Pernahkah kau melihat bintang? Bahkan berangan-angan ingin menyentuhnya, minimal hanya mengelus. Atau bulan? Bahkan bisa jadi matahari. Mereka tergantung tinggi di atas sana. Jauh. Bagi mereka kita hanya sebutir pasir dari atas sana, sangat kecil. Dunia ini begitu besar. Ayahku mengatakan, jika ingin berkeliling menjelajahi alam semesta, maka makanlah banyak-banyak agar kau lekas besar dan bisa pergi kesana. Ayah hanya menyuruhku untuk bermimpi. Harta paling berharga bagi kami.

***

“Yudi, tolong ikatkan buku diatas meja sana, pesanan Mak Id. Sebentar lagi ia datang.”

Kerumunan orang berlalu lalang. Hilir mudik. Teriakan-teriakan orang pasar saling bersahutan satu sama lain. Aku berpikir. Apakah dengan berteriak akan meyakinkan pembeli bahwa barang yang dijualnya berkualitas sehingga pembeli akan merapat? Sandal pengunjung menciprati becek sebab aspal yang sudah berlubang dan tak mulus. Tadi hujan. Asap kendaraan mengepul hitam. Para stokar travel antar daerah saling menawari pejalan kaki. Asal mereka menyandang ransel “Itu pasti mau pulang kampung.” Begitulah kiranya. Jumlah mereka tidak sedikit. Satu mobil setidaknya memiliki dua sampai empat stokar. Biasanya dari preman pasar sini.

Keringat membasahi kerahku. Mengemas dan mengikat puluhan buku. Setiap pagi adalah kebiasaanku memulangkan buku-buku yang salah alamat agar pulang ke rak seharusnya. Pembeli selalu begitu. Terkadang jika pagi ibu bos belum tiba aku hanya melamun di emperan toko melirik orang berlalu lalang. Itu menyebalkan. Jumlah pengunjung pasar saat ini sangat ramai, tidak seperti biasanya. Biasalah, menjelang lebaran. Pengunjung rata rata menjinjing kresek hitam. Bermacam-macam isinya. Kue, baju lebaran, bahan masakan. Masih ada dua tumpukan buku lagi.

Ini pilihanku. Aku memutuskan tidak kuliah dahulu satu tahun, tidak seperti teman temanku. Mereka sibuk mencari memilih universitas ini itu. Tes ini, tes itu. Aku mengumpulkan modal terlebih dahulu. Kuliah setelah cukup modal.

“Anakku ini nanti kuliah di Mesir.”

Ada yang tertawa, diam antara percaya atau tidak, ada juga yang hanya mengiya-iyakan. Ayahku seorang pemimpi. Saat usiaku masih kecil ia bermimpi agar aku bisa menuntut ilmu jauh di Timur Tengah sana. Itu hanya mimpi, tanpa uang yang mendukung.

***

Embun pagi masih tebal. Matahari sedikit menampakkan wajahnya. Kicauan kecil burung pipit saling sahut-sahutan antar pohon. Aku selesai mandi dan sholat subuh. Tidak merupakan sebuah kebiasaan bagiku memanaskan mesin motor sebelum berangkat sekolah, seperti teman-temanku lainnya. Aku hanya mengendarai sepeda. Aku lupa, belum memasukkan buku pelajaran hari ini ke tas. Sejurus kemudian aku memilih dan memasukkan buku sembari melihat satu persatu mata pelajaran yang tertempel di dinding. Lumayan banyak.

Belum sepenuhnya matahari terbit aku sudah mengayuh sepeda. Jarak sekolah dengan hotel penginapanku sekital 5 km. Tetapi aku tidak menginap di hotel dan dipandang lebih mewah dibandingkan teman-temanku yang tinggal di asrama pesantren. Aku bekerja sebagai cleaning service di salah satu hotel kawasan Belakang Balok. Untuk tambahan biaya sekolah, jajan, atau lainnya. Setiap hari mengayuh sepeda bolak-balik tidak membuatku kurus sedikitpun. Entahlah makanku yang banyak, atau cuaca disini dingin sehingga membuat keringatku tidak keluar. Aku tak mempersalahkan badan gempalku.

Kayuhan demi kayuhan kutempuh dengan wajah ceria bercampur penat yang berkaloborasi dengan keringat. Bukittinggi memiliki jalanan yang naik turun. Menanjak-menurun. Sepeda ini entah sudah berapa kali diganti rantainya. Sepeda legendaris, kata teman-temanku.

Sekarang saatnya mendaki. Kukerahkan seluruh tenaga ke kaki. Agak bosan seperti ini setiap hari. Sedikit lagi aku hampir sampai di jalan mendatar lalu belok kanan di persimpangan. Hati-hati aku melihat kiri kanan sebelum menyeberang. Kurasa aman. Kukayuh sepedaku menyeberangi jalan menuju ganga yang biasa kulewati.

Sebuah mobil melaju kencang dari arah kanan. Sepedaku tidak bisa dikayuh kencang menghindari mobil.

Braakkk. Mobil menghantan ban belakang sepedaku. Membuatku juga turut terseret dan terpental bebrapa meter. Kerumunan orang mulai mengerumuniku. Supir mobil keluar memastikan aku baik baik saja. Semua orang meminta pertanggungjawaban sang supir untuk anak yang ditabraknya. Tulangku tidak patah, hanya sedikit lecet di kaki dan di tangan.

“Maaf nak, kami terburu-buru menjemput penumpang. Tunggu sebentar. Bapak ambilkan uang di mobil untuk biaya berobatmu.” Ujar supir dengan wajah cemas.

Aku sedikit lega. Setidaknya aku dapat uang untuk berobat. Kalaupun luka ini bisa diobati dengan obat merah saja, uang berobat tadi bisa menjadi tambahan jajan. Kulihat dari kaca depan mobil kepala supir menunduk-nunduk seperti mencari sesuatu di dalam laci mobil. Sepertinya ia menghitung uang. Lama sekali, seperinya uang yang banyak.

Si supir menghitung uang sambil duduk dan menutup pintu mobil. Tapi mengapa pintunya ditutup?

Kemudian aku hanya bisa terpaku melongo melihat plat belakang mobil yang lama-kelamaan mengecil. Mobilnya sudah pergi. Supir tidak bertanggungjawab dan lari begitu saja. Orang-orang berteriakan menyumpahi supir. Ada yang mengejarnya dengan motor. Aku hanya menunduk dan kembali menegakkan sepedaku yang rantainya putus. Kutuntun sepedaku menuju sekolah yang jaraknya 1 km lagi. Bagaimana ini. Terbayang sepeda yang biasa menemaniku sekarang sudah rusak. Meminta sepda baru kepada ayah? Kurasa itu hanya menambah beban ayah.

Aku terlambat tiba di sekolah. Saat guru piket gerbang hendak menanyakan alasanku terlambat, pertanyaan itu surut saat sepedaku yang lebih dulu menjawabnya. Saatnya masuk kelas.

***

Bel istirahat berbunyi. Santri-santri bergerombolan berlarian keluar kelas. Ada yang jajan ke kantin dan ada juga yang sholat dhuha ke mesjid. Biasanya yang sholat dhuhanya tiba-tiba rajin diejek tidak punya uang. Lalu sholat dhuha sebagai pengganti istirahat, daripada bermenung menelan ludah melihat teman yang kepedasan mengunyah bakwan.

Aku duduk di kantin. Bermenung melihat orang lain sibuk memasukkan jajanan ke kantong plastik. Aku menolak tawaran seorang teman yang menawari gorengan.

Salah satu kakak kelas duduk di sebelahku. Ia meletakkan kantong yang berisi aneka jajanan kemudian membuka kantongnya. Awalnya aku menolak. Setelah dipaksa dan disodorkan bakwan ke tangan akhirnya aku menyerah.

“Aku dengar kamu habis ditabrak mobil ya, Wahyudi? Tidak bertanggungjawab sekali dia.
“Iya bang, tapi hanya tanganku yang lecet. Tidak masalah.” Aku menjawab lemas.
“Ya sudahlah kalau tidak apa-apa. Manusia di dunia ini mempunyai bermacam sifat yang berbeda, kau tahu kan?”

Aku hanya mengangguk diam.

“Kenapa tidak jajan?”
“Tau sendirilah bang, aku mana punya uang.” Aku menjawab sambil terkekeh kecil.
“Asal kamu tahu, harta yang paling berhaga yang dimiliki orang miskin adalah mimpi. Mereka lebih punya banyak mimpi dibandingkan yang memiliki uang dan tidak bermimpi.”

Kata-kata Bang Sabrian menekan dadaku. Entah benar atau hanya pelipur lara kata-katanya. Yang jelas aku sedikit mempercayai kata-katanya. Siapa tahu benar. Aku mulai menyusun mimpi.

***

“Bagi yang memilih saya, silahkan tepuk tangan dari tempat duduk anda.”

Semua orang bertepuk tangan, termasuk orang di sebelahku. Padahal mulanya ialah yang mengacungkan tangan mengajukan diri menjadi ketua. Kenapa malah ikut bertepuk tangan?

Terkejut. Tidak disangka seluruh mahasiswa memilihku. Tapi ini adalah tanggung jawab yang besar. Tanggung jawab yang besar diperuntukkan untuk orang yang besar pula. Kemampuanku belum siap. Kesepakatan Mahasiswa Minang kabau. Itulah nama suatu perkumpulan antar mahasiswa minang kabau yang kuliah di Universitas Al Azhar, Mesir. Seolah-olah dibuat merasa di kampung.

Mimpi ayahku terlabul sudah. Aku sudah di Timur Tengah. Setelah mimpi itu terkabulkan satu persatu aku mulai percaya dan mulai menyusun mimpi demi mimpi kedepan.

Pernah suatu ketika awal mulaku disini, aku berada di pertenghan bulan ramadan. Di sebuah mesjid kedutaan besar Indonesia-Mesir berdiri gagah seorang penceramah yang akan menyampaikan dakwahnya. Dalam hati aku mengatakan “Ramadan depan, aku yang berdiri disana.” Benar lagi kata ayahku. Suatu perlombaan pidato mencari da’i terbaik diantara mahasiswa indoneisa di Mesir. Aku coba untuk mengikuti. Alhasil hanya juara 3 yang dapat kuraih. Padahal juara 1 lah yang memiliki hadiah yang banyak.

Beberapa minggu kemudian, datanglah kabar. Bahwa si juara 1 hilang jejak entah kemana perginya. Berarti aku juara 2? Tidak berhenti disitu, si juara 2 harus kembali ke Indonesia sebab ayahnya sakit. Terkejutlah aku sang juara 1. Hadiahnya tidak main-main. Salah satunya adalah impianku ramadan lalu. Menjadi khatib tetap selama ramadan di masjid tempatku bermimpi. Benar lagi kata ayah.

Sebuah kata adalah keajaiban, bukankah begitu. Jangan sembarang berkata kau akan menjadi ini itu. Hati-hati jika itu buruk akan terjadi padamu. Syukurlah jika itu baik. “Mak, aku nanti akan pergi dimana ada pagar yang membatasi jurang bumi di ujungnya.” Itu bukan sembarang kata. Ingatkah takdir di hidup ini sudah ada garisnya dan kau hanya mengikuti garis hitamnya sambil berjalan menunduk ke bawah kemana garis itu membawamu pergi. Kata juga sebuah mimpi. Dan jangan lupa, ayah juga mimpi bagiku.

“Alamak… buku Mak Id dimana letaknya?”

***

 

Sebelumnya dimuat di Koran Rakyat Sumbar, 6-7 Oktober, hal. 13

 

Komentar

Baca juga:  Mobil Antik