Tulisan sebelumnya memuat perkenalan paling awal terhadap kitab Hidāyat al-Shibyān tulisan Syaikh Ibrahim Musa. Selanjutnya, tulisan ini akan mengulas metode penulisan bukunya.

Disebutkan di tulisan terdahulu, Syaikh Ibrahim Musa menautkan genealogi intelektualnya kepada karya pendahulunya, yaitu al-Sayyid Aḥmad ibn Zainī al-Daḥlān, guru dari sejumlah guru beliau. Beliau mengambil salah satu tulisan singkat (risālah) yang ditulis oleh al-Sayyid Aḥmad ibn Zainī Daḥlān, lalu memberikan penjelasan atas setiap kata, frase, atau kalimat yang dianggap penting untuk dijelaskan lebih panjang.

Model penulisan seperti ini adalah tipikal penulisan yang dilestarikan oleh para ulama dalam tradisi intelektual Islam. Sebagai contoh, mari kita bandingkan dengan Iʿānat al-Ṭālibīn yang merupakan syarah atas Faṭh al-Muʿīn. Fatḥ al-Muʿīn adalah kitab yang ditulis oleh Zainuddin al-Malibari. Kitab ini dijelaskan kata demi kata atau kalimat demi kalimat oleh Abū Bakr ibn Sayyid Muḥammad Shaṭṭā dalam bukunya Iʿānat al-Ṭālibīn.

Dalam model ini, kitab Faṭḥ al-Muʿīn menempati posisi sebagai teks utama, atau matan, dan penjelasan dari Abū Bakr ibn Sayyid Muḥammad Shaṭṭā yang menjadi isi dari Iʿānat al-Ṭālibīn menempati posisi sebagai syaraḥ. Dalam konteks Hidāyat al-Shibyān, maka, risālah yang ditulis oleh al-Sayyid Aḥmad ibn Zainī Daḥlān menempati posisi sebagai matan, sementara penjelasan dari Syaikh Ibrahim Musa berposisi sebagai syaraḥ.

Model penulisan seperti ini sangat unik, jika dibandingkan dengan model penulisan-penulisan buku saat ini. Penjelasan dari kitab syaraḥ memberikan keterangan-keterangan tambahan atas kitab matan dengan struktur sistematika dan bahasa yang terikat kepada kitab matan. Hasilnya, kalimat dari kitab matan akan dipecah menjadi beberapa kata/frasa, dan di antara kata/frasa tersebut akan ditambahkan penjelasan dari syaraḥ, sehingga akan terbentuk kalimat baru yang lebih panjang. Untuk membedakan mana yang berasal dari matan dan mana kata-kata tambahan dari syaraḥ, setiap kata dalam matan akan diberi tanda kurung.

Baca juga:  Papa Muzakkir: Inyiak Katik di Mata Anaknya

Mari kita ilustrasikan contohnya dalam kalimat berbahasa Indonesia. Sebuah matan menuliskan, umpamanya:

“Masjid rumah ibadah”.

Kitab syaraḥ akan memisah kata-kata dalam matan dan diberi penjelasan kata-kata baru yang kemudian membentuk kalimat baru seperti berikut:

(Masjidadalah (rumah), yaitu bangunan, tempat umat Islam melaksanakan (ibadah) shalat wajib, shalat Jum’at, dan i’tikaf.  

Meskipun mengikuti metode penulisan tradisional, Syaikh Ibrahim Musa menerapkannya secara lebih fleksibel. Dari segi kebahasaan, biasanya penulis syaraḥ akan mengutip bunyi matan apa adanya, tanpa ada modifikasi apa-apa, termasuk kondisi iʿrāb-nya. Jika sebuah kata dalam matan berposisi khafaḍ, maka penambahan penjelasan dalam syaraḥ akan berupaya menempatkan kata matan terkait di posisi khafaḍ.

Dalam beberapa contoh, terlihat Syaikh Ibrahim Musa mengambil jalan fleksibel dalam konteks ini. Umpamanya, ketika menjelaskan definisi majāz, lafaz matan berbunyi maʿā qarīnatin māniʿatin, namun Syaikh Ibrahim Musa mengganti kondisi māniʿatin menjadi māniʿatan. Beliau menulis “an takūna tilka al-qarīnatu (māniʿatan)”

Fleksibelitas lainnya terlihat dari sejumlah modifikasi visual yang beliau terapkan. Syaikh Ibrahim Musa dalam Hidāyat al-Shibyān memadukan model tradisional matan-syaraḥ dengan gaya penulisan buku-buku kontemporer.

Biasanya, penulis syaraḥ secara langsung menghadirkan matan sekaligus syaraḥ. Dalam Hidāyat al-Shibyān, Syaikh Ibrahim Musa terlebih dahulu menghadirkan matan lengkap, independen, dan tanpa penjelasan apa-apa. Model ini tidak lazim di penulisan kitab-kitab klasik, namun menurut beliau, model seperti itu akan lebih memudahkan bagi para pelajar, terutama untuk bisa menghafal bunyi matan secara utuh.

Di tahap berikut, kita akan melihat satu halaman buku ini akan dibagi kepada tiga bagian. Di bagian paling atas, Syaikh Ibrahim Musa menghadirkan kembali potongan matan yang akan dibahas dalam satu halaman tersebut. Di bawahnya, Syaikh Ibrahim Musa menghadirkan syaraḥ-nya. Antara matan dan syaraḥ dibatasi dengan garis ganda. Di bawah syaraḥ, Syaikh Ibrahim Musa menghadirkan catatan kaki, jika dirasa perlu. Modelnya sudah selayaknya catatan kaki di buku-buku kontemporer; menggunakan penomoran. Antara syaraḥ dan catatan kaki dibatasi dengan garis tunggal.

Baca juga:  Pengantar: Para Nabi dan Rasul Adalah Manusia Biasa

Inovasi lainnya penyusunan bentuk visual buku yang lebih enak dibaca. Para santri mungkin sangat akrab dengan model penulisan Faṭḥ al-Muʿīn yang begitu saja menampilkan isi dari bukunya secara berurutan dari awal tanpa akhir tanpa ada mekanisme tanda baca, paragraf-paragraf, dan pemisahan atar satu tema dengan tema selanjutnya. Jadi, ia terlihat seperti mushaf Al-Qur’an, yang sejak kalimat pertama tak pernah henti hingga bukunya selesai. 

Dalam hal ini, Hidāyat al-Shibyān berinovasi. Buku ini mulai menggunakan tanda baca, meskipun terbatas. Tanda baca tersebut meliputi titik, koma, dan titik koma. Namun demikian, terkadang penggunaan tanda baca ini justru membingungkan untuk pembaca saat ini, karena posisi tanda baca tersebut terlihat berserakan. Kemungkinannya ada dua: memang penggunaan titik-komanya banyak salah, atau memang begitu model penggunaan tanda baca dalam penulisan aksara Arab Melayu di zaman itu. Saat ini, kami belum bisa menilainya.

Selain itu, Hidāyat al-Shibyān sudah menggunakan model peragraf dan pemisahan tema-tema. Jika satu tema telah selesai dibahas, beliau memulai tema berikutnya dengan memberikan sub-judul terlebih dahulu. Ukuran font yang digunakan untuk judul juga berbeda, sehingga kita dengan jelas dapat mengidentifikasi pengelompokan tema-tema dalam buku ini.

Satu inovasi menarik lainnya adalah adanya soal-soal latihan. Buku ini memang diniatkan untuk jadi buku ajar yang dibaca dan dipelajari di ruang kelas. Maka, setiap beberapa tema, Syaikh Ibrahim Musa menghadirkan beberapa soal relevan sebagai alat uji apakah para siswa telah memahami materi yang dipelajari dengan baik. 

Komentar