka menahan makan dan minum selama puasa, barangkali dunia sosial media kita akan terlihat lebih adem.

Artinya, jika ramadan kita masih dilalui dengan peperangan di sosial media, maka kita sedang tunduk pada kesombongan hammiyah,meskipun kita sedang berpuasa. Puasa kita gagal menjadi obat bagi hammiyyah.

Kasus lainnya barangkali adalah persiapan perbukaan dan Idul Fitri. Ngabuburit, begitu kita sering menyebutnya saat ini. Puasa yang sejatinya diharapkan mengendalikan sikap hidup konsumerisme kita, akan tetapi justru memancing konsumerisme yang semakin akut. Setiap menjelang buka setiap harinya, betapa banyak Muslim yang gelap mata berbelanja makanan ini dan itu, yang pada akhirnya justru mubazir.

Kemudian, di penghujung Ramadhan diposisikan sebagai waktu untuk memenuhi hasrat berbelanja yang besar. Kedua sikap ini menggambarkan kurangnya kemampuan untuk menahan diri, meskipun kita telah latihan beri-imsāk selama satu bulan.

Jika berpuasa kita masih demikian, hati-hatilah, karena sejatinya puasa kita adalah puasa yang ber-hammiyyah, puasa kita adalah puasa yang jahiliyah.

Komentar