Dua tulisan sebelumnya telah menjelaskan bahwa Hidāyat al-Shibyān ditulis sebagai syarḥ (penjelasan) atas sebuah risālah (paper/esai) singkat yang ditulis oleh al-Sayyid Aḥmad ibn Zainī Daḥlān. Artinya, kita bisa melihat keluasan ilmu Syaikh Ibrahim Musa lewat penjelasan yang beliau berikan atas kalimat demi kalimat dari risālah tersebut. Kesan awal saat ini, beliau adalah figur yang cukup ensiklopedis, karena kata kunci-kata kunci yang beliau hadirkan dalam syaraḥ-nya berasal dari beberapa cabang ilmu. 

Risālah ini dibuka dengan basmalah, dan selanjutnya dengan ungkapan syukur “al-ḥamdu lillāhi ʿalā mā anʿama min al-bayān…” Ada penjelasan dalam catatan kaki untuk ʿalā, dan itulah yang ingin dibahas oleh tulisan ini. 

Catatan kaki dari Syaikh Ibrahim Musa untuk kalimat pembuka ini menjelaskan dua model pemaknaan atas kalimat al-ḥamdu li-llāh. Kata ʿalā (lit. atas), kata Syaikh Ibrahim Musa, berfungsi sebagai taʿlīl (penetapan alasan)Ada dua model taʿlīl dalam hal ini, dan keduanya menetapkan alasan mengapa al-ḥamd (pujian) li-llāh (bagi/milik) Allah.

Pertama, ʿalā menjadi ʿillat bagi insyāʾ al-ṡanāʾ (tuntutan pemujian) berdasarkan kalimat yang disebutkan setelah ʿalā, yaitu mā ʾanʿama min al-bayān (sebagian dari bayān [penjelasan] yang Ia anugerahkan).

Baca juga:  Mata Rantai Inyiak Parabek: Kemana dan Bagaimana?

Maksudnya, mā ʾanʿama min al-bayān menjadi alasan yang menuntut kita untuk menyampaikan pujian kepada Allah swt. Kata insyā’ perlu kita garisbawahi dalam hal ini. Dengan kalimat ini, lebih kurang Syaikh Ibrahim Musa hendak berkata bahwa meskipun kalimat ini berbentuk berita (jumlah khabariyah), bukan perintah (jumlah insyāʿiyyah), tapi kata ʿalā pada ʿalā mā ʾanʿama min al-bayān menetapkan sebuah alasan (menjadi ʿillat) untuk adanya perintah memuji (al-ṡanāʾ) yang disampaikan dengan formulasi al-ḥamdu li-llāh. 

Dalam kata lain, secara bentuk, al-ḥamdu li-llāh ʿalā mā ʾanʿama memang berbentuk kalimat berita (khabariyah). Namun demikian, ia bisa dipahami bermakna insyāʾiyyah (perintah/tuntutan) untuk menyampaikan puji kepada Allah.

Kedua, ʿalā menjadi ʿillat bagi iṡbāt al-ḥamd li-llāh (penetapan pujian bagi Allah). Jika pada model pertama kalimat ini dipahami sebagai perintah, pada model kedua ini kita memahaminya sebagai kalimat berita (khabariyah) sesuai dengan formulasi strukturnya. Maksudnya, kalimat ini berarti memberitakan bahwa al-ḥamd adalah sesuatu yang melekat kepada Allah. 

Baca juga:  Puasa 6 Hari Bulan Syawwal

Bagaimana wujudnya? Maʿnā iṡbātihi iʿtiqāduh li-llāh. Makna dari menetapkan pujian kepada Allah, kata Syaikh Ibrahim Musa, adalah meyakini pujian itu memang milik Allah karena nikmat yang telah Ia anugerahkan.

Dalam bentuk pertama, dalam pandangan saya, kata al-ḥamdu li-llāh bisa dimaknai “segala puji bagi Allah”, seperti terjemahan yang populer kita dapatkan. Dengan penerjemahan model ini, terlihat bahwa ada tanggung jawab kita untuk menyampaikan pujian bagi/kepada Allah karena segala nikmat yang Ia berikan.

Dalam bentuk kedua, penerjemahannya sedikit berubah menjadi “segala puji milik Allah”. Dalam bentuk ini, apakah manusia menjalankan tanggungjawab yang ia dapatkan dari perintah untuk memuji Allah atau tidak, pujian sudah ṡubūt (tetap) milik Allah. Pemberian/penyampaian pujian dari makhluk tidak lantas membuat pujian tidak ada bagi Allah. Dipuji atau tidak dipuji, Allah terpuji, karena pujian telah tetap menjadi milik-Nya.

Komentar