Pertemuan demi pertemuan muthala’ah kitab Hidayat al-Shibyan tulisan Syaikh Ibrahim Musa bersama kawan-kawan Imastha Yogyakarta telah mengantarkan kami di malam tadi pada bagian yang menjadi tulisan langsung dari Syaikh Ibrahim Musa.

Sebelumnya kami berhadapan dengan pengantar serta matan dari risālah Syaikh Ahmad ibn Zaini Dahlan, materi yang dijelaskan oleh Syaikh Ibrahim Musa dalam kitab tersebut. Setelah beberapa pertemuan hingga malam tadi, saya, bersama teman-teman Imastha, menyadari beberapa hal.

Pertama, kita perlu mengakui telah terjadi degradasi kualitas keilmuan di Sumatera Thawalib Parabek. Kita bisa berasumsi serupa untuk Madrasah-madrasah lain yang sempat menggunakan kitab ini, tapi ada baiknya saat ini mengarahkan tunjuk ke diri sendiri.

Dalam pengantarnya, Syaikh Ibrahim Musa menyebut bahwa kitab ini adalah pengantar, diperuntukkan bagi pemula. Artinya, kajian dalam buku ini masih sangat mendasar sekali. Karena itu, kitab ini diajarkan di kelas 4 di Sumatera Thawalib ketika itu.

Beliau juga menyebutkan, buku ini juga disarankan untuk digunakan di madrasah-madrasah lainnya, dan sejumlah madrasah mengikuti.

Akan tetapi, saat ini kitab ini tidak diajarkan sama sekali di Madrasah Sumatera Thawalib sendiri, lembaga yang dirintis oleh Syaikh Ibrahim Musa. Beberapa waktu belakangan, muncul suara-suara yang bertanya mengapa.

Dalam salah satu komentar di media sosial, Pimpinan Pondok menjawab, buku ini berat, tidak mungkin diajarkan di kelas. Tapi akan segera diupayakan pengajarannya di jam ekstra di luar kelas.

Di sini lah poinnya. Kitab yang dipersiapkan untuk pemula, murid kelas 4, ternyata saat ini posisinya sudah begitu berat dan akan sulit untuk diajarkan di kelas.

Di satu sisi, agaknya ini adalah efek samping dari adopsi sistem pendidikan nasional dan kurikulum nasional dari kementerian agama. Materi Bayan yang dibahas dalam Hidayah al-Shibyān diajarkan lewat kitab Jawāhir al-Balāghah, yang dianggap lebih ringan. Kesibukan-kesibukan dengan hal-hal yang berkenaan dengan standar nasional, baik dengan tolok ukur nilai UN atau keberterimaan lulusan di perguruan tinggi ternama, pada akhirnya membuat kita harus mengaku, jalan itu membuat kita mengorbankan standar internal yang awalnya cukup tinggi.

Baca juga:  Hari Ini Kami Resmi Jadi Alumni!!!

Kedua, Surau Parabek belakangan mulai menyadari, bahwa narasi-narasi tentang Syaikh Ibrahim Musa yang dilestarikan di lingkungan Madrasah maupun di tulisan/biografi (yang terkadang bersifat seremonial) tentang beliau baru mengungkap sebatas kiprah beliau di dunia pendidikan.

Informasi yang disampaikan adalah kapan beliau berangkat ke Mekkah, kapan memulai halaqah, kapan membangun sekolah, memulai Kulliyat Diyanah, dan sebagainya. Ini adalah informasi penting, tidak diragukan lagi, namun sayangnya, masih sangat kurang sekali.

Sebagai ulama kenamaan dan bertengger di posisi paling elit di Minangkabau, salah satu elemen yang paling penting tentu saja jejak rekam biografi intelektual beliau, bukan hanya biografi kiprah pendidikan saja.

Biografi intelektual berbicara tentang proses formasi intelektual serta produk-produk berupa ide-ide beliau terkait tema-tema yang menjadi perdebatan di masa beliau hidup. Kita memang mendapatkan beberapa cerita tentang itu. Catatan tentang guru-guru beliau ada, dan beberapa rujukan juga menyebutkan materi yang beliau pelajari dari setiap guru. Tapi sayangnya hanya sebatas itu saja.

Tidak ada rekonstruksi kongkrit tentang bagaimana bangunan keilmuan beliau. Dalam bentuk yang lebih sederhana, kita tidak menemukan wujud kongkrit dari pandangan-pandangan beliau tentang tema-tema yang menjadi perdebatan di masa itu. Bagaimana pandangan beliau mengenai tasawuf, mengenai tariqat, mengenai arah kiblat, mengenai ushalli, mengenai sayyid, ziarah kubur, dan sebagainya.

Baca juga:  10 Hal yang Bikin Gagal Move On dari Parabek!

Memang kita dapat informasi, bahwa beliau adalah ulama modernis nan moderat, yang disegani dua kelompok pemikiran yang berseteru, kaum muda kaum tua, dan diterima di kedua kutup. Kita juga dapat cerita tentang sikap beliau tentang polemik shalat Tarawih, yang mendukung label modernis moderat itu.

Tapi lagi, wujud kongkrit dan aktual tentang pandangan beliau terkait Tarawih, dan hal-hal lain yang membuat kita bisa mengamini (atau justru mengevaluasi ulang) posisi modernis-moderat itu tidak muncul.

Oleh sebab itu, biografi intelektual Syaikh Ibrahim Musa sangat perlu diupayakan. Ingat, Syaikh Ibrahim Musa adalah ulama, bukan pendiri sekolah.

Di tengah keresahan besar itu, Hidaya al-Shibyan merekahkan sedikit senyum. Buku ini memang benar tentang bayan, yang secara teknis berbicara tentang bahasa dan keindahan retorika. Tapi, jika dibaca dengan kesadaran sejarah, buku ini bisa mengantarkan kita paling tidak pada beberapa bagian dari ide-ide intelektual Syaikh Ibrahim Musa.

Dalam beberapa halaman pertama, beliau berbicara tentang ilm kasb dan ilm ‘fayd’, beliau memberi sedikit isyarat tentang posisi beliau terhadap wahabisme, dan di halaman-halaman penutup, beliau berbicara tentang sayyid.

Di sini, kita harus benar-benar insyaf: begitu lama kita meninggalkan ide langsung dari Syaikh Ibrahim Musa, sehingga jangan-jangan pengetahuan kita tentang beliau belum apa-apa. Tentu saja yang dimaksud di sini terkait hal-hal non material. Tapi kembali, ingat, Syaikh Ibrahim Musa adalah ulama, bukan pendiri sekolah.

Komentar