Jutaan umat Islam di seluruh dunia ikut larut dalam prosesi ritual yang sakral. Jutaan Delegasi umat Islam dari seluruh dunia berkumpul di Makkah Al-Mukarramah. Takbir sahut menyahut. Seluruh umat Islam tanpa terkecuali, mengumandangkan takbir sejak matahari terbenam pada 9 Zulhijjah hingga 3 hari Tasyrik ke depan. Meskipun ada perbedaan waktu pelaksaan shalat Ied antara kita di Indonesia dengan wilayah lainya, namun itu tidak mengurangi nilai kesakralan, kekhusyukan dan persatuan umat Islam.

Ada baiknya kita ulas perbedaan waktu shalat Ied antara kita di Indonesia dengan wilayah lainnya termasuk Saudi sendiri. Para ulama sepakat, bahwa penentuan kalender Hijriah bersifat lokal dan bisa berbeda-beda tergantung posisi hilal di masing-masing Negara. Posisi bulan adalah sesuatu yang amat penting dalam penentuan penganggalan Hijriah. Untuk menentukan tanggal 10 Zulhijjah, maka harus diketahui terlebih dahulu tanggal 1 Hijriahnya.

Di dalam Ilmu Falak dikenal kaidah, “jika ijtima’ hilal terjadi sebelum matahari terbenam pada hari ini, maka besok adalah awal bulan baru. Sementara jika ijtimak hilal terjadi setelah matahari terbenam pada hari ini, maka besok adalah akhir bulan yang sedang berjalan”. Perlu diingat, bahwa pergantian hari di dalam penanggalan Hijriah adalah pada waktu maghrib (matahari terbenam). Dalam kasus ini, bisa jadi di Negeri lain, ijtima’ hilal terjadi sebelum matahari terbenam, maka bagi mereka, besoknya adalah awal bulan yang baru. Artinya 1 Zulhijjah. Sementara di negeri kita Ijtima’ hilal terjadi setelah matahari terbenam, sehingga besoknya masih merupakan akhir bulan yang sedang berjalan ini atau 30 Zulqaidah. Maka wajar saja, jika Iedul Adha di negeri kita menjadi lebih lambat 1 hari dibandingkan dengan daerah lainnya.

Namun kemudian ada yang mempersoalkan, kenapa tidak mengikuti waktu wukuf di Arafah saja? Para ulama sepakat bahwa ibadah Iedul adha adalah ibadah berdasarkan waktu lokal di negara masing-masing, bukan berdasarkan kejadian pada tempat tertentu. Tidak ada hubungan antara wukuf tgl 9 di Arafah dengan Idul Adha tgl 10 di Saudi. Wukuf memang berkaitan dengan hari arafah, sedangkan Idul Adha dilaksanakan tanggal 10 di seluruh dunia tidak terikat pada pelaksanaan Idul Adha di Saudi. Berbeda dengan wukuf, Idul Idul Adha tidak termasuk dalam rangkaian ibadah haji.

Meskipun demikian, perbedaan ini tidak mengurangi khidmatnya kita beribadah kepada Allah pada hari ini. Tidak memecah belah persatuan di antara umat Islam. Juga tidak mengakibatkan adanya sikap saling menyalahkan di antara umat Islam

Hadirin Jama’ah Iedul Adha yang dirahmati Allah.

Agama Islam, adalah agama keteladanan. Artinya, setiap ritual, perbuatan dan bahkan sifat yang melekat dalam ibadah-ibadah di dalam Islam meneladani umat terdahulu. Di dalam Al-quran Ada kisah-kisah keteladanan Adam As, adapula kisah Qabil yang perlu menjadi pelajaran. Ada kisah keteladanan Nuh, Idris, Luth As, adapula kisah umat mereka yang mendurhakai yang patut kita hindarkan. Ada kisah keteladanan Musa, ada pula kisah Fir’aun dan Qarun yang tidak perlu untuk diikuti. Maka dikenal istilah Syar’u man Qablana, syariat orang-orang sebelum kita yang patut diikuti. Ada juga istilah istishab, penggunaan hukum yang lama sebelum datang hukum yang baru.

Berhubungan dengan Iedul Qurban ini, maka keteladanan yang menjadi role model adalah keteladanan terhadap Ibrahim As dan Keluarganya. Di dalam Al-Quran Allah berfirman daalm surat Al-Mumtahanah ayat 4

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang mengikutinya.”

Perayaan setiap tanggal 10 Zulhijjah ini merupakan momentum mengingat kembali ketulusan cinta Ibrahim AS sang Khalilullah, dalam mengorbankan putranya Ismail demi perintah Allah SWT melalui mimpinya. Ibrahim, sebagaimana yang dilukiskan di dalam Al-Quran adalah sosok manusia yang cerdas secara rasional. Ibrahim tidak menerima begitu saja praktik-praktik kemusyrikan yang terjadi di tengah kaumnya. Kisah pencarian Tuhan oleh Nabi Ibrahim merupakan bukti paling jelas bahwa akal sehatnya yang rasional tidak mudah ditundukkan begitu saja. Bermula dari ketidakterimaan akalnya melihat Azar ayahnya, menyembah berhala yang tidak bisa berbicara dan tidak bisa memberi manfaat atau pun mudarat hingga pencarian terhadap Tuhan.

Baca juga:  Pengantar: Para Nabi dan Rasul Adalah Manusia Biasa

Ayat-ayat yang bercerita tentang dialektika pencarian Tuhan pada diri Ibrahim adalah contoh betapa Ibrahim menggunakan rasionya untuk memuaskan dahaga intelektual dan spiritualnya. Ketika ia melihat matahari, ia mengira itu lah Tuhan, ia begitu besar dan menyinari. Tetapi ketika matahari terbenam ia kembali tersadar, mustahil Tuhan hilang dan timbul begitu saja. Begitu juga ketika menemukan Bulan dan Bintang.

Dalam pembuktian tentang bagaimana Allah menghidupkan yang mati, misalnya, terekam jelas dalam surah al-Baqarah ayat 260. Nabi Ibrahim AS meminta kepada Allah agar diperlihatkan kepadanya bagaimana cara Allah menghidupkan sesuatu yang mati.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati”. Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)”

Dialog ini bukanlah menampakkan bahwa seorang nabi seperti dirinya tidak mampu meyakini kekuasaan Allah, namun merupakan penjabaran secara yang lebih jelas bahwa di samping intuisi sebagai hujjah kenabiannya, Ibrahim tidak mengesampingkan pikiran rasionalnya. Allah pun mengabulkan permintaan Nabi Ibrahim, sebagaimana dalam ayat tersebut.

Ketajaman pikiran rasional Nabi Ibrahim dalam beberapa ayat al-Qur’an di atas tidak lantas menjauhkan dirinya dari kebenaran, tetapi justru membawanya ke dalam dimensi yang haqq. Juga, rasionalitas Nabi Ibrahim tidak melenyapkan kemantapannya terhadap kebenaran yang abstrak seperti sebuah mimpi.

Hal ini terekam jelas ketika Ibrahim dilanda kegalauan yang sangat menyiksa, ketika ia mendapati dirinya menyembelih puteranya, putera kesayangannya, putera yang telah lama diidamkan-idamkannya, Ismail. Tidak hanya sekali, mimpi itu datang 3 kali berturut-turut, membawa Ibrahim kepada perenungan yang dalam tentang arti sebuah kebenaran intuitif. Kebenaran sebuah mimpi. Kita tahu bagaimana kelanjutan kisahnya.

Akan tetapi kemudian timbul pertanyaan, bagaimana mungkin sosok Nabi Ibrahim yang rasionalis bisa langsung percaya dengan validitas sebuah mimpi yang abstak, lebih-lebih untuk menyembelih putra kesayangannya? Maka jawaban yang paling masuk akal adalah karena cinta. Kecintaan Nabi Ibrahim kepada Allah jauh melebihi kecintaan kepada putranya. Cinta yang telah menundukkan rasionalitasnya demi membenarkan mimpi yang sama sekali tidak masuk akal. Pengorbanan Nabi Ibrahim dalam membenarkan mimpi adalah manifestasi kecintaan kepada Allah yang tidak tertandingi apa pun bahkan kepada anak kandung yang paling dicintai sekalipun.

Jika Ismail adalah sebuah simbol tentang sesuatu yang amat dicintai, maka pengorbanan Ibrahim terhadap Ismail adalah pengorbanan terhadap sesuatu yang paling dicintai. Dalam hal ini kita dapat ambil keteladanan, bahwa bukti cinta seseorang kepada Allah adalah dengan cara memberikan di jalan Allah sesuatu yang amat dicintainya. Jika ia cinta akan jabatan, maka ia harus siap suatu saat jabatan itu akan diambil darinya. Jika ia cinta kepada harta, maka ia harus bersiap suatu saat ia akan kehilangan hartanya. Maka sebaik-baik “kehilangan sesuatu yang dicintai” adalah dengan mempersembahkannya kepada Allah.

Yang kedua, hadirin-hadirat jamaah Iedul Adha yang dirahmati Allah.

Lagi-lagi keteguhan iman Ibrahim kepada Allah menjadi dasar menjalankan segala perintah-Nya sekalipun harus menyembelih putra kesayangannya.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.

Melalui kisah nabi Ibrahim yang rela mengorbankan putra kesayangannya tersebut, dapat dipahami jika sebenarnya Allah menekankan kepada umat manusia bahwa pengorbanan itu harus dilakukan demi meraih kesuksesan hidup, baik sukses di dunia maupun selamat di akhirat kelak. Pengorbanan merupakan syarat dasar yang tidak boleh diabaikan apalagi ditinggalkan jika ingin menjadi manusia ideal di hadapan Allah. Pengorbanan yang kita berikan adalah pengorbanan terbaik. Seperti Habil yang memberikan hewan ternak terbaiknya untuk diqurbankan kepada Allah, atau Ibrahim yang mengorbankan putra terbaiknya kepada Allah.

Baca juga:  Ujian Allah Swt.

Jika kita adalah seorang petani, maka jadilah petani terbaik, berikan usaha terbaik lalu berqurbanlah dengan qurban yang terbaik. Begitu juga jika kita adalah seorang pegawai, jadilah pegawai terbaik, berikan usaha terbaik dalam memberikan pelayanan dan berqurbanlah dengan qurban terbaik. Jika kita seorang guru, maka jadilah guru terbaik. berikanlah usaha terbaik dalam mendidik anak murid. Lalu berqurbanlah dengan qurban terbaik. Jika kita seorang penuntut ilmu, maka jadilah penuntut ilmu terbaik, berikan usaha terbaik dalam menuntut ilmu. Jika belum mampu berqurban, jadikanlah pengorbanan orang tua sebagai inspirasi menjadi penuntut ilmu terbaik. Jika kita seorang pengurus masyarakat, seorang pemimpin, maka jadilah pemimpin terbaik, berikan usaha terbaik untuk melayani masyarakat, tidak mengkhianati amanah masyarakat, lalu berqurbanlah dengan qurban terbaik.

Keteladanan yang ketiga, dari keluarga Ibrahim adalah keteladanan tentang keikhlasan.

Ketika Ibrahim meninggalkan istrinya Hajar beserta Ismail di sebuah gurun yang tandus gersang hanya berdua saja,  Hajar menggugat, mengapa suaminya meninggalkan dia dan anaknya yang masih kecil di padang pasir tak bertuan. Seperti jamaknya dia hanya bisa menduga bahwa ini akibat kecemburuan Sarah, istri pertama suaminya yang belum juga bisa memberi putra.

Hajar mengejar Ibrahim, suaminya, dan berteriak: “Mengapa engkau tega meninggalkan kami di sini? Bagaimana kami bisa bertahan hidup?” Ibrahim terus melangkah meninggalkan keduanya, tanpa menoleh, tanpa memperlihatkan air matanya yang meleleh. Remuk redam perasaannya terjepit antara pengabdian dan pembiaran.

Hajar masih terus mengejar sambil menggendong Ismail, kali ini dia setengah menjerit, dan jeritannya menembus langit, “Apakah ini perintah Tuhanmu?” Kali ini Ibrahim, sang khalilullah, berhenti melangkah. Dunia seolah berhenti berputar. Malaikat yang menyaksikan peristiwa itu pun turut terdiam menanti jawaban Ibrahim. Butir pasir seolah terpaku kaku. Angin seolah berhenti mendesah. Pertanyaan, atau lebih tepatnya gugatan Hajar membuat semua terkesiap.

Ibrahim membalik tubuhnya, dan berkata tegas, “Iya!”. Hajar berhenti mengejar. Dia terdiam. Lantas meluncurlah kata-kata dari bibirnya, yang mengagetkan semuanya: malaikat, butir pasir dan angin. “Jikalau ini perintah dari Tuhanmu, pergilah, tinggalkan kami di sini. Jangan khawatir. Tuhan akan menjaga kami.” Ibrahim pun beranjak pergi. Dilema itu punah sudah. Ini sebuah pengabdian, atas nama perintah, bukan sebuah pembiaran. Peristiwa Hajar dan Ibrahim ini adalah romantisme keberkahan.

Itulah ikhlas. Ikhlas adalah wujud sebuah keyakinan mutlak pada Sang Maha Mutlak. Ikhlas adalah kepasrahan bukan mengalah apalagi menyerah kalah. Ikhlas itu adalah engkau sanggup berlari melawan dan mengejar, namun engkau memilh patuh dan tunduk. Ikhlas adalah sebuah kekuatan menundukkan diri sendiri dari semua yang engkau cintai.

Ikhlas adalah memilih jalanNya, bukan karena engkau terpojok tak punya jalan lain. Ikhlas bukan lari dari kenyataan. Ikhlas bukan karena terpaksa. Ikhlas bukan merasionalisasi tindakan, bukan mengalkulasi hasil akhir. Ikhlas tak pernah berhitung. Ikhlas tak pernah pula menepuk dada. Ikhlas itu tangga menujuNya. Ikhlas itu mendengar perintahNya dan menaatiNya. Ikhlas adalah ikhlas. “Belum cukupkah kita memahami apa itu ikhlas dari diamnya Hajar dan perginya Ibrahim?” (dikutip dari status facebook Nadirsyah Hosen)

Tiga dimensi ini, cinta, pengorbanan dan keikhlasan bersatu padu dalam kehidupan kita, membentuk sebuah tatanan romantisme yang menyejukkan hati, mengurai nurani, menghilangkan prasangka dan juga menjadikan kita pribadi yang mampu mengungkapkan cinta kepada Allah.

Semoga khutbah singkat tentang keteladanan Ibrahim ini bermanfaat bagi khatib sendiri, maupun bagi kita semua yang hadir. Mengambil nilai-nilai kebajikan di dalamnya, kemudian meninggalkan nilai-nilai yang khilaf darinya.

Komentar

1 COMMENT

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.