Apa sajakah ayat-ayat tentang Qurban? Jawaban paling awal biasanya adalah al-Kautsar [108]: 2.

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka salatlah engkau karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.

Al-Hajj [22]: 34.

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا ۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

Dan bagi tiap-tiap umat, telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kepada=Nya, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk.

Al-Hajj [22]: 37

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

Daging (hewan qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu menggaungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

Ayat lainnya adalah al-Shaffat [37]: 102

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu! 

Salah satu dari hadis adalah:

مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

Siapa saja yang mempunyai kelapangan rezeki, tetapi ia tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat kami bersembahyang.

Al-Kauṡar [108]:2 adalah perintah kepada Nabi Muhammad untuk berqurban. Kata ganti kedua (…ka) di ketiga ayat tersebut menunjuk kepada Nabi Muhammad. Ayat pertama menjelaskan kenikmatan yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad, ayat kedua berupa perintah untuk berqurban, dan ayat ketiga berupa anjuran untuk tidak ambil pusing terhadap orang yang menentang, karena mereka pada akhirnya akan terlepas dari rahmat Allah. Ini lah ayat yang memuat perintah jelas bagi umat Islam untuk berqurban.

Al-Hajj [22]: 34 mengabarkan bahwa perintah Qurban juga pada awalnya adalah perintah bagi setiap agama. Ia sama dengan puasa, telah diwajibakan kepada umat terdahulu. Hal ini kemudian bisa kita lihat pada al-Shaffat [37]: 102, bahwa qurban yang dijalankan oleh Muslim saat ini adalah warisan dari perintah Allah kepada Nabi Ibrahim, dan al-Māidah [5]:27 yang menjelaskan qurban pertama putra Adam. Adapun hadis diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibn Majjah dari Abu Hurairah. Ia berisi celaan bagi Muslim yang berkelebihan rezki yang tidak berkurban.

Dari keempat dalil di atas, kita mendapati beragam istilah yang digunakan oleh Al-Quran dan Hadis untuk menjelaskan tentang qurban. Istilah-istilah tersebut adalah inḥar (naḥara, naḥrun), mansakan (nasīkah), ażbaḥu (żabīḥah), dan yuḍahhī (aḍḥā, uḍhiyyah).

Baca juga:  Habis Gelap Terbitlah Terang: Kartini dan Terjemahan Al-Qur'an

Bagaimana makna kata-kata tersebut?

Kata naḥara (inḥar) ini hanya sekali disebutkan dalam Al-Quran, ya di al-Kauṡar [108]:2 ini. Dalam bahasa Arab, al-naḥru adalah al-ṣadr (dada). Akan tetapi, al-ṣadr bermakna lebih luas daripada dada dalam bahasa Indonesia, karena bagian leher/tenggorokan juga masuk tergolong al-ṣadr. Tenggorokan itu lah yang disebut dengan al-naḥr. Ia digambarkan sebagai mauḍi` al-qilādah, tempat posisinya kalung. Naḥara-yanḥaru adalah kata kerja yang diturunkan dari kata al-naḥru. Secara literal, jika al-naḥr adalah leher, maka naḥara-yanḥaru bermakna ‘meleher’, yang dalam hal ini bermakna menyembelih. (Wa)-nḥar adalah kata perintahnya, sembelihlah!.

Ibn Qutaibah dalam Tafsīr Gharīb al-Qur’an menjelaskan makna wa-nḥar dengan memberikan sinonimnya, yaitu iżbah (sembelihlah). Żabaḥa-żibḥu bermakna syaqq ḥalq al-ḥayawānāt (merobek tenggorokan hewan). Padanannya dalam bahasa Indonesia adalah menyembelih.

Kata ini digunakan dalam 9 tempat di seluruh Al-Quran. Ia digunakan paling tidak dalam dua makna. Makna pertama adalah membunuh, yaitu ketika Nabi Sulaiman mengancam akan membunuh burung Hud-hud sebagai hukuman karena ia pergi tanpa pamit dan terkait kebiasaan masyarakat jahiliah membunuh anak mereka. Makna kedua adalah penyembelihan untuk persembahan (qurban). Kata ini digunakan dalam konteks qurban Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan sembelihan masyarakat jahiliyah untuk berhala. Menarik untuk memperhatikan bahwa ternyata kata ini tidak digunakan dalam konteks penyembelihan qurban oleh umat Nabi Muhammad.

Tafsir Jalālayn menjelaskan kata wa-nḥar pada al-Kauṡar [108]:2 dengan menyebutkan objeknya, yaitu nusukuka. Di sini, kita menemukan kaitan antara kata nahara di al-Kautsar dengan mansakan di al-Hajj 34. Makna dasar dari kata ini adalah ibadah, ketaatan, dan segala sesuatu yang dengannya seorang hamba mendekatkan dirnya kepada Allah. Disebutkan bahwa kullu haqqi-llāhi `azza wa jalla yusamma nusuka (segala haq Allah `azza wa jalla adalah nusuk [ibadah], seperti pada inna ṣalātī wa nusukī. Ia juga digunakan dalam nāsik dan manāsik dalam konteks haji. Kata al-nusuku dan nasīkatu, dan dalam bentuk ini ia bermakna sembelihan. Hanya sekali Al-Quran menggunakannya dalam makna ini.

Istilah berikutnya adalah yuḍahhī (aḍḥā, uḍhiyyah). aḥa-ḍaḥwu-ḍaḥwatu-ḍaḥiyyatu bermakna siang yang mulai meninggi. Kata ini sangat rumit sekaligus menarik. Ia bermakna waktu tertentu ketika matahari telah menampakkan diri, dan perubahan bentuk kata yang sangat sederhana (berupa harakat dan huruf akhir) menjelaskan perbedaan tipis antara waktu-waktu tersebut. al-ḍuhā bermakna awal terbit matahari dan sedikit meninggi, hingga ia berwarna putih. Al-ḍaḥā’u adalah waktu setelahnya hingga tengah hari. Kata al-ḍuḥa kemudian digunakan untuk menyebut salah satu salat sunat yang dilakukan di pagi hari selepas matahari terbit. Kata al-ḍahā’u juga disebut untuk kata makan siang. Kata ini seolah setimbang dengan ungkapan dalam bahasa jawa, rolasan, yang secara literal berkaitan dengan jam 12 siang, tapi berkonotasi makan siang.

Baca juga:  Mengenal Literatur Qur'an Klasik di Indonesia (Abad 16-19)

Hewan Qurban disebut uḍḥiyyah. Ḍaḥḥā bi al-syāti bermakna menyembelih kambing di waktu ḍuḥa (lihat makna kata ini di atas) di hari Qurban. Itu adalah makna asal dari uḍḥiyyah, meskipun ia juga digunakan untuk penyembelihan hewan Qurban setiap waktu dalam hari Qurban tersebut. Hal yang menarik adalah bahwa kata yang paling populer untuk menyebut hari raya qurban ini adalah `Idul Aḍḥā, tetapi Al-Quran tidak sekalipun menggunakan kata ini dalam konteks penyembelihan atau qurban.

Kata yang paling populer lainnya adalah qurban. Al-qarb bermakna dekat, lawan kata dari al-bu`d, jauh. Qaraba-yaqrubu-qarraba-yuqarribu-qurban-qurbānan bermakna mendekat, baik dalam konteks tempat, waktu, nasab, dsb. Al-Quran sendiri menggunakan kata ini dengan keragaman konteks tersebut. Sebuah literatur Ulum al-Quran menyebut paling tidak ada empat belas makna dari kata qarb dengan segala derivasinya. Salah satunya bermakna qurban persembahan, yang hanya digunakan sekali saja di antara puluhan variasi penggunaan kata qarb dengan keragaman bentuknya. Dalam makna qurban persembahan ini, Al-Quran menggunakannya untuk kisah persembahan pertama manusia, Qabil dan Habil. Qurbān dengan demikian adalah sesuatu yang mendekatkan diri dengan Allah swt. Kata ini kemudian melekat sebagai istilah syar`i untuk al-nasīkah atau al-żabīḥah.

Dari penjelasan di atas, kita melihat hal yang menarik. Kata qaraba-qurban adalah kata yang maknanya paling luas, dan hanya sekali ia bermakna qurban persembahan kepada Tuhan. Nusuk (mansakan) juga bermakna ibadah secara luas. Namun begitu, penggunaannya dalam Al-Quran cenderung sempit, yaitu dalam konteks haji dan qurban; hanya Al-Quran menggunakan kata mansakan dalam makna qurban bukan untuk qurban eksklusif umat Nabi Muhammad, melainkan qurban yang juga dijalankan oleh umat-umat terdahulu. Kata żibḥu bermakna lebih sempit, karena ia secara literal bermakna penyembelihan. Hanya saja, ia tidak eksklusif tentang penyembelihan persembahan, dan penggunaan yang bermakna persembahan justru tidak menunjuk kepada praktik qurbannya Muslim. Satu-satunya kata yang secara eksplisit dan eksklusif merujuk kepada qurban yang dijalankan oleh Nabi Muhammad adalah naḥara, karena secara jelas mukhatab dari ayat ini adalah Nabi Muhammad. Adapun kata aḍḥa sendiri tidak pernah digunakan oleh Al-Quran dalam konteks penyembelihan.

Dengan demikian, muncul sebuah pertanyaan. Jika begitu adanya, mengapa nama yang paling populer untuk hari raya 10 Żulhijjah ini adalah hari raya Idul Adha atau hari raya qurban, tapi bukan hari raya naḥr?

Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.