Judul lengkap dari buku ini adalah Hidāyat al-Shibyān ʿalā Risālat Syaikh Syuyūkhinā al-Sayyid Aḥmad ibn Zainī Daḥlān fī Fann al-Bayān. Jika diterjemahkan secara bebas, lebih kurang judul buku ini adalah Pengantar Ilmu Bayān untuk Pemula Berdasarkan Risalah dari Guru dari Guru-guru Kami Sayyid Ahmad ibn Zainī Dahlan.

Ada beberapa hal yang bisa kita telaah dari judul ini. 

Pertama, Syaikh Ibrahim Musa memperlihatkan genealogi keilmuannya. Dalam bahasa yang mulai populer saat ini, dengan judul ini Syekh Ibrahim Musa memperlihatkan sanad keilmuan beliau, baik secara implisit maupun eksplisit.

Penautan implisit adalah ketika Inyiak Ibrahim Musa ternyata memilih untuk men-syaraḥ salah satu tulisan dari pendahulunya. Metode ini adalah tipikal penulisan karya intelektual dalam tradisi keilmuan Islam. Tanpa diperlihatkan contohnya pun, para anak siak tentu sangat akrab sekali dengan gaya penulisan seperti ini.

Penautan eksplisit terlihat jelas sekali: Inyiak Ibrahim Musa menyebut bahwa ia menjelaskan sebuah naskah singkat dalam disiplin ilmu bayān yang ditulis oleh al-Sayyid Aḥmad ibn Zainī Daḥlān, salah seorang Muftī mazhab Syafiʿī di Ḥaramayn di abad ke 19.

Al-Sayyid Aḥmad ibn Zainī Daḥlān adalah guru dari guru-guru (syaikh syuyūkh[ina]) Inyiak Ibrahim Musa. Penggunaan bentuk jamaʿ (syuyūkh) jelas mengindikasikan bahwa tidak seorang saja guru Syaikh Ibrahim Musa yang belajar kepada al-Sayyid Aḥmad ibn Zainī Daḥlān. Wajar saja, sebagai salah seorang figur paling utama dalam kesarjanaan Islam dan mazhab Syafiʿī di Makkah ketika itu, banyak pelajar-pelajar dari Indonesia yang berguru kepada beliau. Salah seorangnya adalah Ahmad Khatīb al-Minangkabawi, guru dari Syaikh Ibrahim Musa dan sejumlah tokoh dari Indonesia lainnya.

Baca juga:  Pers Islam Minangkabau: 1 Abad majalah Al Bajan Sumatera Thawalib Parabek 1919-2019

Sedikit informasi tambahan, Syaikh Aḥmad Khatīb merupakan salah satu murid kesayangan Abū Bakr ibn Sayyid Muḥammad Syaṭṭā, penulis Iʿānat al-Ṭālibīn. Syaikh Ibrahim Musa secara langsung membaca kitab syarah atas Fatḥ al-Muʿīn ini langsung kepada penulisnya. Selanjutnya, Syaikh Aḥmad Khatīb menjadi ‘spesialis’ Iʿānat al-Ṭālibīn dan mengajarkannya kepada murid-muridnya dari tanah air. Syaikh Ibrahim Musa tentu saja membaca Iʿānat al-Thālibīn kepada Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabau pula. 

Bukan hanya menyebutkan nama al-Sayyid Aḥmad ibn Zainī Daḥlān di cover buku, Syaikh Ibrahim Musa juga menuliskan biografi singkat beliau di bagian pengantar. Syaikh Ibrahim Musa menyebut aktifitas Pendidikan dan kegamaan beliau, termasuk mengirimkan murid-murid beliau untuk berdakwah ke pelosok-pelosok, atau secara langsung beliau sendiri yang berkeliling daerah-daerah tersebut.

Syaikh Ibrahim Musa juga menuliskan sejumlah karangan al-Sayyid Aḥmad ibn Zainī Daḥlān dalam berbagai disiplin ilmu, seperti fiqh, sīrah Nabawiy dan al-Khulfāʾ al-Rāsyidūn, ilmu bayan, tawḥīd dan ʿaqīdah, naḥwu (salah satunya berjudul cukup unik: risālah mutaʿallaqah bi-jāʾa zayd), dsb, termasuk ilmu-ilmu umum seperti ilmu hitung, logika dan mabniyāt (arsitektur?). 

Ada satu hal menarik, yang barangkali memperlihatkan bagaimana posisi Syekh Ibrahim Musa dalam perkembangan pemikiran Islam yang muncul di masa hidupnya, terutama terkait munculkan wahabisme. Semua jenis disiplin atau judul-judul risalah yang ditulis oleh al-Sayyid Aḥmad ibn Zainī Daḥlān dituliskan begitu saja oleh Syaikh Ibrahim Musa tanpa ada deskripsi/atribusi tambahan, kecuali untuk satu tulisan. Secara literal, Syaikh Ibrahim Musa menyebut al-Sayyid Aḥmad ibn Zainī Daḥlān memiliki taʾlīf ʿazhīm fi radd ʿalā al-wahhābiyya. Penulis sejarah Syaikh Ibrahim Musa agaknya perlu mempertimbangkan keterangan verbatim dari beliau ini dalam konteks perdebatan antara modernis dan tradisionalis.

Baca juga:  Dinamika Intelektual Alumni Sumatera Thawalib Parabek

Di samping itu, cover buku ini memperlihatkan Syaikh Ibrahim Musa menyebut dirinya sebagai khādim (pelayan) Thawalib Parabek. Hal ini kerendahan hati Syaikh Ibrahim Musa. Meskipun beliau telah dikenal sebagai Inyiak Syiah/Syekh atau Inyiak Parabek yang menggambarkan posisi kultural beliau yang sangat dihormati di masyarakat, sekaligus posisi beliau sebagai figur tertinggi di Lembaga bentukan beliau, yaitu Sumatera Thawalib Parabek, beliau lebih senang menyebut dirinya sebagai pelayan. Di sisi lain, hal ini juga menggambarkan  bahwa bagi Inyiak Ibrahim Musa, aktifitas Pendidikan di Sumatera Thawalib Parabek adalah aktifitas pelayanan bagi masyarakat.

Mengapa Syekh Ibrahim Musa menulis buku ini? Jawabannya juga dituliskan oleh Syaikh Ibrahim Musa di cover bukunya. Ia mengutip sebuah hadis, taʿallamū al-ʿarabiyyata fa innahā kalamullāh. Tidak dikeragui lagi, lanjut beliau, ilmu bayān adalah salah satu cabang dari ilmu bahasa Arab.

Buku ini dicetak oleh kantor percetakan (penerbit) “Baroe” di Fort De Kock/Bukittinggi. Tidak disebutkan kapan ia dicetak, tapi di pengantarnya, Syekh Ibrahim Musa menyebut bahwa buku ini selesai ditulis pada tanggal 15 Zul Hijjah 1348 H atau lebih kurang bertepatan dengan 14 Mei 1930. Inyiak Ibrahim juga menyebutkan bahwa buku ini dibiayai secara pribadi oleh beliau dan semua keuntungan penjualan buku diperuntukkan bagi pembangunan masjid Thawalib Parabek.

Komentar

1 COMMENT

Comments are closed.