Sering kali Muhammadiyah “dihakimi” karena praktik ibadah yang dilakukan oleh warga Muhammadiyah dianggap menyelisihi pendapat umum, setidaknya konsensus umum masyarakat Islam di Indonesia. Atau justru sebaliknya, karena ego praktik ibadah yang dilakukan sebagian oknum Muhammadiyah yang menganggap mereka lah yang paling benar, sementara yang lain bid’ah, justru merupakan awal dari stigma negatif ini. Perlu dicatat, bahwa akhir-akhir ini, Muhammadiyah sudah melunak meninggalkan penggunaan istilah-istilah yang bisa memancing kontroversi, seperti, bid’ah. 

Salah satu yang sering diselisihkan adalah tentang praktik salat tarawih. Jamak diketahui bahwa varian paling umum dalam shalat tarawih adalah 20 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir dengan formasi witir 2 rakaat ditambah 1. Lalu datang praktik 8 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir dengan formasi 4+4+3 yang dikerjakan sesuai Putusan Tarjih Muhammadiyah. 

Praktik tarawih warga Muhammadiyah bukanlah sebuah satuan yang terisolasi dari struktur pemahaman keberagamaan Muhammadiyah secara umum. Oleh sebab itu, untuk memahami praktik tarawih dalam Muhammadiyah, ia tidak bisa diperlakukan secara atomistik dan dilepaskan dari kecenderungan berpikir Muhammadiyah secara umum. Cara seperti ini hanya akan memunculkan kesalahpahaman. Artinya, kita perlu meluaskan pandangan, melihat bagaimana struktur kerja dari pandangan keagamaan Muhammadiyah secara umum.

Pertama, bahwa tarjih dalam Muhammadiyah diambil secara kolektif (jama’i), bukan personal (fardi). Oleh karena itu, fatwa atau putusan yang dikeluarkan oleh Majelis Tarjih betul-betul lulus uji dan tidak memperturutkan hawa nafsu pribadi.

Dalam paradigma Majelis Tarjih Muhammadiyah dikenal 3 istilah: Wacana Tarjih, Fatwa Tarjih dan Putusan Tarjih. Ketiganya memiliki kekuatan hukum yang berbeda. 

Wacana Tarjih adalah pandangan personal, gagasan-gagasan atau pemikiran yang dilontarkan dalam rangka memancing dan menumbuhkan semangat berijtihad yang kritis serta menghimpun bahan-bahan atau stock ide mengenai berbagai masalah aktual dalam masyarakat. Wacana-wacana tarjih tertuang dalam berbagai publikasi Majelis Tarjih seperti Jurnal Tarjih dan berbagai buku yang diterbitkan. 

Fatwa Tarjih berada pada tingkat yang lebih tinggi. Ia adalah hasil ijtihad jama’i anggota Majelis Tarjih terhadap suatu persoalan hukum. Ia merupakan jawaban Majelis Tarjih terhadap pertanyaan masyarakat mengenai masalah-masalah yang memerlukan  penjelasan dari segi hukum syariah.

Sesuai dengan sifat fatwa pada umumnya, fatwa majelis Tarjih tidak mengikat baik secara organisatoris maupun anggota sebagai perorangan. Bahkan fatwa tersebut dapat dipertanyakan dan didiskusikan. Misalnya, fatwa haram rokok yang dikeluarkan oleh Majelis Tarjih, tidak mengikat berbagai pihak yang tidak sejalan dengan fatwa tersebut.

Di atas semua itu, ada Putusan Tarjih. Putusan Tarjih adalah keputusan resmi Muhammadiyah dalam bidang agama–bukan keputusan Majelis Tarjih–dan mengikat organisasi secara formalIa merupakan konsensus tertinggi dari Majelis Tarjih. Hasil putusan tarjih diperoleh dengan mekanisme Muktamar Tarjih yang diikuti oleh seluruh anggota Majelis Tarjih dari tingkat pusat sampai daerah.

Baca juga:  Cerita Lama Qur’an dan Kampanye Politik Indonesia

Jika semua peserta sepakat, maka hasil muktamar direkomendasikan kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk dijadikan sikap resmi organisasi dalam bidang agama. Sebaliknya, Jika ada satu orang saja yan tidak sepakat dalam mencari rumusan putusan tarjih, maka putusan tidak bisa direkomendasikan.

Kedua, yang sering disalahpahami dari praktik ibadah dalam paradigma Muhammadiyah adalah bahwa seolah-olah hanya ada satu pilihan baku dan tidak ada alternatif lain. Muhammadiyah pada dasarnya mengakui tanawwu’ (keragaman) dalam ibadah. Keragaman itu disebutkan secara jelas dalam Fatwa Tarjih maupun Putusan Tarjih.

Hal ini tidak hanya dalam praktik salat tarawih, tetapi juga dalam praktik salat wajib. Bacaan Allhumma Ba’id pada doa iftitah yang sering disalahpahami (dianggap yang paling benar, padahal Putusan Tarjih Muhammadiyah juga merekomendasikan membaca Kabira….), atau bacaan doa pada setiap aktifitas salat semuanya juga memilki alternatif dengan dalil masing-masingnya.

Sebagai contoh, akan saya kutipkan redaksi Tuntunan Ibadah Pada Bulan Ramadhan yang disusun oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah tentang salat tarawih pada halaman 32:

“(2) Qiyamu Ramadhan (Shalat Tarawih) dikerjakan antara lain dengan cara 4 raka’at, 4 raka’at tanpa tasyahud awal dan 3 raka’at witir tanpa tasyahud awal, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi saw.” Seterusnya disebutkan haditsnya.

Pada halaman 37

“Qiyamu Ramadhan dapat juga dikerjakan dengan cara 2 raka’at, 2 raka’at, 2 raka’at, 2 raka’at, 2 raka’at, dan 1 raka’at witir, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Nabi Muhammad saw.” Seterusnya disebutkan haditsnya.

Tuntunan ibadah ini dikeluarkan untuk menguatkan Putusan Tarjih yang dihasilkan dari Muktamar Khususi Tarjih tahun 1972 di Wiradesa yang menjelaskan bahwa ragam cara pelaksanaan salat tarawih menurut Muhammadiyah ada delapan varian, yaitu; a) 4+4+3, b) 2+2+2+2+2+1, c) 4+3 /6+3 /8+3 /10+3, d) 8+2+1, e) 8+5, f) 8+1+2, g) 7+2, g) 9+2. [lebih lanjut baca Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah].

Dalam perkembangannya varian c sampai dengan tidak begitu populer dilaksanakan. Di Kota Medan pernah terjadi kebingungan jamaah karena Imam melaksakan Salat Tarawih dengan 8 rakaat sekali salam dan 3 rakaat witir 1 salam. 

Penjelasan Majelis Tarjih merangkum setidaknya ada tiga hadis dari Aisyah yang diriwayatkan yang berkaitan dengan qiyamullail. 

“Dari ‘Ā’isyah, istri Nabi saw, (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Pernah Rasulullah saw melakukan salat pada waktu antara setelah selesai Isya yang dikenal orang dengan ‘Atamah hingga Subuh sebanyak sebelas rakaat di mana beliau salam pada tiap-tiap dua rakaat, dan beliau salat witir satu rakaat” [HR Muslim].

“Dari ‘Ā’isyah (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Pernah Rasulullah saw salat malam tiga belas rakaat, beliau berwitir dengan lima rakaat dan beliau sama sekali tidak duduk (di antara rakaat-rakaat itu) kecuali pada rakaat terakhir”. [HR Muslim]

“Dari Abī Salamah Ibn ‘Abd ar-Raḥmān (diriwayatkan) bahwa ia bertanya kepada ‘Ā’isyah mengenai bagaimana salat Rasulullah saw di bulan Ramadhan. ‘Ā’isyah menjawab: Nabi saw tidak pernah melakukan salat sunat di bulan Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya. Kemudian beliau salat lagi empat rakaat, dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya. Kemudian beliau salat tiga rakaat” [HR al-Bukhārī dan Muslim].

Hadis pertama menunjukkan bahwa Nabi saw pernah melakukan salat malam dengan cara dua rakaat lima kali salam dan witir satu rakaat. Hadis kedua menunjukkan bahwa Nabi saw salat delapan rakaat, tetapi tidak diterangkan berapa kali salam. Adapun hadis ketiga menunjukkan bahwa Nabi saw salat malam di bulan Ramadan delapan rakaat dengan dua kali salam, artinya tiap empat rakaat sekali salam, kemudian dilanjutkan salat witir tiga rakaat dan salam.

Baca juga:  Salat Tarawih Kok Suratnya Pendek-Pendek?

Hadits ketiga yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim ini dijadikan oleh Majelis Tarjih sebagai dalil keabsahan salat tarawih empat rakaat dengan 1 kali salam. Menurut Majelis Tarjih riwayat Aisyah adalah riwayat yang lebih rajih karena kedekatan dan interaksinya yang masif dengan Nabi di samping sahabat lain. Aisyah juga lebih tahu sifat salat malam nabi karena beliau satu rumah dengan nabi. Tarjih juga mengutip pendapat Al-Albani yang membenarkan praktik empat rakaat. 

Menariknya Muhammadiyah sebenarnya tidak menyebutkan varian mana yang paling benar, bahkan cenderung membenarkan praktik yang ada. Tarjih memberikan alternatif pilihan bagi siapa saja yang mau melaksanakan salat tarawih sesuai keyakinanya. Baik salat tarawih 4 rakaat dan 2 rakaat semuanya pernah dipraktikkan oleh nabi Saw.

Dengan demikian, sikap ini sebenarnya menunjukkan bahwa Muhammadiyah mengakui Nabi pernah melakukan ibadah tertentu dengan cara yang bermacam-macam (tanawwu’). Prinsip ini diambil sebagai jalan untuk mengkompromikan sejumlah riwayat yang menjelaskan secara berbeda-beda praktik ibadah tertentu Nabi.

Dari penjelasan di atas, tergambar bahwa praktik salat tarawih yang direkomendasikan oleh Majelis Tarjih Muhammadiyah tidaklah monovarian. Setiap varian yang disebutkan dalam Putusan Tarjih memiliki dalil dan rujukannya masing-masing yang diperkuat dengan pendapat-pendapat ahli, dikaji ulang bersama-sama untuk menghindari bias kepentingan dan memilih pendapat-pendapat yang lebih kuat untuk dilaksanakan. Pengakuan variasi ini mengindikasikan bahwa Muhamamadiyah sebenarnya terbuka dengan perbedaan pendapat dan dinamika intelektual lainnya.

Pada akhirnya, persoalan khilafiyah adalah persoalan yang sudah selesai. Masing-masing ragam varian cara beribadah dijelaskan oleh pendukungnya dengan argumentasi masing-masing. Tanggung jawab Muslim adalah untuk mengikuti varian mana yang diyakini tanpa menciptakan kegaduhan dengan sikap egoisme dan menang sendiri.[]

Komentar

1 COMMENT

Comments are closed.